fashion-freak-wannabe

Saya suka sekali fashion! Hampir setiap kali online, saya membuka website-website fashion. Urutannya, e-mail. Kedua, friendster. Ketiga, antara www.style.com, www.instyle.com, atau www.eonline.com/fashion. Saya juga langganan nonton style channel. No 43, kalau pake provider kabelvision.

08 Undoubtly I love to dress up. Bereksperimen sana-sini. Misalnya, oversized tee The Beatles warna hitam (XXL), dipadu ikat pinggang pita besar Giordano (warna fuschia), dan ballerina flat shoes (brown nubuck). Yeah, saya jadikan dress (mumpung saya orangnya pendek). Alasan saya? Selain urusan pengekspresian kreativitas, urusan duit juga masuk hitungan.

Reaksi orang macam-macam: ada yang bilang 'aneh', diam saja tapi melotot, ada juga yang bilang 'bagus'. Saya akui, eksperimen saya juga tidak selalu berhasil. Di depan cermin, saya berusaha bilang ok and it's work, but only for a while. Di tengah jalan, saya baru menyadari bahwa eksperimen saya gagal. Awalnya saya risih, tapi lama-lama biasa saja. Toh saya tak mungkin telanjang kan. Hehehe.

Betapa rese-nya saya terhadap penampilan saya. Tapi ternyata saya masih punya energi untuk orang lain. Saya bisa sibuk memaki-maki dalam hati kalau ada orang yang pakaiannya salah (menurut saya lho). Saat saya duduk di bus Transjakarta, saya pernah lihat sekelompok remaja laki-laki bergaya punk. Salah satunya ada yang pake anting ala punk, T-shirt ketat, celana pendek, dan stocking. Saya sebenarnya suka melihat orang yang berani tampil beda. Tapi kali ini saya sakit mata. Stocking-nya bolong-bolong. Hampir sobek malah. Rasanya saya pengin bilang sama dia, "saya masih punya stocking nganggur di rumah, kamu mau?" Padahal siapa tahu dia senang begitu. Bahwa stocking bolong punya arti sendiri buat dia. Tapi tetap saja saya gemas.

Kalau dipikir-pikir lagi, saya juga begitu untuk urusan selain fashion. Saya merasa bahwa standar saya menyimpang dari norma umum dan tentunya semua yang menyimpang bisa saya terima juga. Nyatanya tidak. Saya berusaha mencocokkan segala sesuatu sesuai dengan standar saya. Saya susah menerima bahwa orang punya standar yang beda dengan saya. Penerimaan saya terhadap sesuatu mungkin lebih besar daripada orang pada umumnya. Tapi begitu ada hal-hal yang busat saya kelewatan, saya bisa sama cerewetnya dengan ibu-ibu tukang gosip.

Sekarang mungkin saya belum merasa capek dengan kebawelan saya. Nanti-nanti belum tentu. Jangan-jangan nanti saya stres sendiri gara-gara orang lain. Padahal orang yang saya pusingkan, nyantai-nyantai saja. Ketika saya ributkan dengan orang itu. yang ada malah jadi masalah, yang bisa jadi sebenarnya bukan masalah tapi saya ruwetin sendiri.

Boros energi dong. Tenaga saya yang bisa saya gunakan untuk hal-hal yang berguna, tersedot untuk masalah yang tidak ada ujungnya. Siapa tahu kalau saya tidak begitu, saya sekarang sudah bisa jadi ambassador, penulis, aktivis, fashion stylist (?) atau apa sajalah yang bisa membuat saya bangga pada diri saya.

Intinya, lihatlah ke dalam dulu. Seperti sebelum belanja, kita mengecek dulu apa yang sudah habis di dalam rumah. Apa yang kita butuhkan. Sebab jika tidak, kita akan terdorong impulsivitas berbelanja dan akhirnya uang terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tak perlu. -o-


Marc_jacobs_fall_2007_01 My lust: Marc Jacobs - Fall 2007

0 comments: