Centhini - Kekasih yang Tersembunyi

Centhini: Kekasih yang Tersembunyi Centhini: Kekasih yang Tersembunyi by Elizabeth D. Inandiak


My rating: 4 of 5 stars

Pemaparan yang indah untuk Centhini. Tadinya saya pikir ini dari naskah asli tapi setelah saya baca keterangan dari penulis, ternyata lebih tepat disebut sebagai interpretasi penulis dari Serat Centhini. Serat Centhini yang asli rupanya terpotong-potong naskahnya karena masyarakat pada jaman dulu hafal dengan cerita yang dimaksud. Namun makin lama, generasi mudanya sudah tidak terlalu akrab lagi dengan hikayat-hikayat ini.

Interpretasi yang menarik dengan pertimbangan yang cukup matang dari penulis. Saya menangkap kesan penulis belajar banyak soal kebudayaan Jawa. Beberapa cerita peperangan mirip Babad Tanah Jawi dan ternyata memang diambil sebagian dari situ.

Terus terang saya tergerak oleh "empat puluh malam dan satu hujan". Amongraga dan Tembangraras saling menembang dan membuka rahasia tentang hidup, prahara, dan jalan Allah demi ilmu Kasampurnaan atau Kebahagiaan. Kata Amongraga pada Tembang Raras, "Cinta adalah Karya agung yang mengubah nafsu menjadi nafas. Itulah jalan kematian besar, kenikmatan di luar kenikmatan tubuh."

Di samping kesukaan hati saya pada Centhini, saya kurang setuju dengan "penggantian" sebagian cerita dari Serat Centhini. Dalam Serat Centhini yang asli, diceritakan Nyi Rara Kidul menyanyikan tembang rindu untuk Sultan Agung. Sedangkan dalam interpretasi penulis, posisi Nyi Rara Kidul diganti Sultan Agung. Jadi Sultan Agung lah yang diceritakan sakit rindu pada Ratu Pantai Selatan itu. Saya senang untuk mengetahui sudut pandang penulis. Interpretasi menjadikannya lebih kaya. Namun saya masih sedikit berharap kesesuaian dengan naskah asli lebih dijaga dan interpretasi digunakan untuk melengkapi "jembatan" yang hilang.

View all my reviews >>

0 comments: