Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Whom to Trust: Ourselves or Psychic?


image, courtesy of www.beinart.org

Guna-guna? Ramalan karier, jodoh? Sepertinya media kita dibombardir dengan iklan-iklan yang menawarkan jasa-jasa yang kita sebut 'paranormal'. Kalau mau dapat ramalan ngini nganu, tinggal kirim sms REG spasi nganu-nganu ke nomor tut tat tut. Saya cukup bertanya-tanya, "hari gini masih ada yang percaya beginian?" Ternyata pandangan naif saya salah. Kenyataan bikin saya kaget. Di sebuah page twitter milik seorang mentalis terkenal, banyak yang berkonsultasi tentang jodoh, karier, ilmu hitam, dan tetek bengeknya. Dari tweet sang pemilik account, saya mendapat kesan bahwa pertanyaan ini termasuk dalam service yang ditawarkan, alias selain mentalist, dia juga peramal/paranormal. Ternyata seorang yang pernah saya temui, seorang self-healer, cukup concern dengan pemberian jasa konsultasi semacam ini. Beresiko dikira mencari publisitas dan cari ribut, ia menyatakan ketidaksetujuannya secara terang-terangan, bahwa menanyakan soal takdir pada orang lain, entah itu paranormal atau mentalis, adalah tindakan yang bodoh. Saya setuju sekali dengan pernyataannya itu. Someone should take a stand on this maddest of the madness.

Dunia ramal meramal bukanlah dunia yang benar-benar asing bagi saya. Mantan pacar saya dulu waktu SMA adalah seorang peramal. Entah dengan kartu tarot, garis tangan, lepehan daun teh, atau apapun itulah. Saya tidak bilang dia tukang bohong, penipu, atau sebagainya. Segala sesuatu punya potensi kebenaran. Untuk membuktikannya, saya juga ikut-ikutan belajar, pakai kartu tarot. Namun setelah beberapa lama menggunakannya, saya ngeri sendiri. Siapa saya yang berhak untuk membacakan takdir orang lain. It felt as if I was overstepping God and it haunted me for most. Oleh karena itu, saya berhenti, tidak pernah mau menggunakannya lagi meski ada beberapa orang yang "memaksa" saya untuk kembali "berpraktek".

Sekali lagi, saya tidak bilang bahwa meramal itu dosa. Semua itu ada di tangan Tuhan, bukan manusia. Menyinggung soal ranah siapa, manusia itu dianugerahi dengan intuisi, suara hati yang senantiasa memandu kita dalam setiap langkah kita. Suara hati, yang saya percaya berasal dari Tuhan sendiri, akan membantu kita dalam menjalani hidup ini. Apalah arti sekolah kehidupan kalau kita tidak belajar, tidak mau mengambil resiko? Tanpa mau berpanjang-panjang lagi, saya pikir adalah sebuah kebodohan untuk menyerahkan kebebasan kita untuk mengambil keputusan, untuk jatuh dan bangkit, untuk belajar pada orang lain, yang notabene adalah manusia juga, bukan Tuhan. We are 'gifted' with our own intuition to lead us to The Path, I think it's deluding to grant power upon our life to another human being.

Saya tidak memaksa bahwa setiap orang harus setuju dengan pernyataan ini. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk menjadikan hal ini sebagai salah satu wacana pikiran kita. Hal ini agar nantinya ketika kita menghadapi masalah yang menghadapkan kita pada persinggungan ini, kita lebih siap, tahu, dan yakin dengan langkah yang kita ambil. To relinquish our power upon ourselves and give it to someone else, to believe or not to believe in the voice deep within ourselves.

titik hati. titik nadi. titik hidup.


image, courtesy of diaryofayoungdesigner.blogspot.com

Kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan salah seorang sahabat saya. Sahabat yang dekat sekali dengan saya, sampai-sampai saya dikira pacaran dengan dia waktu semester dua lalu. Padahal, kenyataannya, dia juga sudah punya pacar, seorang perempuan mungil yang manis. Pertama-tama obrolan kami ringan-ringan saja, soal informasi baru, soal mobil keren yang ia kagumi di jalan. Rupanya seorang perempuan naik ferrari menantang dia balapan dan dia kalah (mobilnya kijang). Cukup memalukan buatnya untuk dikalahkan oleh seorang perempuan dalam bidang yang seharusnya dirajai laki-laki. Namun tidaklah lama kami membahasnya, obrolan berlanjut ke zona yang lebih personal.

Sebulan yang lalu dia bertemu dengan mantan pacarnya sewaktu sedang makan malam sendirian di sebuah daerah bilangan Jakarta. Mereka bertatapan untuk sekian lama. dari jarak yang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Perasaan teman saya langsung kacau balau. Memori masa lalu mulai bermain lagi di kepalanya, perasaan yang ia pendam, sampai-sampai ia tak kuat meneteskan air mata. Kemudian teman saya langsung ke mobilnya, melaju mobil sekencang-kencangnya. Tapi dia masih sempat mendengar mantan pacarnya berteriak memanggil namanya.

Teman saya punya kisah cinta yang mengagumkan dan menyentuh, yang membuat saya sedikit iri, yang membuat saya mengata-ngatai perempuan itu bodoh bila perempuan itu menyia-nyiakan cintanya. Teman saya mencintai perempuan itu dengan sepenuh hati sepenuh jiwa, sepenuh yang mungkin tidak bisa saya bayangkan besarnya. Dia menolak memeluk ataupun mencium mantannya (sewaktu berpacaran) agar ia bisa benar-benar merasakan perasaan yang murni, bukan fisik. Kontak fisik yang paling jauh, hanya mengecup kening ataupun rambutnya. Perempuan itu mengatakan bahwa ia butuh belaian fisik namun teman saya menjawab, "lebih dari yang kamu tahu, perasaanku lebih dalam."

Dan saya salah mengira perempuan itu bodoh. Ternyata keadaanlah yang memisahkan mereka. Agama mereka berbeda dan orangtua perempuan itu tidak bisa menerimanya. Teman saya ingin memperjuangkan cinta mereka tapi langkah teman saya terhenti, menyadari harapan orangtua perempuan itu yang sangat besar terhadap anaknya. Sahabat saya itu tidak mau menghancurkan hubungan orangtua-anak yang sudah terjalin sekian puluh tahun. Berbeda dengan orangtuanya yang mengasuh kekasihnya itu sejak kecil, sahabat saya baru beberapa tahun mengenal perempuan itu. Dan perempuan itu, menurut kabar temannya, masih mencari pengganti yang seperti teman saya. Mendengar kabar itu, teman saya hanya bisa tersenyum pahit.

Sampai sekarang, teman saya masih mengirim kado untuknya setiap ulangtahun. Perempuan itu menungguinya dengan gelisah setiap dirinya berulang tahun, menunggu hadiah dan perjumpaan dengan teman saya. Pernah suatu kali, teman saya pergi ke rumah mantan pacarnya untuk memberi kado ulang tahun dan menemukan mantan pacarnya sedang berdiri gelisah di depan pintu rumah sambil memegang foto teman saya. Melihat nya, teman saya langsung pergi. Ia meminta tukang sate yang ia temui di jalan untuk meminjaminya baju dan topi tukang sate berikut gerobaknya. Sebagai jaminannya, ia memberi uang Rp 50.000,00 dan menitipkan kunci mobil. Teman saya mendorong gerobak tukang sate melewati rumah mantan pacarnya. Perempuan itu sesaat menatapnya, namun kemudian mengalihkan pandangan. Mungkin ia mengira itu teman saya tapi ragu karena orang itu mengenakan baju dan topi tukang sate. Kemudian teman saya melemparkan bunga ke depan perempuan itu. "Neng, bunga neng." perempuan itu tersentak dan memanggil-manggil nama teman saya. Tapi teman saya sudah keburu lari mendorong gerobak itu yang, menurut pengakuannya, sangat berat.

Teman saya sampai sekarang mau bertemu dengannya. Namun ia tidak kuat menahan perasaan yang muncul setiap kali bertemu, ataupun hanya mendengar suara perempuan itu. Bahkan ketika ia menceritakan kisah ini pada saya, saya melihat ada genangan air di pelupuk matanya. Ia ingin menangis, menumpahkan perasaaannya di depan perempuan itu. Namun ia mengurungkan niatnya karena ia tidak mau membebani perempuan itu sebagaimana hatinya hancur dulu ketika melihat perempuan itu menangis di depannya. Sejak saat itu, ia tidak pernah bisa melihat perempuan manapun menangis.

Saat ini teman saya sudah menjalin hubungan yang baru. Pacarnya yang sekarang tahu kisah teman saya dan mantannya, termasuk perasaan teman saya terhadap mantannya. dan ia mengerti perasaan teman saya. Teman saya memang orang yang selalu menaruh seluruh perasaannya bila ia mencintai seorang perempuan. Ia bangga dengan perasaan yang ia alami dengan mantannya meskipun demikianlah akhirnya. Ia bangga karena ia telah mengalami titik hidup yang terindah. Titik hidup yang menjadikan seorang manusia, manusia. Perasaan kasih sayang yang tulus.


Reposted, Jakarta, 26 Juli 2006

corresponding with my effort on reviving my romantic state of mind

Yesterday in TIM: It's just A Crush


image, taken from here


Karena dua teman saya sudah posting duluan, saya, tidak mau kemakan omongan sendiri, akhirnya memberanikan diri menulis ini. Kemarin saya pergi bareng si Gadis Kuning dan sang Introvert jalan-jalan sekitar Menteng. Ketemunya di PS, tapi sok-sok nostalgianya di sekitaran Menteng. Kalau si Gadis Kuning di Djaktet, saya di TIM. Niatnya mau cari buku di Bengkel Deklamasi, tapi saya juga jadi ingat masa A Be Geh.

Waktu masih putih abu-abu, saya berdua dengan tandeman saya waktu itu hobi ke TIM. Awalnya tandeman saya yang memaksa saya pergi ke sana karena harga tiket bioskopnya murah, tapi lama-lama saya yang nagih dan gantian memaksa tandeman saya itu. Bukan, bukan masalah alasan pengin jadi seniman atau sok kreatif. Saya masih A Be Geh, untunglah saya masih mengalami masa-masa bau kencur. Sedikit masa-masa indah remaja di tengah sekolah yang isinya perempuan melulu, kecuali guru-gurunya, yang, believe me, it's unattractive to stare on except you're into teacher-students complex. Sampai mana saya tadi? Oh alasan. Melanjut memori-memori ABG, saya ke sana selain karena murah dan tempatnya adem, I had a crush on a tall sleek 'gondrong' dude there. Dia sering main game di dalam bioskop bareng teman-temannya. Waktu saya pertama kali melihat dia, dia pakai kaus kuning dipadu dengan jeans, rambut gondrongnya diikat satu ke belakang. Untunglah, kalau rambutnya diikat dua atau kuncir samping dan saya masih naksir, saya sudah mendaftarkan diri jadi pasien, bukan lagi masuk ke fakultas Psikologi. Major disorder is not for a rookie.

Saya sama sahabat saya itu cuma duduk-duduk aja, pura-pura ngobrol sambil ngelirik-ngelirik. Dari jaman A Be Geh sampai sekarang, saya sepertinya sudah mengembangkan bakat-bakat demen sama laki yang bikin orangtua saya deg-degan dan was-was. Saya ingat, waktu pertama kali saya mengenalkan pacar saya yang sekarang jadi mantan, ibu saya diam saja, ayah saya pura-pura ramah menyembunyikan ketidaksetujuannya. Maklum saja, pacar saya itu rambutnya gondrong, begeng berat, kantong matanya besar. No wonder parents suspected him as junkie. On the other hand, I deluded myself a little to think of him as a rockstar tho' he's a photographer slashed graphic designer. In fact, my friends thought that he looked like Steven Tyler who, I assumed, is a rockstar himself.

Back to my singing 180cm'ish heaven guy in yellow tee, kebiasaan itu berlangsung seminggu dua kali, dan berhenti pada saat yang punya hajatan untuk dilihat, tidak nampak-nampak lagi. Entah ke mana dan saat itu sekolah saya itu memaksa saya untuk belajar terus. Di tengah lautan itu, setiap hari masa ujian. Thus the fact that I was willing to sacrifice my time to go there, implied that it's a great deal for me. Could you imagine swimming in the sea of girls and had no boys to sweep off your feet, while Sinetron injected us with unreasonable expectation of love stories? Scoot scoot, bloody hell. It didn't break my heart as I had no idea what his name was, let alone who he was. He could be anything. Dare me not to imagine the most impossible ideas, but hey he might be Al Pacino's love child. Who knows, anyway?

Beberapa minggu terakhir ini, saya lumayan sering ke TIM dan sampai sekarang, belum pernah ketemu orang itu lagi. Kalau dipikir-pikir, bagus begini. Saya jadi masih punya space di masa remaja untuk berimajinasi. Siapa tahu kalau ketemu lagi, imajinasi saya pas dengan kenyataannya. Hehehe.Yesterday in TIM, I was having a crush on dozens of Mario Puzo's and Rendra's. Great authors, great works. I hope that someday I'll be able to write like them. Let it be not only a dream, as I believe that "when you really want something to happen, the whole universe conspires so that your wish comes true".(*


(* a quote from "The Alchemist" by Paulo Coelho

"Blasphemous Rumours"*


French revolution, storming the Bastille
image, courtesy of www.success.co.il


Takut. Cemas. Bingung. Mungkin dilema. Saya tidak tahu mesti menggunakan kosakata untuk mendeskripsikan perasaan saya. Hm, bukti bahwa bahasa manapun tidak bisa menggambarkan luasnya dan tak menentunya perasaan manusia, hingga akhirnya seorang penyendiri, terasing seperti saya berlindung di balik kata-kata kiasan. Yang mengenal saya mungkin memahami apa yang sebenarnya ada di pikiran saya. Yang tidak mungkin mencoba mengaitkan dengan pengalamannya namun pasti gagal jika mengartikannya dalam arti literal. Mungkin saya suka main teka teki, mungkin saja saya memang tidak punya padanan kata yang pas. Sekalipun saya bisa keluar dari 'pengandaian', sayalah yang ragu, sebab saya tidak pernah nyaman untuk benar-benar meletakkan diri saya seutuh dan sepolos-polosnya dalam persepsi orang-orang. Buat saya, persepsi itu harus kabur dan tidak boleh sejelas-jelasnya. Entahlah untuk kepentingan apa, mungkin untuk melindungi diri? Sebab informasi, menurut saya, adalah modal terbesar dan terutama untuk menyakiti dan menjatuhkan seseorang. Bukanlah saya cemas untuk dijegal orang dalam hal karier, pekerjaan, melainkan kehancuran hati adalah yang paling saya takutkan.

Namun pikiran dan hati saya telah berbulan-bulan bergulat, meminta saya untuk menuangkannya dalam sebuah deskripsi yang jujur, tentang perjalanan saya, orang-orang yang saya temui, kejatuhan, dan kehilangan. Hal-hal yang membuat saya tidak dapat tidur dan terus terjaga meski dalam pembicaraan dan minuman yang paling membius sekalipun. Entahlah saya tidak tahu. Hanya dalam beberapa hari terakhir ini, doronga tersebut semakin kuat. Saya, terus terang, kesulitan untuk membendungnya hingga saya kurang berselera, kurang bergairah dalam menjalani hari-hari saya. Dalam pertemuan termeriah apapun, hati saya sepi, pikiran saya ramai namun bukan dengan mereka, bukan dengan orang-orang yang saya jumpai. Persoalan sakit hati, jatuh, kehilangan, dan tetek bengeknya, seperti sengaja menyenggol hati saya yang baru patah, membangkitkan scene-scene yang ingin saya lupakan. Meski saya merasa telah memahami makna yang ingin disampaikan oleh Sang Sutradara, tetap saja giris hati saya saat mengingatnya. Entahlah, rasanya saya semakin pusing. Menulis sendiri saja, buat saya, seperti petualangan besar yang membangkitkan gairah, sensasi, namun juga debar khawatir, cemas, dan bayangan akan teror-teror yang akan dialami, extremely anxious on the start and the finish line. Thus, if I finally decide to proceed, I think, I'll have to endure this emotion blasphemy before, during, and after the ride, ck.



*Judul, diambil dari salah satu lagu lansiran Depeche Mode

Sebuah Pesta di Malam Takbiran



Sudah seminggu ini saya bosan. Bosan terhadap apa? Saya sendiri juga tidak jelas. Mungkin bosan pada kejenuhan? Lah ribet banget yak. Tapi ya itu intinya, saya jenuh. Beberapa hari saya mendekam di rumah dan menenangkan kaki-kaki saya, meredam jiwa keluyuran saya. Kata ibu saya, saya orangnya tidak bisa diam di rumah. Saya anggap itu sebagai tantangan dan saya program kepala saya untuk duduk, tidur-tiduran di kamar, baca buku, nonton film. Akhirnya saya tidak tahan juga. Dengan dalih untuk diri saya sendiri, saya bilang ke ibu saya bahwa saya ingin keluar untuk membeli buku. Dalam ambang kebosanan saya, kemarin-kemarinnya lagi saya bikin kuis di ngerumpi dot com dan pemenangnya itulah yang akan saya beri hadiah. Saya tawarkan "Negeri 5 Menara" dan Mbah Ngasmuni (pemenangnya) setuju. Sebetulnya beli buku itu bisa nanti-nanti karena toh Tiki tutup mau Lebaran, menjelang malam Takbiran.

Akhirnya saya bermodalkan Rp 3500,00 perak naik busway, lurus-lurus saja, tidak pakai ribet, dari depan kompleks rumah saya ke PIM. Tapi sebalnya di sana yang ribet. Teman saya, sesama blogger, sudah memperingatkan kalau PIM bakal penuh dengan manusia-manusia yang mencari hiburan komersil. Saya mengiyakan itu dalam hati namun karena saya takut berjamur di rumah, saya keluar dan saya menghadapi 'kekacauan' itu juga akhirnya. Dalam kata-kata dan nasehat tampaknya mudah, berkubang dalam suasana nyata itu yang sulit. Akhirnya saya cepat-cepat menuju Gramedia. Kebetulan buku yang saya cari ada di dekat pintu masuk. Tepat ketika saya melangkah masuk, buku itu di depan mata saya. Saya ambil lalu saya bergegas ke kasir. Namun saya menghentikan langkah saya karena saya tidak ingin kehilangan waktu keluyuran barang sebentar saja. Kemudian saya langkahkan kaki saya menuju rak-rak novel, mengecek buku apa saja yang baru, apa wishlist saya diskon (ternyata tidak, hmph), melihat nama teman saya di belakang novel bersampul hitam bertinta putih "5 cm" dan nama teman saya "Venus" (sebagai reviewer) dengan tinta putih pula. Novel itu di depannya ada tulisan embossed 'best seller'. Iri sebentar, kemudian membayang-bayangkan kalau karya saya ada di toko buku juga. Peluncuran buku, publikasi, cemas-cemas harap apakah buku itu masuk kategori best seller atau discounted for half price. Tapi saya segera mengusir pikiran itu jauh-jauh sebab rasanya tidak pas saja memikirkan hal-hal semacam itu di hari libur, dan sirik itu benar-benar tidak bertema Ramadhan. Kalau diibaratkan main musik, nadanya sembrono alias mengacaukan harmoni.

Akhirnya saya menelepon teman saya yang rumahnya dekat PIM. Kebetulan dia ada di rumah, saya mampir ke rumahnya. Karena saya penginnya keluyuran, saya tidak ingin 'pindah' rumah, saya maunya ada di alam terbuka, ngeloyor tidak jelas, ngobrol ngalor ngidul di bawah langit. Saya sedang tidak berselera dengan atap bersisi empat, kubikel besar. Ingin rasanya bernapas di lapangan terbuka, menghirup udara yang tidak disaring oleh jendela. Oleh karena itu, dalam perjalanan menuju rumah teman saya, saya mengirim SMS pada teman saya yang saya sebut "raja" di TIM. Buat saya, TIM itu tempat yang menyenangkan. Udaranya enak, atmosfirnya bebas (mungkin karena di sana tempat hajatannya orang-orang kreatif), dan juga saya bisa cari-cari buku lama yang sudah tidak dicetak lagi di Bengkel Deklamasi (TIM).

Sekitar satu setengah jam saya di rumah teman saya itu, kemudian kami bertolak ke TIM. Menyenangkan! Seperti mengulang malam hujan badai di TIM, saat saya sedang berteduh, saya berkenalan dengan orang-orang dari Bali yang sedang berbisnis. Darinya saya mendapat cerita-cerita baru. Kemudian setelah hujan reda, Double J (teman saya) sudah sampai di TIM dan kami terus mengobrol sampai sahur. Bedanya, pada hari kemarin itu, suasananya malam takbiran dan kelakuan kami tidak segila malam sebelumnya. Lebih behave lah istilahnya. Tapi saya juga dapat kenalan-kenalan baru di sana, menikmati suasana takbiran yang hiruk pikuk namun tenang dalam hati. Mendengar suara bedug bertalu-talu meski hanya dalam rekaman, buat saya adalah peristiwa yang magis. Nada-nada dan tempo-tempo itu membawa suasana yang khusyuk dan damai.

Pukul setengah dua pagi, saya mengantuk karena di malam sebelumnya, saya kurang tidur. Saya jalan keluar bersama teman saya untuk menyetop taksi. Di depan TIM, ada dua orang polisi berjaga. Saya pikir, memangnya ada apa sampai-sampai ada polisi? Biasanya walau tengah malam, tidak pernah ada petugas hukum di sini. Beberapa menit kemudian, barulah saya tahu alasannya. Pawai konvoi orang-orang yang bersuka ria merayakan Takbiran dan datangnya Idul Fitri, hari yang Fitrah, hari kemenangan. Keriaan mereka bagaikan menular, saya yang tadinya ngantuk, ikut-ikut bersemangat. Peristiwa yang benar-benar menyentuh hati dan menyalakan setrum gairah hidup. Orang-orang berkumpul dalam euphoria kegembiraan, tanpa dendam, tanpa kemarahan. Pesta. Namun pesta harus berakhir, sebuah taksi tarif lama langganan saya lewat dan saya menyetopnya. Saya harus pulang.

Sepanjang perjalanan saya dalam taksi, saya melewati kawasan Menteng, dekat BB's. Jalanan macet, tersendat. Saya mulanya bingung ada apa, dan bapak supir taksi menerangkan pada saya bahwa mungkin orang-orang berkumpul untuk menyalakan petasan. Saya manggut-manggut saja dan memilih untuk melihat sendiri daripada bertanya-tanya terus. Setelah melaju tersendat berkali-kali, akhirnya saya melihat. Orang-orang berkumpul di sisi kiri jalan, duduk di atas mobilnya, menunggu dengan antusias. Di seberangnya (sisi kanan jalan), ada dua orang yang sedang mempersiapkan petasan yang diberdirikan di atas tanah, dijaga supaya tidak jatuh. Kemudian salah seorang dari mereka menyalakan sumbunya dengan lighter. Siuuuungg... Bum bum. Petasan meluncur ke udara, kembang-kembang cahaya kegembiraan menerangi langit. Melihat itu, saya sedikit bersyukur dengan kemacetan ini. Paling tidak, saya diberi kesempatan untuk ikut menyaksikan pesta ini, sebuah pesta yang saya harap akan menjadi permulaan bagi babak baru kehidupan manusia, tidak lagi berkubang dalam kebencian dan nafsu penghancuran, tetapi hidup baru yang diwarnai dengan cinta, persahabatan, dan kasih. Dalam hati, terselip sedikit harap, agar pesta ini tidak pernah berakhir.


image, courtesy of designflute.wordpress.com

Stok Gombal (17+)



1. Oh dinda, cintaku hanya untukmu (catatan: supaya dipercaya, bungkam dulu paduan suara mantan pacar dan cem-ceman)
2. Oh kakanda, cintamu bergayung padaku dan biarkan aku berlindung dalam parang paras cintamu. (catatan: kalau elu udah gak ganteng/keren lagi, boleh dong pindah ke lain hati)
3. Kamu bagaikan purnama menerangi gelap diriku. (catatan: relatif aman, klasik)
4. Tidak, dia cuma teman, hanya kaulah permata hatiku. (catatan: 'ngeles' karena dicurigai selingkuh)
5. Walau dia menyentuhku, hatiku hanya bergetar untukmu. (catatan: 'ngeles' selingkuh)
6. Aku tak bisa hidup tanpamu. Lebih baik kau bunuh saja aku. (catatan: pastikan anda berada di ruang kosong, untuk jaga-jaga saja)
7. Belahlah dada abang, jika kamu tidak percaya. (catatan: pastikan tidak ada benda tajam di sekitar)
8. Aku tak pernah mengenal cinta sebelum bertemu denganmu. (catatan: supaya dipercaya, bungkam dulu paduan suara mantan pacar dan cem-ceman)
9. Wajahmu mengalihkan duniaku. Wajahmu menghancurkan duniaku. Aku tidak tahu wajah lain selain wajahmu. (catatan: mungkin pas kalau anda agak buta karena mata dicolok sang pacar, makanya kalau lirik-lirik jangan pas sama pacar)
10. Duniaku kau guncang hanya dengan lirikan matamu. (catatan: mungkin akan lebih dipercaya kalau ngomongnya pas gempa bumi)
11. Senyummu bagai oase di padang gurun hatiku. (catatan: ngomong ini pas haus, biar bisa lebih menjiwai)
12. Kau begitu agung, hanya ibuku yang bisa menandingi agung jiwamu (catatan: gombal ala anak mami)
13. Aku ingin berenang di mata indahmu. (catatan: siapin bikini)
14. Apa kau tidak lelah? Semalam kau berlari-lari dalam mimpiku. (catatan: hati-hati ini udah diumbar banyak di SMS gratisan ataupun servis premium)
15. Kalau kau Julia, aku Romeo mu. (catatan: jauhkan si dia dari toko farmasi, jaga-jaga saja)
16. Kau terjun, aku terjun. (catatan: hati-hati apabila pasangan anda diduga hysteria)
17. Kalau kau bunga, aku kumbangnya. (catatan: relatif aman)

---- Danger Zone ----

18. Bibirmu menyalakan gairah hidupku. (catatan: siapin tungku, supaya benar-benar HOT)
19. Bang Oma saja pasti akan bertekuk lutut melihat kecantikanmu (catatan: hati-hati, pastikan pasangan anda terpaku pada anda, jadi dia tidak melirik ke bulu-bulu Bang Oma)
20. Serahkanlah tubuhmu dan jiwamu, maka akan kuberi kau singgasana cinta untuk selamanya (catatan: gombal untuk membujuk)
21. Kalau kau cinta padaku, pasti kau inginkan seluruh tubuhku seluruh jiwaku (catatan: gombal untuk memaksa)
22. Meski dia menyerangku dengan kepolosan tubuhnya, hatiku hanya bersimpuh padamu (catatan: ngeles selingkuh)

And it's called infatuation



Berjumpa dengan orang baru atau teman, tersipu-sipu, muka memerah, bagai mendengar lantunan merdu di hati saat pandangan bertemu. Apakah itu tanda kita jatuh cinta atau sebenarnya cuma kekaguman, yang lazim disebut infatuation? Sewaktu saya masih remaja, sering sekali saya merasakannya namun saya tidak mengerti dan saya malah berpikir bahwa saya ini begitu mudah jatuh cinta. Setelah saya bertemu dengan bermacam-macam orang dan jatuh cinta sebenar-benarnya, barulah saya tahu ini hanya infatuation belaka. Rasa kagum terhadap kedewasaan, cara pandang, keluasan wawasan, dan sebagainya bisa memicu debar tak juntrungan saat bertemu dengan orang ini atau kita jadikan alasan untuk memikirkan ataupun menebak-nebak kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Ketika saya mengalami letupan-letupan itu, mula-mula saya pikir jangan-jangan saya jatuh cinta. Pikiran saya biasanya paranoid dan pusing sendiri. Tapi lama kelamaan, perasaan itu pudar dan berganti jadi perasaan yang tidak menggelegak, lebih mengayun seperti persahabatan. Apakah itu artinya faktor waktu jadi pembeda antara infatuation dan jatuh cinta? Mungkin. Butuh waktu untuk mengikat komitmen dengan seseorang. Namun waktu bukan inti dari teka-teki ini. Waktu hanyalah medium bagi kita untuk saling berproses. Perlu pengenalan, komunikasi, dan usaha untuk saling memahami agar kita bisa dengan yakin berkata “I love you” pada orang yang ditaksir sehingga kita tidak gombal kata. Kita sebagai manusia, seringkali tertipu dengan gejolak rasa sendiri dan mengartikannya sesuai dengan keinginan kita sendiri sehingga mengaburkan perasaan yang sesungguhnya.

Saya pernah jatuh cinta. Alangkah manisnya, saat pertama kali berSMS, telepon, dan kencan, semudah itu kata “I love you” meluncur dari kami berdua. Kemudian di antara kami ada penyesalan karena ternyata perasaan kami mungkin dipicu oleh rasa sepi kami dan dambaan kami pada seseorang yang bisa mendampingi kami dalam susah maupun senang. Walau pada akhirnya dalam proses, kami saling mencintai namun kata-kata “I love you” itu jadi momok bagi kami. Kami dulu pernah mengumbar tiga kata sakti itu pada saat kami mengalami infatuation dan akhirnya ‘mantra’ itu kehilangan keajaibannya dalam perkembangan hubungan kami selanjutnya. Dalam proses, kami saling mengenal, saling menyesuaikan diri, dan pada akhirnya kami saling mencintai namun kami tidak pernah mengucap tiga kata itu lagi. Ragu-ragu. Kami takut salah, kami takut menerjemahkan rasa, takut berbohong pada diri dan pasangan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan komunikasi saya dan pasangan saya tidak lancar, tersendat, dan akhirnya benar-benar mandeg.

Begitu mudah kita terpesona, begitu mudah kita terlena akan bayang-bayang dongeng. Namun kita, manusia, selain dianugerahi rasa, juga diberi pikir, supaya kita bisa bermimpi menyentuh langit sekaligus menapak tanah. Karunia keseimbangan, agar kita tidak terombang ambing pada langit maupun bumi. Kata cinta adalah mantra ajaib pengikat dua insan yang terpisah hingga jadi satu hati dan satu rasa. Agar keajaiban itu terus terasa dan menyentuh kita pada titik yang tepat, kita harus menjaganya dan membuatnya sakral. Ucapkanlah kata cinta, pada saat kita benar-benar memaknai kata itu. Dalam proses, dalam perjuangan, dalam komunikasi dan usaha saling memahami, kita akan mengenal cinta yang tumbuh. Menurut saya, bukan pada saat ada benih itu kita mengucap cinta, namun ketika telah merekah, barulah saat yang tepat bagi kita untuk berkata “Aku cinta kamu“. Hal ini, sebab ketika masih benih, itu hanyalah benih yang belum tumbuh sehingga ketika kita mengucap cinta, kita bagaikan memaksakan kehendak kita. Namun ketika cinta itu telah tumbuh, merekah, dan mengakar, barulah kata cinta itu tepat, menggambarkan, mengekspresikan, dan menaut gelombang rasa dan jiwa yang tenang dalam harmoni inti hidup manusia.


image, courtesy of www.buzzle.com

Liburan "Sendiri"


image, taken from here

Di kota metropolitan ini, kesibukan menyesaki setiap sudut sampai-sampai hari Minggu pun bukan hari libur melainkan hari pelampiasan untuk tidur. Namun menjelang hari raya (baca: Lebaran), hawa-hawa liburan benar-benar menjalari jantung ibu kota ini. Saya yang biasanya menghabiskan waktu seenaknya pun merasakannya. Hari-hari ini lebih terasa santai dari hari-hari sebelumnya yang tampak santai juga. Maklum beberapa bulan ini saya merdeka dengan waktu saya dan keinginan saya, tapi tidak dengan pikiran-pikiran saya yang makin banyak pertanyaan dan makin meresahkan. Namun ketika bangun pagi ini, pikiran saya terasa ringan. Untunglah badan saya tidak, sebab jika tubuh saya ikut-ikutan, saya curiga saya menyobek tiket "liburan abadi" tanpa sengaja.

Kalau dulu-dulu sewaktu masih sekolah, liburan bagi saya menyiksa karena saya merasa kehilangan jati diri. Saya tidak tahu mau melakukan, tanpa rencana, dan semua itu bagi saya cukup membingungkan dan bikin frustrasi. Saya terlalu terbiasa dengan kesibukan saya sampai-sampai saya asing dengan diri saya sendiri. Saat liburan, saya paling sering bersama dengan diri saya, tanpa embel-embel dan ketidaknyamanan itu menyerang di saat keriaan dengan teman-teman berakhir. Di saat liburan seperti ini, teman-teman saya banyak yang pulang kampung. Sedangkan saya? Kampung saya di Jakarta. Satu-satunya yang bisa saya nikmati adalah kelengangan jalan Jakarta.

Kesibukan benar-benar merenggut perhatian saya, mengalihkan saya dari teman saya yang terbaik (baca: diri sendiri). Liburan seharusnya dimaknai bukan hanya sebatas pergi melancong, tidur sepuas-puasnya, makan, nonton, dan sebagainya. Menurut saya, liburan adalah saat untuk berhenti dari semua kesibukan di luar diri. Liburan adalah saat kita menikmati kebersamaan dengan diri sendiri, selain dengan orang-orang yang kita cintai (baca: keluarga, sahabat). Kita punya waktu untuk mengenal lagi siapa kita, apa yang kita rasakan, pikirkan, inginkan, dan sebagainya. Sudah saatnya buku harian kita diisi dengan dialog diri, bukan cerita tentang aktivitas kita di luar sana, kesibukan kerja, teman-teman kantor yang lucu ataupun menyebalkan, dan sebagainya.

Sama halnya seperti kita membangun hubungan cinta dengan pasangan. Jika komunikasi dengan pasangan hanya diisi oleh keluhan tentang pekerjaan, relasi dengan teman, cerita orang lain, dan sebagainya, hubungan itu pun akan terasa hambar. Inti cinta yang ingin mengenal dan memahami tidak kita sentuh dalam komunikasi. Dulu kita bilang pada pasangan kita, "saat kita pertama kali bertemu, aku seperti sudah lama mengenal kamu". Namun setelah beberapa lama kemudian, kita bilang lagi, menyangkal omongan kita sendiri, "sudah sekian lama kita berhubungan, tapi makin lama aku merasa tidak kenal kamu." Kalau kata orang, setrumannya sudah habis. Ya gimana tidak habis, wong listriknya dimatikan? Masih untung kalau cuma pacar, soalnya seperti lagu-lagu cinta hits sepanjang masa, pacar itu bisa datang dan pergi. Bisa diganti, meski tidak semudah berganti baju. Tapi bagaimana kalau keburu tandatangan kontrak pernikahan dan punya anak? Permasalahan bibit bebet bobot waktu kita masih bujangan, berganti dengan pertimbangan bagaimana nasib siapa-siapa ke depannya. Dengan kata lain, persoalan ganti-ganti tidak semudah asal tanda tangan surat baru, lalu selesai.

Menurut saya, sebelum kita tanda tangan kontrak di atas kertas, kita sudah tanda tangan kontrak duluan sejak sperma ayah dan sel telur ibu kita bertemu. Sejak kita "ada", kita sebenarnya sudah menikah. Bukan dengan ayah, bukan dengan ibu, bukan dengan dokter, mak comblang, dan sebagainya, melainkan diri kita sendiri. Kalau kita merasa sebal setiap kali melihat suami/istri kita, kontrak 'selamat menempuh hidup baru' akan terasa seperti kontrak kematian. Merasa terasing, benci dengan dunia, dan perang sebenarnya disebabkan oleh perkawinan kita yang retak. Yang membuat kita merasa terasing dan tidak punya teman bukanlah orang lain melainkan diri kita sendiri. Demikian pula dengan benci. Orang lain cuma proyeksi. Karena kita tidak mau menengok pada suami/istri pertama kita, ia "terpaksa" memutar film kesepiannya pada orang lain. Kebencian pada diri merupakan awal dari destruksi kehidupan, mulai dari manipulasi, propaganda, kekerasan, dan perang. Saya pikir, hidup kita terlalu lama dan terlalu sebentar untuk kita lalui dengan kegetiran semacam itu. Maka, hari ini, saya menikmati liburan dengan diri saya sendiri. Saya biarkan saja diri saya menuntun ke mana saya harus melangkah, ikut-ikut, dan "pasrah" saja. Tanpa pusing. Tanpa embel-embel. Tanpa bete. Tanpa rencana.


Dikira Made in Japan (2)


Dalam tulisan saya sebelumnya, saya menyinggung bahwa suatu eksperimen tidak sahih hasilnya kalau cuma dilakukan sekali tanpa manipulasi kondisi yang variatif. Eksperimen kedua ini dilakukan pada hari yang sama, pada sore hari. Hal ini sebetulnya di luar perencanaan karena sekali lagi, kebetulan saja ada kesempatannya.


EKSPERIMEN 2
Subjek: Supir Taksi
Lokasi: Jakarta Selatan


Begitu urusan saya selesai, saya ingin pulang. Saat menunggu bus, bus jurusan ke rumah saya akhirnya tiba. Namun bus tersebut sudah penuh berdesakan dengan penumpang dan saya terlalu lelah untuk berdiri sepanjang perjalanan yang belum tentu mulus. Oleh karena itu, saya melambaikan tangan di kawasan Blok M pada armada taksi biru laut. Kemudian taksi itu berhenti, saya melangkahkan kaki masuk ke dalam taksi tersebut, duduk, menutup pintu taksi itu. Lalu saya mengucap salam "Selamat sore", seperti biasa, dan saya menyebutkan arah tujuan saya.

Perjalanan cukup lancar walaupun macet di beberapa ruas jalan dan supir taksinya pun tampak tenang-tenang saja. Tidak menggerutu, juga tidak ada tanda-tanda ia akan mengadakan pembicaraan. Perfect, saya cuma kepingin menikmati momen perjalanan ini dengan tenang. Namun sekitar setengah jam kemudian, tiba-tiba ia mengajak saya mengobrol, dengan pertanyaan pembuka

"Orang Jepang atau Korea?"

Hm, lagi. Tapi ada yang berbeda di sini. Pertanyaannya spesifik, dan dari nada pertanyaannya, saya menangkap bahwa ia cukup yakin dengan tebakannya. Pikirnya, kalau saya bukan orang Jepang, pasti orang Korea. Ketika saya hendak menjawab, sontak saya dirundung rasa bersalah karena membohongi supir taksi tadi siang. Kali ini saya harus melakukan "penebusan dosa". Make an amend.

"Bukan."

Setelah mengucapkannya, beban saya sedikit terangkat. Lebih baik jujur saja daripada rasa bersalahnya bertambah. Karena sama-sama supir taksi, saya berharap "dosa" saya sedikit berkurang beratnya. Bohong sekali bukan berarti harus bohong terus-menerus. Namun ternyata tidak segampang itu saya lepas,

"Ah masak?"

Kening saya berkerut. Baru kali ini ketika saya jujur, ketulusan hati saya menjawab dipertanyakan. Saya pikir mungkin dia cuma berkelakar. Dengan tenang, saya menjawab,

"Bener kok Pak. Saya lahir di sini, jadi saya orang Jakarta."

Lalu supir taksi itu diam dan tampak di matanya ada sorot kebingungan. Ia melihat ke cermin di tengah dan tampak mengamat-ngamati saya. Kali itu, saya menahan rasa curiga saya karena siang tadi, dalam hati, saya menuduh pak supir lugu itu yang bukan-bukan. Saya biarkan saja ia melakukannya, mungkin ia ingin melihat apakah sorot mata saya jujur. Saya berusaha sesantai mungkin dan sedikit lega ketika ia diam dan tampak tidak ingin bertanya lagi. Namun, saya salah. Sekitar lima menit kemudian, ia bertanya lagi,

"Kalau orang sini, pasti tahu dong Sekolah Negeri di [daerah rumah saya] no berapa. No berapa coba?"

Saya makin mengernyitkan dahi dan melongo. Kejujuran saya diragukan bukan dengan pertanyaan, tapi dengan tantangan. Terus terang, saya sedikit tersinggung. Namun saya pikir, ada baiknya saya coba bersabar lagi karena mungkin ia cuma ingin bersikap ramah walaupun pengertiannya tentang adat kesopanan jelas berbeda dengan saya.

"Hm... Di deket daerah rumah saya, tidak ada sekolah negeri Pak."

Tapi kesopanan saya dicobai lagi,

"Ah masa?" (senyum-senyum)

Senyum meragukan dan sedikit melecehkan, sepenglihatan mata saya yang mungkin siwer karena marah. I was officially pissed off. Saya sudah kehabisan kata-kata dan stok keramahan untuk perlakuan seperti ini. Desis saya dalam hati, "Saya orang mana, bukan urusan situ sama sekali. Kalau nggak mau dengar jawaban yang sebenernya, ngapain tanya." Dengan ini, saya hapus senyum saya dan memberikan pandangan yang cukup sengit. Untunglah, supir taksi itu urung bertanya lagi. Entah karena sudah sangat dekat dengan rumah saya, atau karena ia menangkap sinyal negatif saya. Pada akhirnya, saya membayar dengan uang yang dipas-paskan, tanpa tips. "You have crossed the line, sir" gumam saya. Mungkin ia tidak dengar, mungkin ia dengar tapi tidak mengerti, atau mungkin sekali dia dengar dan paham maksud kata-kata saya. Saya segera masuk ke rumah dan malas menengok untuk membaca raut mukanya.

Kejadian ini berlangsung sekitar setahun yang lalu. Sudah cukup lama, tapi saya sekali-kali teringat karena kejadian ini unik dan terlalu banyak faktor kebetulannya. Pengalaman percaya dan diragukan terjadi pada satu hari yang sama dan hanya dalam hitungan jam. Saya merunut-runut kembali, apa sebenarnya yang terjadi. Dalam eksperimen pertama, saya tidak sengaja menobatkan supir taksi lugu itu jadi "korban" eksperimen saya. Walaupun pengalaman itu lucu, saya merasa bersalah dan rasa bersalah itu ingin saya tebus pada supir taksi kedua. Saya berharap, dengan jujur, saya bisa terbebas dari "dosa". Namun kenyataannya saya malah dipersulit.

Setelah sekian lama misuh-misuh soal kelakuan ajaib supir taksi itu, akhirnya saya berpikir-pikir lagi. Jangan-jangan saya kena tulah. Orang yang bohong akan sulit dipercaya meski cuma sekali-kali dan yang saya bohongi supir taksi yang berbeda. Seberapa besar kemungkinan supir taksi dari kedua armada yang berbeda, dalam hitungan tiga jam, sempat mendiskusikan penumpang "jadi-jadian" ini dan tahu bahwa mereka mengangkut penumpang yang sama?

Moral of the story: Tidak ada yang lebih mengaburkan daripada berbohong sebab meski prasangka itu menipu, namun terjadinya lebih sering otomatis atau mendahului kesadaran. Sebaliknya dalam berbohong, semuanya dilakukan dengan sadar sepenuh-penuhnya. I learn my lesson, in quite a hard way.

Sejak itu, ketika ada orang yang bertanya,

"Japanese?",

tanpa ragu saya akan menjawab,

"I'm not made in Japan, I'm African".

Dikira Made in Japan (1)



"Japanese?"

Bukan sekali dua kali saya ditanya seperti itu. Entah apanya dari saya yang mengesankan saya kelihatan dari negeri Matahari Terbit itu. Satu-satunya yang paling dekat dengan matahari, cuma minyak di jidat saya yang berkilap sinarnya. Terus terang saya tidak tahu harus merasa bagaimana kalau dikira bukan dari sini. Padahal saya tahu jelas, saya hasil main cinta-cintaan bapak dan ibu saya di Jakarta. Lahirnya juga di Jakarta. Budaya suku saya sudah luntur di generasi saya dan saya termasuk yang murtad pindah haluan, alias lebih senang belajar budaya Jawa daripada budaya suku sendiri. Tidak jelas sebab musababnya. Yang jelas, Asia Timur jauh dari saya.

Dikira made in Japan, terus terang, saya sendiri bingung mesti merasa apa. Bangga, tidak juga. Geli, mungkin. Soalnya saya beberapa kali dapat perlakuan yang sedikit lebih istimewa dari supir taksi. Dibukakan pintu, dipanggil "miss", dimaafkan kalau tidak tahu jalan. Mungkin mereka mengira bawa turis jalan-jalan dan antusias ingin menunjukkan negara kelahirannya. Harusnya saya senang, tapi tidak juga, soalnya kadang-kadang saya merasa disangkal identitas ke-Indonesia-an saya. Akan tetapi, dalam perkara salah kaprah dan mungkin kiprah ini, akhirnya secara kebetulan yang kelihatannya seperti dirancang-rancang, saya mengadakan eksperimen. Alasannya, cuma karena penasaran dan memang ada kesempatannya.


EKSPERIMEN 1
Subjek: Supir Taksi
Lokasi: Jakarta Selatan

Saya menyetop taksi berbadan putih di Jl. Jend. Sudirman. Kemudian saya mengucapkan salam, "selamat siang" dan menyebutkan tempat tujuan saya. Saat saya asik-asik menikmati AC mobil yang dingin, saya mulai memperhatikan gerak gerik aneh supir taksi itu. Dia melihat-lihat terus ke cermin, seakan-akan ingin menyelidiki. Dalam pikiran saya yang cukup dihantui tanda tanya, saya pikir dia merencanakan sesuatu yang aneh, perampokan misalnya. Dugaan ini sangat khas ibu saya karena dia orangnya cukup awas, untuk tidak mengatakan "parno". Ia sering membacakan cerita-cerita kriminalitas yang sering terjadi dalam taksi sehingga mau tak mau gambaran itu masuk ke otak saya. Saya dengan rasa masygul, berusaha untuk tenang dan melakukan tindakan pertama yang paling rasional, mengirim SMS yang berisi nama armada, nomor taksi, dan nama pengemudi pada pacar saya. Tapi dugaan saya terbukti salah dan begitu pula dugaan supir taksi itu.

Setelah beberapa lama bertarung dalam diam, supir taksi itu memecah keheningan yang mengubah curiga menjadi rasa geli.

"Dari Jepang?"

There it goes again. Rupanya tadi dia mungkin berpikir-pikir, mengira-ngira, takut salah sehingga ia curi-curi mengamati saya. Akhirnya mungkin ia tidak sabar sendiri dengan rasa ingin tahunya dan akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada saya. Biasanya akan saya jawab jujur. Tapi dalam pikiran kecil saya, saya ingin membalas rasa curiga saya yang kadaluarsa jadi malu. So I played along.

"Iya"

Saya bohong, atas nama pembalasan dan keisengan, kepingin tahu habis itu reaksinya gimana. Seperti orang yang baru menang lotere, dia bangga dengan dugaannya yang super tepat (yang padahal super salah). Kemudian ia berusaha untuk bercakap-cakap dengan saya. Namun selayaknya orang bohong yang tidak ingin ketahuan, saya cukup menjawab yang ditanyakan. Irit kata. Tapi sepertinya, ia tidak ingin menyerah dengan kebisuan sehingga ia berusaha agak keras untuk terus melemparkan pertanyaan.

"Kok bagus ya bahasa Indonesia nya? Sudah berapa lama di sini?"

Jawab saya, "Sepuluh tahun."

Kemudian ia mengangguk-ngangguk, "Pantesan bagus."

Lalu ia mulai bercerita soal dirinya yang pernah berkali-kali mengantar orang Jepang dan Korea. Saya pikir, ini biasa karena orang pasti ingin menciptakan kesan kalau ia mengenal sedikit bagian latar belakang orang yang baru ditemuinya itu. Wajar. Tapi yang ini cukup bikin saya terkejut dan terpingkal-pingkal dalam hati. Dari cerita soal tamu, sekarang berganti dengan persaingan di pool taksinya. Bapak ini mengaku pada saya, bahwa di antara teman-teman di pool-nya, dia paling sering mengantar orang Jepang dan teman-temannya sering bertanya serta meminta tips darinya. Ok, is it prestige? Namun rasa geli saya, tiba-tiba berubah panik.

"Kalau air bahasa Jepangnya apa ya, Miss? Saya pingin kasih tahu sedikit bahasa Jepang ke teman-teman saya."

Mampuslah. Apa ya. Saya pernah sedikit belajar bahasa Jepang tapi cuma sebentar. Ditambah panik, mana mungkin saya bisa mengingat yang sudah ditimbun di kepala saya begitu lama. Akhirnya, saya improvisasi.

"Tanaka"

Saya ambil saja nama orang Jepang yang paling sering saya temui di buku teks pelajaran bahasa Jepang saya dulu. Tinggal menambahkan bumbu kalau Tanaka nama yang populer di Jepang karena artinya air dan Jepang adalah negara kepulauan. Walaupun dia kelihatannya manggut-manggut percaya, saya panik. Bagaimana kalau dia tanya-tanya lagi dan saya benar-benar kehabisan akal untuk menjawab. Tapi untunglah saya sudah sampai tempat tujuan, langsung membayar, dan melipir, hilang ditelan pagar-pagar dan pohon.

Perasaan saya setelah kejadian itu, pertama-tama, lega karena saya terhindar dari pertanyaan-pertanyaan. Kedua, geli karena dia percaya dan juga karena kemungkinan yang bakal terjadi kalau ia cerita pada teman-temannya soal "tanaka", apa temannya juga ikut manggut-manggut atau mentertawakannya karena mereka sadar temannya yang lugu telah ditipu. Namun di antara emosi-emosi itu, saya juga merasa bersalah karena berbohong. Bagaimanapun berbohong itu tidak ada baik-baiknya, apalagi bohong saya cuma dilandasi iseng, tanpa alasan-alasan heroik, humanis, ataupun alasan berbau politis lainnya.

Walaupun tak luput dari sedikit cacat prestasi, inilah akhir dari eksperimen saya yang pertama. Sudah menjadi ketentuan umum, sebuah eksperimen tidak akan sahih kalau cuma sekali dan tidak ragam situasinya. Oleh karena itu, saya bereksperimen untuk kedua kalinya, dengan manipulasi yang berbeda. Soal ini akan saya kisahkan di tulisan saya berikutnya, sebab cerita harus diumbar pada ritme yang tepat supaya tidak aus jadinya. :D

image, courtesy of dryicons.com

... It's corny, doh



After doing so much reading and blogwalking in my own blog, I realize that now, whenever I attempt to write a personal journal consisting what I thought and did in literal way, it's way too corny. Maybe I'm not comfortable enough to reveal myself and I end up forcing myself to write. Every good book starts with honesty, so this has to go away. Paulo Coelho said once, that you ought not to be afraid to write. Then I just have to write everything and I'm sure that one day, the corniness will pass away.

Hands that Change My Life Forever



Pernahkah kamu mengalami satu kejadian yang ternyata mengubah hidupmu yang tadinya abu-abu kebiruan tiba-tiba jadi warna kuning? Saya pernah dan kalau dipikir-pikir lagi, buat saya itu keajaiban yang sangat besar. Tidak seheboh bisa berjalan di atas air atau mendatangkan dan menghentikan hujan sejati tentunya, tapi kejadian ini membuat saya merasa benar-benar hidup alias berjalan menapak tanah dinaungi oleh langit. Tentu saja saya manusia, sebagaimana makhluk hidup di bumi, jalannya pasti di atas tanah, tapi dulu pikiran saya mengawang-ngawang. Tidak jelas mau ngapain. Sekolah yang 'benar', nilai bagus kalau bisa masuk ranking 10 besar, makan, tidur, nonton sinetron (yak saya waktu kecil mengertinya kalau menonton, ya nonton sinetron atau telenovela, karena itu budaya mbak-mbak dan mamak saya di rumah). Setelah sekolah, hm, mungkin kerja, tidak pakai nikah, yang penting punya banyak uang tanpa tahu uangnya mau diapakan. Soalnya ya itu, hidup saya sepertinya cuma numpang lewat. Iman saya saja setengah-setengah, ke Gereja, cuma supaya saya bisa pakai baju bagus dan ditraktir makan oleh tante saya sepulang Gereja. Ya, itulah sepotong hidup saya dari saya SD sampai SMP. Kalau waktu orok, saya lupa-lupa ingat jadi kalau coba reka-reka, kok rasanya seperti bohong-bohongi diri. Hari ini saya berniat untuk mencoba jujur, terutama pada diri sendiri. Jadi, niat ngarang-ngarang fiktif, segera saya lupakan.

Kembali soal hidup saya yang tidak jelas itu, setelah menamatkan SMP, saya meneruskan ke SMA yang ketat peraturannya sampai-sampai kaos kaki harus sebetis, setinggi lutut, dan rok panjangnya minimal 10 cm di bawah lutut. SMA ini budayanya belajar sekeras-kerasnya dan 'memaksa' murid-muridnya untuk jadi kutu buku. Karena isinya perempuan semua, jadinya mudah-mudah saja karena tidak ada godaan laki-laki yang mengalihkan perhatian pada saat lagi belajar di kelas. Sejak saya menjejakkan kaki saya di kelas 1D di SMA itu, saya sudah tahu. Pertama, karena sekolah ini terkenal atas kedisiplinan kesusterannya. Kedua, SMP saya tepat berada di bawah SMA itu, secara literal, satu gedung, menyandang nama yang sama. Yang beda hanya tingkatannya saja.

