pet theory of free love

saya baru selesai baca Beauty in Disarray. awalnya saya pikir bagus. kata pembukanya bilang bahwa kecantikan ada di ketidaksempurnaan, kalau ada yang cantik sempurna maka sesuatu itu adalah palsu. novel itu bercerita tentang kehidupan Noe Ito, seorang perempuan yang berhasrat tinggi untuk mengangkat derajat kaumnya. kesukaannya membaca. lain daripada perempuan Jepang pada zaman Taisho (saat itu), ia tidak suka berurusan dengan kerjaan rumah. menurutnya, perempuan tidak bisa maju kalau terus-menerus dikekang urusan domestik semacam itu.

di buku itu juga diceritakan tentang majalah feminis pertama di Jepang, judulnya Seito (Blue Stocking). pendiri majalah ini, seorang feminis juga, namanya Raicho Hiratsuka. dulu perempuan ini terkenal karena insiden bunuh diri. dia mau bunuh diri dengan kekasihnya yang sudah beristri. tapi dia tidak punya perasaan dengan kekasihnya. dia hanya bilang, dia mau bunuh diri karena dia yang mau. tidak ada hubungannya dengan laki-laki.

majalah itu sukses dan sangat berpengaruh di Jepang. tapi sejak dia jatuh cinta dengan laki-laki lebih muda 5 tahun, Hiroshi, artikel majalahnya mulai tidak bermutu dan penerbitannya sering kacau. akhirnya majalah ini diambil alih oleh Noe Ito. di tangan Noe, majalah ini berakhir karena Noe bukan perempuan yang benar-benar intelek dan dia sering mengambil keputusan yang salah.

Noe menikah tiga kali. Yang pertama, dijodohkan tapi dia kabur setelah menikah. Yang kedua, guru bahasa Inggrisnya, Tsuji. Yang ketiga, Sakae Osugi, sosialis anarkis yang sering diburu-buru polisi. Dengan suami ketiganya ini, Noe mati disiksa oleh polisi.

Osugi sendiri sudah punya istri, namanya Yasuko. Simpanan satu orang, namanya Ichiko Kamichika. Ichiko ini perempuan yang sukses, reporter perempuan pertama di Jepang. Intelektualitasnya jauh di atas Noe. Masing-masing dari perempuan itu tahu Osugi punya perempuan lain.

Hubungan segiempat ini, bagi Osugi, eksperimen pet theory of free love. Menurut dia, kesetaraan gender hanya bisa dicapai dengan free love. Ada tiga syarat. Pertama, masing-masing pihak harus independen secara ekonomi. Kedua, masing-masing pihak tinggal terpisah. Ketiga, masing-masing pihak mesti menghormati hak pasangannya untuk punya pasangan lagi.

Tapi ketiga syarat ini tidak terpenuhi. Yang pertama, Osugi sering minta uang pada Ichiko yang lebih mapan. Yasuko dan Noe bergantung pada Osugi sepenuhnya secara ekonomi. Kedua, Osugi dan Noe tinggal serumah. Ketiga, Ichiko marah besar ketika tahu Noe jadi simpanan Osugi juga. Dari awal, Ichiko menganggap teori Osugi cuma bentuk egoisme lelaki. Singkat kata, eksperimen ini gagal. Ichiko cemburu buta dan berusaha membunuh Osugi. tapi untungnya Osugi selamat.

Menurut saya, kalau dilihat tujuannya, teori ini konyol. apa hubungannya free love dengan kesetaraan gender? Kalau salah satu pihak sebenarnya tidak bisa menerima dan terpaksa mengiyakan, bukannya jadi ada posisi yang agresif dan submisif? Memang apa salahnya dengan kesetiaan? Bukankah untuk mencapai kesetaraan gender (setidaknya dalam hubungan), yang paling penting itu kesepakatan masing-masing pihak? Terserah, mau open relationship (free love) atau closed relationship.

Kalau mau dilihat dari pendapat saya pribadi, kalau mau menerapkan teori ini, sekalian saja tidak usah punya pasangan. Seperti one night stand saja. Kalau punya pasangan yang relatif tetap, salah satu pasangan bisa punya demand yang lebih. Misalnya kalau kangen, inginnya ketemu dan pasangannya seperti ada kewajiban juga untuk menyediakan waktu ketemu, kalau mau hubungannya bertahan. Nah kalah saat itu, dia lagi janjian ketemu cem-ceman yang lain? Gaswat kan bagi-bagi waktunya. Saya teh... mau hidup yang tenang aja... Damai.... Dunia ini udah banyak perang, kok mau ditambah lagi.. 

0 comments: