To Wait: Friend or Foe?

Menunggu. Kata yang kerap terdengar di kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang membuat kita menunggu. Menunggu pacar menjemput pada malam minggu. Menunggu pengumuman kelulusan. Menunggu sale barang-barang keren di mall. Menunggu mendapat uang jajan. Menunggu waktu kuliah selesai. Menunggu opera sabun diputar setiap minggu. Menunggu mendapat giliran antrian. Menunggu jawaban dari pertanyaan yang diajukan ataupun pertanyaan yang belum diajukan (tapi anehnya mengharap dijawab). Menunggu waktu untuk mati.

Menunggu, buat saya, lebih melelahkan, lebih berat daripada pekerjaan manapun. Saya lebih senang disuruh berlari mengelilingi lapangan 345 kali, membersihkan kamar yang super berantakan, mengobok-ngobok wc, menyuapi anak kecil makan, menyulam, menjahit, ataupun pekerjaan-pekerjaan lain yang saya benci. Namun tak ada yang lebih menyebalkan, mengesalkan, dan mengiris-ngiris nadi daripada menunggu. Ketika menunggu, saya tampak seperti orang bodoh karena terkadang saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya diam seperti tanpa tujuan. Apapun yang saya lakukan selama menunggu menjadi hal-hal yang tidak beralasan. Dan hal tersebut bertentangan dengan prinsip hidup saya yang menegaskan bahwa harus ada alasan untuk segala sesuatu. Memang ada alasan, yaitu untuk mengisi waktu selama menunggu. Akan tetapi alasan itu tidak cukup kuat untuk membuat saya puas dengan keadaan hidup saya pada saat itu.

Namun saya sadar, betapapun saya membencinya, menunggu merupakan kodrat manusia. Hampir setiap hari saya menunggu. Terkadang saya bisa menghadapinya dengan senyum, dengan pikiran positif yang cemerlang, mengisi waktu dengan melakukan hal-hal berguna (walaupun sedikit dipaksakan), seperti membaca buku. Akan tetapi ada batas-batas toleransi tertentu yang tak bisa saya tembus. Ketika membaca buku, saya sadar bahwa saya sedang menunggu sehingga walaupun buku itu pada masa normal menarik perhatian saya, saya sudah bosan dalam waktu yang kira-kira/relatif singkat.

Mengapa saya harus menunggu? Mengapa menunggu sepertinya hal yang mutlak? Seberapa penting menunggu? Apakah dengan tidak menunggu, saya mati? Karena keterbatasan dunia ini, manusia harus menunggu. Seperti pada saat ingin membeli tiket busway, orang perlu menunggu karena petugas loket pendaftaran cuma beberapa dan tidak mungkin menangani semua pelanggan sekaligus. Saya harus menunggu untuk tahu kapan saya mati karena manusia tidak punya kapabilitas untuk membuka buku takdir. Saya harus menunggu untuk mendapat uang jajan karena saya belum mampu mencari penghasilan sendiri sementara orangtua saya perlu melakukan penyusunan alokasi uang sehubungan dengan keterbatasan penghasilan mereka. Saya harus menunggu untuk mendapatkan fotokopi bahan kuliah karena bahannya hanya satu dan teman saya yang ditugaskan untuk memfotokopi juga punya keterbatasan waktu dan ia masih harus menunggu antrian di tempat fotokopi. Saya harus menunggu pacar ketika ia harus menempuh perjalanan tertentu untuk bertemu dengan saya. Belum lagi kalau jalanan macet. Saya harus menunggu reaksi gebetan karena saya tidak bisa mengetahui isi hati orang tanpa dia mengkomunikasikannya (baik melalui kata-kata ataupun tindak tanduk lainnya) dan dia sendiripun punya keterbatasan yang sama sehingga harus melakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Saya harus menunggu untuk tahu hasil kuis statistik lalu karena dosennya sendiri punya keterbatasan waktu dan tenaga sehingga ia harus mencari waktu yang tepat untuk memeriksa pekerjaan mahasiswanya. Kesimpulannya, banyak alasan yang membuat kita harus menunggu dan oleh karena itulah, menunggu menjadi sesuatu yang penting bagi manusia, termasuk saya.

Mengapa menunggu begitu sulit dan melelahkan? Mengapa ketika kata ini terlintas, saya langsung merasa lemas dan sedikit banyak pesimis? Sebab menunggu membutuhkan kesabaran! Dan saya tidak punya kualifikasi yang membanggakan dalam hal tersebut. Saya selalu mengagumi orang-orang yang sabar.

Kesabaran kunci utama dari menunggu. Mengapa sangat sulit untuk dimiliki? Mungkin karena kita sudah terlalu terbiasa dengan proses yang begitu cepat dalam hidup kita. Ketika bekerja, kita dituntut untuk selalu mobile, mencakup kecepatan dalam menyelesaikan masalah. Kecepatan dalam menemukan solusi dan mengeksekusi solusi tersebut. Contohnya, dalam mengerjakan kuis statistik, waktu yang diberikan sangat singkat. Keterbatasan waktu tersebut mendorong para mahasiswa untuk bekerja dengan cepat. Menemukan konsep yang tepat untuk menjawab soal dan menuliskan jawaban yang diperoleh dari pencocokan dengan konsep itu. Ditambah lagi dengan teknologi yang sangat mempercepat perputaran hidup kita. Internet membuat kita dapat memperoleh berbagai macam informasi dalam waktu yang singkat. Perkembangan iptek telah membuat hidup kita terstandarisasi oleh pentingnya waktu. Dalam hal ini, mendorong kita untuk selalu cepat.

Terkadang kita begitu tertekan oleh standar ini, sehingga kita melakukan sesuatu terburu-buru. Kita lupa bahwa tidak ada hal yang pasti di dunia ini, semua relatif. Begitu pula, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan 'cepat'. Terkadang butuh waktu yang lebih untuk menyelesaikannya. Bukan berarti lalai, melainkan merupakan strategi yang bijaksana. Kita perlu sedikit mengurangi agresivitas kita dan menunggu. Di sini kesabaran kita harus mengambil perannya.

Kesabaran dapat kita pelihara pertama-tama dengan menyadari bahwa sabar bukan berarti pasrah. Sabar adalah suatu proses yang menyebabkan proses menunggu berhasil dengan baik. Menunggu berbeda dengan pasrah. Pasrah adalah keadaan helpless yang disebabkan oleh menyerah, merupakan proses pasif. Menunggu adalah proses aktif yang seringkali tampak pasif. Disebut aktif dalam konteks merupakan sebuah usaha untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Tidak mudah 'mencabut' diri kita yang selalu 'cepat' dan menjadi pribadi yang sabar. Kesabaran bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin kita miliki asalkan kita punya kesadaran atas pentingnya kesabaran menunggu dan kita punya keinginan yang kuat untuk melaksanakan hal yang kita anggap terbaik itu.

0 comments: