Suede - Obsessions - My Insatiable One



One of my 90's heart-throbbing band!

Thought for the day: golden compass

Life is a restless tide; as we move, we are often in fear and doubt;
let's pray and cherish every breath we take;
let's synchronize ourselves with others, nature, life for we are one;
may we learn on our journey;
shall love, empathy, and compassion be our golden compass;
and may we land to the shore in peace and tranquility,
where hatred and ego shall jealously stare upon us.

Whom to Trust: Ourselves or Psychic?


image, courtesy of www.beinart.org

Guna-guna? Ramalan karier, jodoh? Sepertinya media kita dibombardir dengan iklan-iklan yang menawarkan jasa-jasa yang kita sebut 'paranormal'. Kalau mau dapat ramalan ngini nganu, tinggal kirim sms REG spasi nganu-nganu ke nomor tut tat tut. Saya cukup bertanya-tanya, "hari gini masih ada yang percaya beginian?" Ternyata pandangan naif saya salah. Kenyataan bikin saya kaget. Di sebuah page twitter milik seorang mentalis terkenal, banyak yang berkonsultasi tentang jodoh, karier, ilmu hitam, dan tetek bengeknya. Dari tweet sang pemilik account, saya mendapat kesan bahwa pertanyaan ini termasuk dalam service yang ditawarkan, alias selain mentalist, dia juga peramal/paranormal. Ternyata seorang yang pernah saya temui, seorang self-healer, cukup concern dengan pemberian jasa konsultasi semacam ini. Beresiko dikira mencari publisitas dan cari ribut, ia menyatakan ketidaksetujuannya secara terang-terangan, bahwa menanyakan soal takdir pada orang lain, entah itu paranormal atau mentalis, adalah tindakan yang bodoh. Saya setuju sekali dengan pernyataannya itu. Someone should take a stand on this maddest of the madness.

Dunia ramal meramal bukanlah dunia yang benar-benar asing bagi saya. Mantan pacar saya dulu waktu SMA adalah seorang peramal. Entah dengan kartu tarot, garis tangan, lepehan daun teh, atau apapun itulah. Saya tidak bilang dia tukang bohong, penipu, atau sebagainya. Segala sesuatu punya potensi kebenaran. Untuk membuktikannya, saya juga ikut-ikutan belajar, pakai kartu tarot. Namun setelah beberapa lama menggunakannya, saya ngeri sendiri. Siapa saya yang berhak untuk membacakan takdir orang lain. It felt as if I was overstepping God and it haunted me for most. Oleh karena itu, saya berhenti, tidak pernah mau menggunakannya lagi meski ada beberapa orang yang "memaksa" saya untuk kembali "berpraktek".

Sekali lagi, saya tidak bilang bahwa meramal itu dosa. Semua itu ada di tangan Tuhan, bukan manusia. Menyinggung soal ranah siapa, manusia itu dianugerahi dengan intuisi, suara hati yang senantiasa memandu kita dalam setiap langkah kita. Suara hati, yang saya percaya berasal dari Tuhan sendiri, akan membantu kita dalam menjalani hidup ini. Apalah arti sekolah kehidupan kalau kita tidak belajar, tidak mau mengambil resiko? Tanpa mau berpanjang-panjang lagi, saya pikir adalah sebuah kebodohan untuk menyerahkan kebebasan kita untuk mengambil keputusan, untuk jatuh dan bangkit, untuk belajar pada orang lain, yang notabene adalah manusia juga, bukan Tuhan. We are 'gifted' with our own intuition to lead us to The Path, I think it's deluding to grant power upon our life to another human being.

Saya tidak memaksa bahwa setiap orang harus setuju dengan pernyataan ini. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk menjadikan hal ini sebagai salah satu wacana pikiran kita. Hal ini agar nantinya ketika kita menghadapi masalah yang menghadapkan kita pada persinggungan ini, kita lebih siap, tahu, dan yakin dengan langkah yang kita ambil. To relinquish our power upon ourselves and give it to someone else, to believe or not to believe in the voice deep within ourselves.

Perawan ke Ginekolog: Disuruh Kawin


image, courtesy of www.feministing.com

Sebagai perempuan yang matang secara biologis namun berat badannya di bawah ambang normal, saya sering mengalami masalah dalam siklus menstruasi saya. Dulu, pacar saya pernah menyuruh saya untuk ke ginekolog. Akhirnya setelah berpikir-pikir panjang, saya mau pergi konsultasi. Namun orangtua saya, terutama ibu saya, sedikit menentang dan malah menyuruh saya ke dokter umum. Saya berargumen, dokter umum tidak punya peralatan dan metode pemeriksaan yang teliti untuk masalah rahim. Makanya, ada ginekolog, di samping dokter yang berurusan dengan kesehatan secara umum. Saya ingat, waktu itu ibu saya sempat mengadu pada ayah saya, “… dia kan masih gadis.” Ayah saya diam saja. Entah karena malas berargumen dengan ibu saya, atau ia menganggap seharusnya saya yang memutuskan. Sebagai orang yang dianggap dewasa, ayah saya memang sering menyerahkan keputusan di tangan saya. Karenanya, saya sangat senang untuk mengeksploitasi kesempatan itu untuk melakukan kesalahan serta belajar darinya. Sementara, ibu saya, sulit diyakinkan. Oleh karena itu, saya perlu mengadakan riset kecil-kecilan untuk bahan argumen saya, sebab bagaimanapun juga saat itu saya masih kuliah dan belum berpenghasilan sendiri. Dengan kata lain, saya masih butuh dukungan finansial dari orangtua saya.

Berbekal dengan niat itu, saya menelepon teman pacar saya dan dosen saya. Pertimbangan saya, teman pacar saya itu sudah dewasa dan pasti punya informasi soal ginekolog yang kredibel dan dosen saya itu orangnya cukup terbuka untuk ditanya-tanyai. Saya mengirim SMS ke mereka menanyakan referensi ginekolog. Reaksinya cukup mengejutkan, dan dari sisi yang lain, lucu juga. Yang merespon duluan adalah dosen saya. Tak saya duga, ia langsung menelepon saya dan menanyakan ada masalah apa. Dari nada suaranya, saya menangkap adanya kepanikan dan kekhawatiran. Ketika saya menjawab bahwa saya ingin memeriksakan siklus menstruasi saya yang tidak teratur, ia nampaknya lega dan ia minta waktu untuk bertanya pada istrinya. Sedangkan teman saya, seingat saya, ia tidak menjawab apa-apa. Tak lama kemudian, pacar saya menelepon dan ia cerita bahwa temannya mengirim SMS padanya, dan menanyakan, “Mau dibuang atau apa?” Saya cuma bisa geleng-geleng kepala dan maklum saja, mungkin karena dalam masyarakat kita, yang pergi ke ginekolog hanya yang bermasalah dengan tetek bengek kehamilan, entah mau bikin anak ataupun “buang”. Sekarang saya bisa tertawa namun saat itu, saya cukup dongkol sehingga saya membatalkan niat itu.

Setahun kemudian, setelah saya lulus dari fakultas saya yang tercinta (thanks God!), masalah siklus menstruasi itu bertambah parah. Tanpa perlu mendeskripsikan lebih jelas, siklus menstruasi yang tidak teratur itu sepertinya bertambah dengan masalah kewanitaan lainnya. Saya harus pergi ke ginekolog! Masalah jerawat saja pusing, masakan masalah yang krusial untuk masa depan “perburuan”, saya acuhkan. Karena SMS dari dosen saya hilang bersama HP saya yang wafat tenggelam di bak, saya harus mengumpulkan informasi lagi. Saya, cukup trauma dengan respon-respon yang saya terima setahun yang lalu, memutuskan untuk menggunakan fasilitas lain yang memungkinkan saya tidak perlu bertanya langsung: Google search! Untunglah ada internet dan Jerry Yang yang dengan jenius menciptakan search engine. Walaupun Google sekarang “raja” search engine, tak dipungkiri kerajaan itu pertama-tama dibangun oleh Yahoo.

Menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, memelototi layar sampai mata saya sakit, menginvestigasi beberapa klinik ginekologi dan review-review, akhirnya saya menulis di notes saya, alamat sebuah klinik ginekologi yang berada di Jakarta Selatan. Review nya cukup memuaskan dan konon terkenal dengan “keajaiban” medikalnya yang berhasil membuat istri seseorang tek dung dan dokternya yang ramah serta teliti dalam memeriksa. Walaupun saya tidak punya niatan untuk bikin anak, dari informasi ini, saya bisa membuat hipotesis, sepertinya dokter di sana cukup kredibel, dan kecil kemungkinan untuk salah diagnosa yang lagi-lagi mempengaruhi masa depan saya. Saat ini saya pikir untuk ke depannya saya tidak ingin punya anak namun saya membuka kemungkinan, siapa tahu saya berubah pikiran.

Langkah berikutnya, saya harus men-tackle keengganan ibu saya untuk merelakan labia mayora dan labia minora anak perempuan semata wayangnya beserta isinya dilihat-dilihat atau bahkan “dikobok” oleh ginekolog, entah perempuan entah laki-laki. Mudah saja sebenarnya. Saya menjelaskan resiko yang bisa dialami kalau menangani masalah ini dengan enteng. Seorang ibu, setelah melahirkan dan membesarkan anaknya, cukup normal untuk menginginkan seorang cucu. Saya bilang, sekali lagi menegaskan supaya tidak mengesankan harapan yang dibuat-buat, “Ma, kalau seandainya aku mau punya anak suatu hari nanti, terus gak bisa gara-gara takut ini itu, dan malah diperiksa dokter umum yang gak ahli soal rahim-rahiman, gimana?” Induce the emotion then the possibility of ‘yes’ will raise up to 95%. 5% berikutnya, informasi yang sifatnya rasional. Saya tinggal memberitahu ibu dan ayah saya tentang klinik “pilihan” saya beserta alasannya. Persis cara jualan obat. Bikin takut, baru memasukkan informasi mengenai obat yang ingin dijual.

Keesokan harinya, Sabtu, pk. 11.00, saya dan orangtua saya sampai ke klinik yang dimaksud. Saya mendaftar dan mendapat nomor urutan kesekian. Di sana, saya ditimbang berat badannya terlebih dahulu dan seperti biasa, yang sudah saya duga, saya ditanya mengenai informasi pasangan saya. Saya bilang, saya belum punya suami. Kemudian perawat di sana menginstruksikan pada saya untuk mengisi formulir dan nanti di bagian suami, dikosongkan saja. Informasi soal orangtua saya sudah cukup, katanya. Mungkin ia sudah cukup terbiasa sehingga ia tidak terbengong-bengong mengetahui saya belum bersuami. Indikasi yang bagus, pikir saya, mungkin remaja jaman sekarang terbiasa untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Ginekolog bukan “monopoli” tetek bengek kehamilan segala.

Karena giliran saya masih jauh, saya menunggu sambil memperhatikan sekeliling klinik tersebut. Klinik itu cukup ramai, kursi di ruang tunggu terisi penuh, didominasi oleh ibu-ibu muda yang tek dung. Banyak orang yang mengantri, salah satu indikasi bahwa klinik ini cukup kredibel sehingga orang-orang merelakan waktunya untuk melakukan pekerjaan yang paling membosankan dan melelahkan: menunggu.

Mencegah social anxiety attack, saya menyibukkan diri dengan majalah-majalah yang disediakan di sana. Hm, majalah kehamilan, parenting, hamil, gizi ibu dan anak, parenting. Tak antusias saya membaca majalah-majalah itu. Saya hanya membiarkan otak saya berkonsentrasi pada judul-judul artikel dan foto-foto di dalamnya. Isi artikelnya? Wallahualam, saya lewati begitu saja, soalnya judul artikelnya tidak berbicara pada saya. Bukannya saya tidak peduli soal parenting, saya saat itu sedang cemas dan pusing tentang kesehatan saya, tidak punya niat berlebih untuk menjajaki developmental psychology lagi yang ingin saya lupakan jauh-jauh. Setelah 4 ½ tahun berkutat dengan soal-soal psikologi anak, orangtua, dan sebagainya, hello, I’m human after all, give me a break! Menyadari bahwa majalah-majalah itu tidak berkontribusi apapun dan malah mendorong saya untuk makin uring-uringan, saya beranjak dari tempat saya duduk dan sibuk mencari-cari majalah tipe lain di rak majalah klinik tersebut. Hasilnya, saya kembali ke kursi saya dengan tangan hampa. Tidak ada majalah khusus wanita single ataupun remaja. Mungkin mayoritas pengunjung klinik ini bukan target segment majalah yang ingin saya baca, pikir saya. Tak ada jalan lain, nikmati saja detik-detik penantian. Time was immortal at that moment.

Akhirnya setelah dua jam bertarung dengan kebosanan, nama saya dipanggil. Saya masuk didampingi oleh ibu saya yang penasaran dengan konsultasi yang akan diberikan oleh sang ginekolog. Kami bertemu dengan seorang bapak-bapak tua yang cukup ramah. Ia bertanya, apa keluhan saya. Setelah saya menceritakan gangguan-gangguan yang saya alami, saya diminta untuk pergi ke sebuah ruangan di balik tirai untuk diperiksa. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan di monitor dan uji laboratorium, tidak ada masalah alias normal-normal saja. Mungkin gangguan saya dipicu oleh stress dan ia mengatakan pada saya bahwa saya tidak perlu terlalu khawatir soal gangguan-gangguan semacam ini. “Tenang-tenang saja.” Ibu saya mengiyakan dan mengompor-ngompori sikap saya yang dianggap terlalu paranoid. Batin saya, “iya, kalau sudah diperiksa, baru bisa tenang, mana mungkin saya bisa tahu sebenarnya itu gara-gara stress atau bukan, kalau tidak diperiksa, memangnya saya dokter.”

Lalu dokter itu bertanya lagi, “sudah punya pacar?” Saya jawab saja sudah, karena saya lelah dan ingin cepat-cepat pulang. Bad move. Saya malah dinasehati panjang lebar untuk cepat-cepat menikah. “Udah lulus, pacar ada, langsung saja nikah. Apa pacarnya tidak mau? Kalau pacarnya plin plan begitu, cari yang lain saja. Cepat kawin, tunggu apa lagi. Anak-anak jaman sekarang sibuk karier, lupa punya anak. Begitu udah ketuaan, baru pusing.” Buset, orangtua saya saja tidak meributkan tetek bengek perkawinan. Sementara saya kesal dalam diam, ibu saya tertawa-tawa saja. “Sial”, kata saya dalam hati.

Dalam perjalanan pulang, saya masih bertanya-tanya soal nasehat ajaib dokter itu. Mungkin ia benar-benar khawatir masa panen saya expired, atau mungkin juga ini masalah kapitalis saja. Kalau saya hamil atau mau punya anak, kemungkinan besar saya akan kembali konsultasi ke dokter itu bukan? Entah apapun maksud dokter itu, yang penting saya sudah berhasil mengatasi “ketakutan” saya: pergi ke ginekolog dan benar-benar tahu dengan pasti, bahwa saya baik-baik saja.

The Police - Don't Stand So Close to Me



The Police!!!!!

Tonight I'm an A Be Geh.

titik hati. titik nadi. titik hidup.


image, courtesy of diaryofayoungdesigner.blogspot.com

Kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan salah seorang sahabat saya. Sahabat yang dekat sekali dengan saya, sampai-sampai saya dikira pacaran dengan dia waktu semester dua lalu. Padahal, kenyataannya, dia juga sudah punya pacar, seorang perempuan mungil yang manis. Pertama-tama obrolan kami ringan-ringan saja, soal informasi baru, soal mobil keren yang ia kagumi di jalan. Rupanya seorang perempuan naik ferrari menantang dia balapan dan dia kalah (mobilnya kijang). Cukup memalukan buatnya untuk dikalahkan oleh seorang perempuan dalam bidang yang seharusnya dirajai laki-laki. Namun tidaklah lama kami membahasnya, obrolan berlanjut ke zona yang lebih personal.

Sebulan yang lalu dia bertemu dengan mantan pacarnya sewaktu sedang makan malam sendirian di sebuah daerah bilangan Jakarta. Mereka bertatapan untuk sekian lama. dari jarak yang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Perasaan teman saya langsung kacau balau. Memori masa lalu mulai bermain lagi di kepalanya, perasaan yang ia pendam, sampai-sampai ia tak kuat meneteskan air mata. Kemudian teman saya langsung ke mobilnya, melaju mobil sekencang-kencangnya. Tapi dia masih sempat mendengar mantan pacarnya berteriak memanggil namanya.

Teman saya punya kisah cinta yang mengagumkan dan menyentuh, yang membuat saya sedikit iri, yang membuat saya mengata-ngatai perempuan itu bodoh bila perempuan itu menyia-nyiakan cintanya. Teman saya mencintai perempuan itu dengan sepenuh hati sepenuh jiwa, sepenuh yang mungkin tidak bisa saya bayangkan besarnya. Dia menolak memeluk ataupun mencium mantannya (sewaktu berpacaran) agar ia bisa benar-benar merasakan perasaan yang murni, bukan fisik. Kontak fisik yang paling jauh, hanya mengecup kening ataupun rambutnya. Perempuan itu mengatakan bahwa ia butuh belaian fisik namun teman saya menjawab, "lebih dari yang kamu tahu, perasaanku lebih dalam."

Dan saya salah mengira perempuan itu bodoh. Ternyata keadaanlah yang memisahkan mereka. Agama mereka berbeda dan orangtua perempuan itu tidak bisa menerimanya. Teman saya ingin memperjuangkan cinta mereka tapi langkah teman saya terhenti, menyadari harapan orangtua perempuan itu yang sangat besar terhadap anaknya. Sahabat saya itu tidak mau menghancurkan hubungan orangtua-anak yang sudah terjalin sekian puluh tahun. Berbeda dengan orangtuanya yang mengasuh kekasihnya itu sejak kecil, sahabat saya baru beberapa tahun mengenal perempuan itu. Dan perempuan itu, menurut kabar temannya, masih mencari pengganti yang seperti teman saya. Mendengar kabar itu, teman saya hanya bisa tersenyum pahit.

Sampai sekarang, teman saya masih mengirim kado untuknya setiap ulangtahun. Perempuan itu menungguinya dengan gelisah setiap dirinya berulang tahun, menunggu hadiah dan perjumpaan dengan teman saya. Pernah suatu kali, teman saya pergi ke rumah mantan pacarnya untuk memberi kado ulang tahun dan menemukan mantan pacarnya sedang berdiri gelisah di depan pintu rumah sambil memegang foto teman saya. Melihat nya, teman saya langsung pergi. Ia meminta tukang sate yang ia temui di jalan untuk meminjaminya baju dan topi tukang sate berikut gerobaknya. Sebagai jaminannya, ia memberi uang Rp 50.000,00 dan menitipkan kunci mobil. Teman saya mendorong gerobak tukang sate melewati rumah mantan pacarnya. Perempuan itu sesaat menatapnya, namun kemudian mengalihkan pandangan. Mungkin ia mengira itu teman saya tapi ragu karena orang itu mengenakan baju dan topi tukang sate. Kemudian teman saya melemparkan bunga ke depan perempuan itu. "Neng, bunga neng." perempuan itu tersentak dan memanggil-manggil nama teman saya. Tapi teman saya sudah keburu lari mendorong gerobak itu yang, menurut pengakuannya, sangat berat.

Teman saya sampai sekarang mau bertemu dengannya. Namun ia tidak kuat menahan perasaan yang muncul setiap kali bertemu, ataupun hanya mendengar suara perempuan itu. Bahkan ketika ia menceritakan kisah ini pada saya, saya melihat ada genangan air di pelupuk matanya. Ia ingin menangis, menumpahkan perasaaannya di depan perempuan itu. Namun ia mengurungkan niatnya karena ia tidak mau membebani perempuan itu sebagaimana hatinya hancur dulu ketika melihat perempuan itu menangis di depannya. Sejak saat itu, ia tidak pernah bisa melihat perempuan manapun menangis.

Saat ini teman saya sudah menjalin hubungan yang baru. Pacarnya yang sekarang tahu kisah teman saya dan mantannya, termasuk perasaan teman saya terhadap mantannya. dan ia mengerti perasaan teman saya. Teman saya memang orang yang selalu menaruh seluruh perasaannya bila ia mencintai seorang perempuan. Ia bangga dengan perasaan yang ia alami dengan mantannya meskipun demikianlah akhirnya. Ia bangga karena ia telah mengalami titik hidup yang terindah. Titik hidup yang menjadikan seorang manusia, manusia. Perasaan kasih sayang yang tulus.


Reposted, Jakarta, 26 Juli 2006

corresponding with my effort on reviving my romantic state of mind

Yesterday in TIM: It's just A Crush


image, taken from here


Karena dua teman saya sudah posting duluan, saya, tidak mau kemakan omongan sendiri, akhirnya memberanikan diri menulis ini. Kemarin saya pergi bareng si Gadis Kuning dan sang Introvert jalan-jalan sekitar Menteng. Ketemunya di PS, tapi sok-sok nostalgianya di sekitaran Menteng. Kalau si Gadis Kuning di Djaktet, saya di TIM. Niatnya mau cari buku di Bengkel Deklamasi, tapi saya juga jadi ingat masa A Be Geh.

Waktu masih putih abu-abu, saya berdua dengan tandeman saya waktu itu hobi ke TIM. Awalnya tandeman saya yang memaksa saya pergi ke sana karena harga tiket bioskopnya murah, tapi lama-lama saya yang nagih dan gantian memaksa tandeman saya itu. Bukan, bukan masalah alasan pengin jadi seniman atau sok kreatif. Saya masih A Be Geh, untunglah saya masih mengalami masa-masa bau kencur. Sedikit masa-masa indah remaja di tengah sekolah yang isinya perempuan melulu, kecuali guru-gurunya, yang, believe me, it's unattractive to stare on except you're into teacher-students complex. Sampai mana saya tadi? Oh alasan. Melanjut memori-memori ABG, saya ke sana selain karena murah dan tempatnya adem, I had a crush on a tall sleek 'gondrong' dude there. Dia sering main game di dalam bioskop bareng teman-temannya. Waktu saya pertama kali melihat dia, dia pakai kaus kuning dipadu dengan jeans, rambut gondrongnya diikat satu ke belakang. Untunglah, kalau rambutnya diikat dua atau kuncir samping dan saya masih naksir, saya sudah mendaftarkan diri jadi pasien, bukan lagi masuk ke fakultas Psikologi. Major disorder is not for a rookie.

Saya sama sahabat saya itu cuma duduk-duduk aja, pura-pura ngobrol sambil ngelirik-ngelirik. Dari jaman A Be Geh sampai sekarang, saya sepertinya sudah mengembangkan bakat-bakat demen sama laki yang bikin orangtua saya deg-degan dan was-was. Saya ingat, waktu pertama kali saya mengenalkan pacar saya yang sekarang jadi mantan, ibu saya diam saja, ayah saya pura-pura ramah menyembunyikan ketidaksetujuannya. Maklum saja, pacar saya itu rambutnya gondrong, begeng berat, kantong matanya besar. No wonder parents suspected him as junkie. On the other hand, I deluded myself a little to think of him as a rockstar tho' he's a photographer slashed graphic designer. In fact, my friends thought that he looked like Steven Tyler who, I assumed, is a rockstar himself.

Back to my singing 180cm'ish heaven guy in yellow tee, kebiasaan itu berlangsung seminggu dua kali, dan berhenti pada saat yang punya hajatan untuk dilihat, tidak nampak-nampak lagi. Entah ke mana dan saat itu sekolah saya itu memaksa saya untuk belajar terus. Di tengah lautan itu, setiap hari masa ujian. Thus the fact that I was willing to sacrifice my time to go there, implied that it's a great deal for me. Could you imagine swimming in the sea of girls and had no boys to sweep off your feet, while Sinetron injected us with unreasonable expectation of love stories? Scoot scoot, bloody hell. It didn't break my heart as I had no idea what his name was, let alone who he was. He could be anything. Dare me not to imagine the most impossible ideas, but hey he might be Al Pacino's love child. Who knows, anyway?

Beberapa minggu terakhir ini, saya lumayan sering ke TIM dan sampai sekarang, belum pernah ketemu orang itu lagi. Kalau dipikir-pikir, bagus begini. Saya jadi masih punya space di masa remaja untuk berimajinasi. Siapa tahu kalau ketemu lagi, imajinasi saya pas dengan kenyataannya. Hehehe.Yesterday in TIM, I was having a crush on dozens of Mario Puzo's and Rendra's. Great authors, great works. I hope that someday I'll be able to write like them. Let it be not only a dream, as I believe that "when you really want something to happen, the whole universe conspires so that your wish comes true".(*


(* a quote from "The Alchemist" by Paulo Coelho

"Blasphemous Rumours"*


French revolution, storming the Bastille
image, courtesy of www.success.co.il


Takut. Cemas. Bingung. Mungkin dilema. Saya tidak tahu mesti menggunakan kosakata untuk mendeskripsikan perasaan saya. Hm, bukti bahwa bahasa manapun tidak bisa menggambarkan luasnya dan tak menentunya perasaan manusia, hingga akhirnya seorang penyendiri, terasing seperti saya berlindung di balik kata-kata kiasan. Yang mengenal saya mungkin memahami apa yang sebenarnya ada di pikiran saya. Yang tidak mungkin mencoba mengaitkan dengan pengalamannya namun pasti gagal jika mengartikannya dalam arti literal. Mungkin saya suka main teka teki, mungkin saja saya memang tidak punya padanan kata yang pas. Sekalipun saya bisa keluar dari 'pengandaian', sayalah yang ragu, sebab saya tidak pernah nyaman untuk benar-benar meletakkan diri saya seutuh dan sepolos-polosnya dalam persepsi orang-orang. Buat saya, persepsi itu harus kabur dan tidak boleh sejelas-jelasnya. Entahlah untuk kepentingan apa, mungkin untuk melindungi diri? Sebab informasi, menurut saya, adalah modal terbesar dan terutama untuk menyakiti dan menjatuhkan seseorang. Bukanlah saya cemas untuk dijegal orang dalam hal karier, pekerjaan, melainkan kehancuran hati adalah yang paling saya takutkan.

Namun pikiran dan hati saya telah berbulan-bulan bergulat, meminta saya untuk menuangkannya dalam sebuah deskripsi yang jujur, tentang perjalanan saya, orang-orang yang saya temui, kejatuhan, dan kehilangan. Hal-hal yang membuat saya tidak dapat tidur dan terus terjaga meski dalam pembicaraan dan minuman yang paling membius sekalipun. Entahlah saya tidak tahu. Hanya dalam beberapa hari terakhir ini, doronga tersebut semakin kuat. Saya, terus terang, kesulitan untuk membendungnya hingga saya kurang berselera, kurang bergairah dalam menjalani hari-hari saya. Dalam pertemuan termeriah apapun, hati saya sepi, pikiran saya ramai namun bukan dengan mereka, bukan dengan orang-orang yang saya jumpai. Persoalan sakit hati, jatuh, kehilangan, dan tetek bengeknya, seperti sengaja menyenggol hati saya yang baru patah, membangkitkan scene-scene yang ingin saya lupakan. Meski saya merasa telah memahami makna yang ingin disampaikan oleh Sang Sutradara, tetap saja giris hati saya saat mengingatnya. Entahlah, rasanya saya semakin pusing. Menulis sendiri saja, buat saya, seperti petualangan besar yang membangkitkan gairah, sensasi, namun juga debar khawatir, cemas, dan bayangan akan teror-teror yang akan dialami, extremely anxious on the start and the finish line. Thus, if I finally decide to proceed, I think, I'll have to endure this emotion blasphemy before, during, and after the ride, ck.



*Judul, diambil dari salah satu lagu lansiran Depeche Mode

Thought for The Day: Money vs Will



Michael Corleone: I saw a strange thing today. Some rebels were being arrested. One of them pulled the pin on a grenade. He took himself and the captain of the command with him. Now, soldiers are paid to fight; the rebels aren't.

Hyman Roth: What does that tell you?

Michael Corleone: It means they could win.


image, courtesy of www.htzfm.com

Kehilangan

Dalam hidup kita, segala sesuatu datang dan pergi. Sampai-sampai pepatah mengatakan kalau hidup kita ini cuma numpang lewat saja. Ketika sesuatu 'pergi', ada rasa kehilangan. Kita merasa bagian dari diri kita hilang. Setiap orang mempunyai cara mengatasi kehilangan yang berbeda-beda dan makna kehilangan itu sendiri pun sifatnya pribadi, karena pengalaman kita yang beragam. Membicarakan soal kehilangan, menurut saya, dapat membuat kita berpikir ulang dan merefleksikan hidup kita. Memeriksa kembali perjalanan hidup kita, apa yang telah kita alami, kita lakukan, kita rasakan, dan pikirkan. Oleh karena itu saya ingin mengajak kita semua untuk berbagi soal pengalaman kehilangan ini. Apa saja. Biar kita bisa belajar satu sama lain. Tapi kalau keberatan untuk diceritakan, jadikan saja renungan pribadi. :)

Sebagai pertanyaan pemancing, "Kehilangan apa yang paling kalian sesali dan kalau ada, kehilangan apa yang paling kalian syukuri?"

Sebuah Pesta di Malam Takbiran



Sudah seminggu ini saya bosan. Bosan terhadap apa? Saya sendiri juga tidak jelas. Mungkin bosan pada kejenuhan? Lah ribet banget yak. Tapi ya itu intinya, saya jenuh. Beberapa hari saya mendekam di rumah dan menenangkan kaki-kaki saya, meredam jiwa keluyuran saya. Kata ibu saya, saya orangnya tidak bisa diam di rumah. Saya anggap itu sebagai tantangan dan saya program kepala saya untuk duduk, tidur-tiduran di kamar, baca buku, nonton film. Akhirnya saya tidak tahan juga. Dengan dalih untuk diri saya sendiri, saya bilang ke ibu saya bahwa saya ingin keluar untuk membeli buku. Dalam ambang kebosanan saya, kemarin-kemarinnya lagi saya bikin kuis di ngerumpi dot com dan pemenangnya itulah yang akan saya beri hadiah. Saya tawarkan "Negeri 5 Menara" dan Mbah Ngasmuni (pemenangnya) setuju. Sebetulnya beli buku itu bisa nanti-nanti karena toh Tiki tutup mau Lebaran, menjelang malam Takbiran.

Akhirnya saya bermodalkan Rp 3500,00 perak naik busway, lurus-lurus saja, tidak pakai ribet, dari depan kompleks rumah saya ke PIM. Tapi sebalnya di sana yang ribet. Teman saya, sesama blogger, sudah memperingatkan kalau PIM bakal penuh dengan manusia-manusia yang mencari hiburan komersil. Saya mengiyakan itu dalam hati namun karena saya takut berjamur di rumah, saya keluar dan saya menghadapi 'kekacauan' itu juga akhirnya. Dalam kata-kata dan nasehat tampaknya mudah, berkubang dalam suasana nyata itu yang sulit. Akhirnya saya cepat-cepat menuju Gramedia. Kebetulan buku yang saya cari ada di dekat pintu masuk. Tepat ketika saya melangkah masuk, buku itu di depan mata saya. Saya ambil lalu saya bergegas ke kasir. Namun saya menghentikan langkah saya karena saya tidak ingin kehilangan waktu keluyuran barang sebentar saja. Kemudian saya langkahkan kaki saya menuju rak-rak novel, mengecek buku apa saja yang baru, apa wishlist saya diskon (ternyata tidak, hmph), melihat nama teman saya di belakang novel bersampul hitam bertinta putih "5 cm" dan nama teman saya "Venus" (sebagai reviewer) dengan tinta putih pula. Novel itu di depannya ada tulisan embossed 'best seller'. Iri sebentar, kemudian membayang-bayangkan kalau karya saya ada di toko buku juga. Peluncuran buku, publikasi, cemas-cemas harap apakah buku itu masuk kategori best seller atau discounted for half price. Tapi saya segera mengusir pikiran itu jauh-jauh sebab rasanya tidak pas saja memikirkan hal-hal semacam itu di hari libur, dan sirik itu benar-benar tidak bertema Ramadhan. Kalau diibaratkan main musik, nadanya sembrono alias mengacaukan harmoni.

Akhirnya saya menelepon teman saya yang rumahnya dekat PIM. Kebetulan dia ada di rumah, saya mampir ke rumahnya. Karena saya penginnya keluyuran, saya tidak ingin 'pindah' rumah, saya maunya ada di alam terbuka, ngeloyor tidak jelas, ngobrol ngalor ngidul di bawah langit. Saya sedang tidak berselera dengan atap bersisi empat, kubikel besar. Ingin rasanya bernapas di lapangan terbuka, menghirup udara yang tidak disaring oleh jendela. Oleh karena itu, dalam perjalanan menuju rumah teman saya, saya mengirim SMS pada teman saya yang saya sebut "raja" di TIM. Buat saya, TIM itu tempat yang menyenangkan. Udaranya enak, atmosfirnya bebas (mungkin karena di sana tempat hajatannya orang-orang kreatif), dan juga saya bisa cari-cari buku lama yang sudah tidak dicetak lagi di Bengkel Deklamasi (TIM).

Sekitar satu setengah jam saya di rumah teman saya itu, kemudian kami bertolak ke TIM. Menyenangkan! Seperti mengulang malam hujan badai di TIM, saat saya sedang berteduh, saya berkenalan dengan orang-orang dari Bali yang sedang berbisnis. Darinya saya mendapat cerita-cerita baru. Kemudian setelah hujan reda, Double J (teman saya) sudah sampai di TIM dan kami terus mengobrol sampai sahur. Bedanya, pada hari kemarin itu, suasananya malam takbiran dan kelakuan kami tidak segila malam sebelumnya. Lebih behave lah istilahnya. Tapi saya juga dapat kenalan-kenalan baru di sana, menikmati suasana takbiran yang hiruk pikuk namun tenang dalam hati. Mendengar suara bedug bertalu-talu meski hanya dalam rekaman, buat saya adalah peristiwa yang magis. Nada-nada dan tempo-tempo itu membawa suasana yang khusyuk dan damai.

Pukul setengah dua pagi, saya mengantuk karena di malam sebelumnya, saya kurang tidur. Saya jalan keluar bersama teman saya untuk menyetop taksi. Di depan TIM, ada dua orang polisi berjaga. Saya pikir, memangnya ada apa sampai-sampai ada polisi? Biasanya walau tengah malam, tidak pernah ada petugas hukum di sini. Beberapa menit kemudian, barulah saya tahu alasannya. Pawai konvoi orang-orang yang bersuka ria merayakan Takbiran dan datangnya Idul Fitri, hari yang Fitrah, hari kemenangan. Keriaan mereka bagaikan menular, saya yang tadinya ngantuk, ikut-ikut bersemangat. Peristiwa yang benar-benar menyentuh hati dan menyalakan setrum gairah hidup. Orang-orang berkumpul dalam euphoria kegembiraan, tanpa dendam, tanpa kemarahan. Pesta. Namun pesta harus berakhir, sebuah taksi tarif lama langganan saya lewat dan saya menyetopnya. Saya harus pulang.

Sepanjang perjalanan saya dalam taksi, saya melewati kawasan Menteng, dekat BB's. Jalanan macet, tersendat. Saya mulanya bingung ada apa, dan bapak supir taksi menerangkan pada saya bahwa mungkin orang-orang berkumpul untuk menyalakan petasan. Saya manggut-manggut saja dan memilih untuk melihat sendiri daripada bertanya-tanya terus. Setelah melaju tersendat berkali-kali, akhirnya saya melihat. Orang-orang berkumpul di sisi kiri jalan, duduk di atas mobilnya, menunggu dengan antusias. Di seberangnya (sisi kanan jalan), ada dua orang yang sedang mempersiapkan petasan yang diberdirikan di atas tanah, dijaga supaya tidak jatuh. Kemudian salah seorang dari mereka menyalakan sumbunya dengan lighter. Siuuuungg... Bum bum. Petasan meluncur ke udara, kembang-kembang cahaya kegembiraan menerangi langit. Melihat itu, saya sedikit bersyukur dengan kemacetan ini. Paling tidak, saya diberi kesempatan untuk ikut menyaksikan pesta ini, sebuah pesta yang saya harap akan menjadi permulaan bagi babak baru kehidupan manusia, tidak lagi berkubang dalam kebencian dan nafsu penghancuran, tetapi hidup baru yang diwarnai dengan cinta, persahabatan, dan kasih. Dalam hati, terselip sedikit harap, agar pesta ini tidak pernah berakhir.


image, courtesy of designflute.wordpress.com

Stok Gombal (17+)



1. Oh dinda, cintaku hanya untukmu (catatan: supaya dipercaya, bungkam dulu paduan suara mantan pacar dan cem-ceman)
2. Oh kakanda, cintamu bergayung padaku dan biarkan aku berlindung dalam parang paras cintamu. (catatan: kalau elu udah gak ganteng/keren lagi, boleh dong pindah ke lain hati)
3. Kamu bagaikan purnama menerangi gelap diriku. (catatan: relatif aman, klasik)
4. Tidak, dia cuma teman, hanya kaulah permata hatiku. (catatan: 'ngeles' karena dicurigai selingkuh)
5. Walau dia menyentuhku, hatiku hanya bergetar untukmu. (catatan: 'ngeles' selingkuh)
6. Aku tak bisa hidup tanpamu. Lebih baik kau bunuh saja aku. (catatan: pastikan anda berada di ruang kosong, untuk jaga-jaga saja)
7. Belahlah dada abang, jika kamu tidak percaya. (catatan: pastikan tidak ada benda tajam di sekitar)
8. Aku tak pernah mengenal cinta sebelum bertemu denganmu. (catatan: supaya dipercaya, bungkam dulu paduan suara mantan pacar dan cem-ceman)
9. Wajahmu mengalihkan duniaku. Wajahmu menghancurkan duniaku. Aku tidak tahu wajah lain selain wajahmu. (catatan: mungkin pas kalau anda agak buta karena mata dicolok sang pacar, makanya kalau lirik-lirik jangan pas sama pacar)
10. Duniaku kau guncang hanya dengan lirikan matamu. (catatan: mungkin akan lebih dipercaya kalau ngomongnya pas gempa bumi)
11. Senyummu bagai oase di padang gurun hatiku. (catatan: ngomong ini pas haus, biar bisa lebih menjiwai)
12. Kau begitu agung, hanya ibuku yang bisa menandingi agung jiwamu (catatan: gombal ala anak mami)
13. Aku ingin berenang di mata indahmu. (catatan: siapin bikini)
14. Apa kau tidak lelah? Semalam kau berlari-lari dalam mimpiku. (catatan: hati-hati ini udah diumbar banyak di SMS gratisan ataupun servis premium)
15. Kalau kau Julia, aku Romeo mu. (catatan: jauhkan si dia dari toko farmasi, jaga-jaga saja)
16. Kau terjun, aku terjun. (catatan: hati-hati apabila pasangan anda diduga hysteria)
17. Kalau kau bunga, aku kumbangnya. (catatan: relatif aman)

---- Danger Zone ----

18. Bibirmu menyalakan gairah hidupku. (catatan: siapin tungku, supaya benar-benar HOT)
19. Bang Oma saja pasti akan bertekuk lutut melihat kecantikanmu (catatan: hati-hati, pastikan pasangan anda terpaku pada anda, jadi dia tidak melirik ke bulu-bulu Bang Oma)
20. Serahkanlah tubuhmu dan jiwamu, maka akan kuberi kau singgasana cinta untuk selamanya (catatan: gombal untuk membujuk)
21. Kalau kau cinta padaku, pasti kau inginkan seluruh tubuhku seluruh jiwaku (catatan: gombal untuk memaksa)
22. Meski dia menyerangku dengan kepolosan tubuhnya, hatiku hanya bersimpuh padamu (catatan: ngeles selingkuh)

And it's called infatuation



Berjumpa dengan orang baru atau teman, tersipu-sipu, muka memerah, bagai mendengar lantunan merdu di hati saat pandangan bertemu. Apakah itu tanda kita jatuh cinta atau sebenarnya cuma kekaguman, yang lazim disebut infatuation? Sewaktu saya masih remaja, sering sekali saya merasakannya namun saya tidak mengerti dan saya malah berpikir bahwa saya ini begitu mudah jatuh cinta. Setelah saya bertemu dengan bermacam-macam orang dan jatuh cinta sebenar-benarnya, barulah saya tahu ini hanya infatuation belaka. Rasa kagum terhadap kedewasaan, cara pandang, keluasan wawasan, dan sebagainya bisa memicu debar tak juntrungan saat bertemu dengan orang ini atau kita jadikan alasan untuk memikirkan ataupun menebak-nebak kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Ketika saya mengalami letupan-letupan itu, mula-mula saya pikir jangan-jangan saya jatuh cinta. Pikiran saya biasanya paranoid dan pusing sendiri. Tapi lama kelamaan, perasaan itu pudar dan berganti jadi perasaan yang tidak menggelegak, lebih mengayun seperti persahabatan. Apakah itu artinya faktor waktu jadi pembeda antara infatuation dan jatuh cinta? Mungkin. Butuh waktu untuk mengikat komitmen dengan seseorang. Namun waktu bukan inti dari teka-teki ini. Waktu hanyalah medium bagi kita untuk saling berproses. Perlu pengenalan, komunikasi, dan usaha untuk saling memahami agar kita bisa dengan yakin berkata “I love you” pada orang yang ditaksir sehingga kita tidak gombal kata. Kita sebagai manusia, seringkali tertipu dengan gejolak rasa sendiri dan mengartikannya sesuai dengan keinginan kita sendiri sehingga mengaburkan perasaan yang sesungguhnya.

Saya pernah jatuh cinta. Alangkah manisnya, saat pertama kali berSMS, telepon, dan kencan, semudah itu kata “I love you” meluncur dari kami berdua. Kemudian di antara kami ada penyesalan karena ternyata perasaan kami mungkin dipicu oleh rasa sepi kami dan dambaan kami pada seseorang yang bisa mendampingi kami dalam susah maupun senang. Walau pada akhirnya dalam proses, kami saling mencintai namun kata-kata “I love you” itu jadi momok bagi kami. Kami dulu pernah mengumbar tiga kata sakti itu pada saat kami mengalami infatuation dan akhirnya ‘mantra’ itu kehilangan keajaibannya dalam perkembangan hubungan kami selanjutnya. Dalam proses, kami saling mengenal, saling menyesuaikan diri, dan pada akhirnya kami saling mencintai namun kami tidak pernah mengucap tiga kata itu lagi. Ragu-ragu. Kami takut salah, kami takut menerjemahkan rasa, takut berbohong pada diri dan pasangan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan komunikasi saya dan pasangan saya tidak lancar, tersendat, dan akhirnya benar-benar mandeg.

Begitu mudah kita terpesona, begitu mudah kita terlena akan bayang-bayang dongeng. Namun kita, manusia, selain dianugerahi rasa, juga diberi pikir, supaya kita bisa bermimpi menyentuh langit sekaligus menapak tanah. Karunia keseimbangan, agar kita tidak terombang ambing pada langit maupun bumi. Kata cinta adalah mantra ajaib pengikat dua insan yang terpisah hingga jadi satu hati dan satu rasa. Agar keajaiban itu terus terasa dan menyentuh kita pada titik yang tepat, kita harus menjaganya dan membuatnya sakral. Ucapkanlah kata cinta, pada saat kita benar-benar memaknai kata itu. Dalam proses, dalam perjuangan, dalam komunikasi dan usaha saling memahami, kita akan mengenal cinta yang tumbuh. Menurut saya, bukan pada saat ada benih itu kita mengucap cinta, namun ketika telah merekah, barulah saat yang tepat bagi kita untuk berkata “Aku cinta kamu“. Hal ini, sebab ketika masih benih, itu hanyalah benih yang belum tumbuh sehingga ketika kita mengucap cinta, kita bagaikan memaksakan kehendak kita. Namun ketika cinta itu telah tumbuh, merekah, dan mengakar, barulah kata cinta itu tepat, menggambarkan, mengekspresikan, dan menaut gelombang rasa dan jiwa yang tenang dalam harmoni inti hidup manusia.


image, courtesy of www.buzzle.com

Thought for the day: we need revolution!



Does our society bring out the worst in its member? We need revolution then. Now.

If only the immense power of negativity is transferred to positivity, life will be better and there will be no slashing wrist tragedy.

Let madness be only for love & not hatred.
To forgive and to accept
To let go but let forsaken not be
To weep with no anger
Compassion
Love

So prayer will be, to withhold and repent all anger.
We cleanse ourselves not to stain it again.


image, courtesy of www.poster.net

A Portrait of the Artist as a Young Man (James Joyce)

Portrait of the Artist As a Young Man (Wordsworth Classics) Portrait of the Artist As a Young Man by James Joyce


My rating: 5 of 5 stars
Portrait of the Artist as a Young Man told us a story about and through the lens of an Irish boy, named Stephen Dedalus. It's pretty much an autobiography of the adolescence life of Stephen Dedalus who would reappear in one of Joyce's phenomenal work, Ulysses. Stephen Dedalus' character, more or less, was based on Joyce himself as a lot of autobiographical details in Portrait matched with his life.

Some of the reviews I read protesting about the lack of time and place sequential description. As I read the book pages by pages, I come to this sense that time and place is an outer world and in this matter, they are less important than what's going on in Dedalus' mind. Joyce made a point through Dedalus.

- Yes, Stephen said, smiling in spite of himself at Cranly's way of remembering thoughts in connexion with places


In other words, Portrait focused on psychological reality. This is the strongest point of this book. How Dedalus' restless mind saw the world, wandered, stumbled upon nets of his family, politics, and religion, encountered what-so-called sin, felt impure and fear of hell and God, forced himself to display obedience to have his soul lifted up, but in the end he realized he was prisoner of culture and what the society expected him to be. This revelation came to him after he was being rewarded for his obedience. He imagined himself to be the most respectable figure but weary of obedience. Then he found what freed him the most, who he was, what he wanted to do, and for what he would stumble and fall.

As a young man, he saw through the world through the glasses of philosophers. Many of them were Catholic's thinker and this was 'normal' because as a young man, he had not yet experienced life on his own. However, this book signified Dedalus' departure from what had restrained him for most.

A well-written book, using magnificent and beautiful words, complex enough, profound, and daring in poetic way. I love love love this book and can't wait to read Ulysses. Hope that I'll find a copy in bookstores.

Regarding Joyce: is this a man whom Jung diagnosed as a 'diving' schizophrenics? He swam in the 'yellow' border of madness and achieved profoundness & beauty. 'Yellow' hell!
View all my reviews >>



...Ulysses
I've found a new way
Well, I've found a new way, baby

Oh, oh then suddenly you know
You're never going home...

Thought for the day: what a trade!



Why are we being frugal to praise people and generous to mock? Does an act of uplifting people threat our self-worth, while an act to trash people around legitimates our self-concept? In other words, we have to commit one of the seven deadly sin, pride it is, to feel good about ourselves. What a trade!


image, courtesy of www.chorleoni.org