Berbeda dengan SMP, SMA itu menawarkan beragam jenis ekstrakurikuler dan kami diwajibkan untuk memilih satu dan tidak boleh dua. Mungkin sekolah ini menyadari besarnya kemungkinan murid-murid sekolah itu ambisius dan memperkecil kemungkinan murid itu sendiri stress karena tidak bisa membagi waktu untuk belajar dan waktu untuk kegiatan ekstra. Ekstrakurikuler yang ditawarkan antara lain gamelan Jawa, marching brass, olahraga (basket, voli), vocal group, teater, dan sebagainya (saya lupa). Di antara kegiatan itu, tanpa pertimbangan apapun, saya mendaftar untuk masuk teater.

Teater di SMA saya itu terkenal disiplin dan punya kriteria yang ketat buat anggota-anggotanya. Kami diharuskan untuk mengikuti seleksi terlebih dahulu. Cukup bikin kaget dan was-was karena konon, seleksinya cukup menyeramkan. Tapi karena sudah terlanjur mendaftar, saya ikuti jugalah seleksi itu. Sebelum seleksi, kami dikumpulkan oleh senior kami anggota teater soal apa yang harus kami siapkan dan apa yang harus kami lakukan.

Pada saat seleksi, kami harus:
1. Memakai baju yang tidak matching, makin nabrak makin bagus
2. Menggantungkan papan nama sebesar mungkin di leher kami. yang harus ditulisi dengan informasi-informasi yang biasa kami tuliskan di diary teman waktu SD: nama, tempat tanggal lahir, hobi, dan sebagainya.
3. Karena temanya 'binatang', kami harus menentukan kami akan menjadi binatang apa, mempelajari soal perilaku binatang itu, mengenakan kostum sesuai dengan binatang tersebut. Masing-masing calon anggota, tidak boleh jadi binatang yang sama. Oleh karena itu, sebelum seleksi, kami harus saling berkomunikasi mau jadi binatang apa.
4. Memilih pasangan teman. Jadi mau tak mau, kami memang harus berkenalan dan saling berdiskusi. Berhubung jangka waktu antara pengumuman ini dengan seleksi yang sesungguhnya hanya sebentar, insting kami andalkan untuk memilih pasangan.

Saya, tidak tahu kenapa, agak bersemangat untuk mempersiapkan semuanya. Saya memilih jadi kambing, dan saya lupa teman saya jadi apa (dasar pelupa!). Lalu karena saya tidak punya stok baju banyak saat itu dan saya tidak enak hati meminta orangtua saya membelikan baju baru, saya akali baju-baju saya yang warnanya super netral itu (abu-abu, hitam, dan khaki) dengan menempelkan potongan kain perca sisa yang bisa saya temukan di rumah. Semuanya itu saya tempel dengan selotip. Rencana yang buruk dan saya yang tidak perhitungan itu, menerima konsekuensinya pada saat seleksi. Kain-kain itu lepas satu per satu, baju saya kembali matching, akhirnya saya seperti sukarela menyediakan diri jadi korban semprotan senior-senior.

Seleksi diadakan di aula sekolah dengan lampu yang sengaja dimatika. Kondisinya suram dan depresif, dengan senior-senior berpakaian serba hitam memandang dengan mata yang hampir mencelat keluar dan kata-kata yang bikin tambah ciut. Mereka berteriak-teriak dan menyuruh kami untuk memperagakan sesuatu. Namun mereka melakukannya dengan gaya tersendiri, yang belakangan saya tahu tujuannya adalah untuk menguji mental. Menggunakan kata-kata yang menghujam-hujam ulu hati sehingga siapapun yang berada di posisi saya dan teman-teman saya lainnya, akan merasa dirinya cuma seuprit debu. Saya, orang yang cukup percaya diri dengan berbagai prestasi akademis di tangan saya yang lumayan walaupun tidak jenius, merasa diterpa badai. Saya sampai-sampai mempertanyakan diri bahwa mungkin sebenarnya saya tidak bisa apa-apa dan semua yang telah saya pelajari atau lakukan tidak ada gunanya. Dihantui oleh self-esteem yang di ambang keruntuhan itu, saya tercekat dan apapun yang saya lakukan, saya lakukan atas dasar takut dan bukan kepercayaan diri.

Hasilnya, saya tidak bisa mendemonstrasikan apapun potensi saya dan pada saat itu, saya yakin sekali seleksi ini sudah berakhir bagi saya. Tidak mungkin saya diterima. Saya ingat, saya waktu itu cuma berpikir untuk bisa keluar dari ruangan itu dan mengakhiri siksaan batin di ruang gelap itu yang berlangsung selama dua jam. Saya benar-benar berharap dua jam itu berakhir dan saya akhirnya mengiyakan apapun yang mereka 'tuduhkan' pada saya, termasuk 'mengaku' kalau saya mau masuk teater karena ikut-ikutan. Walaupun kejadiannya tidak begitu, saya mengamini saja karena saya sudah hampir tidak peduli dan berharap jawaban saya membuat mereka diam serta membiarkan saya pergi. Tidak begitu kenyataannya. Orang "hitam" dari berbagai penjuru mengepung saya dari berbagai penjuru serta mencerca saya. Akhirnya saya tidak bisa menahan diri dan menangis.

Namun di antara wajah-wajah sangar itu, saya dihampiri oleh wajah malaikat. Saya tidak mencoba sok-sok dramatisir. Persis seperti itulah perasaan saya ketika itu. Dengan lembut, dia menuntun saya ke sebuah sudut, setelah saya menitikkan air mata dan nafas putus-putus. Persis orang asma kehabisan napas, walaupun sebenarnya saya tidak mengidap asma. Dia menenangkan saya, mengusap-ngusap punggung saya, dan menunggu saya berhenti menangis. Setelah melihat saya cukup tenang, dia bertanya dengan lembut, "apa kamu sungguh mau masuk teater?" Saya mengangguk. Sesudah badai yang menghempaskan saya, saya cukup kaget dengan reaksi saya. Saya sadar, jauh dalam lubuk hati saya, saya ingin masuk dalam komunitas ini, meskipun saya saat itu belum akrab dengan dunia perkesenian. Keluarga saya, semua sarjana ekonomi, tidak ada yang menaruh minat dalam seni. Tiba-tiba saya, entah dari mana, punya keinginan untuk masuk teater tanpa memahami alasannya sendiri. Pokoknya mau saja. Titik.

Dua hari kemudian, pengumuman hasil seleksi ditempel. Rasa ingin tahu, harap, dan takut bercampur jadi satu. Akhirnya saya beranikan diri untuk melangkah ke papan pengumuman bersama teman-teman yang lain. Di luar dugaan, nama saya masuk di situ. Saya satu di antara delapan siswa kelas 1 yang diterima jadi anggota baru teater. Dipenuhi kegembiraan, saya berloncatan dan lari ke kelas untuk memberi tahu teman-teman sekelas saya. Namun sebelum sampai kelas, di persimpangan lorong, saya dicolek oleh seorang kawan yang juga ikut seleksi namun tidak diterima. Dia bilang, kakak malaikat itu berpesan pada saya agar saya baik-baik membuktikan diri saya di sana dan tidak mengecewakannya. Rupanya ia mati-matian memperjuangkan saya di hadapan teman-temannya untuk menerima saya. Mungkin karena ia alumni, rekan-rekan anggota teater segan padanya. Mungkin juga karena ia begitu yakin pada saya, ia berhasil membujuk rekan-rekannya. Saya lebih memilih kemungkinan kedua untuk saya amini. Ada seseorang yang menaruh kepercayaan pada saya yang tampak tidak menjanjikan potensi apa-apa.

Uluran tangan alumni itu, yang sampai sekarang namanya masih jadi misteri bagi saya, merupakan titik balik dalam hidup saya. Saya yang pesimis, tidak percaya pada persahabatan, kesepian mengenal arti persahabatan, kerja keras, dan ikatan yang kuat. Tidak seperti topeng yang mereka tunjukkan di seleksi, mereka sebenarnya sangat ramah dan sangat menerima. Saya yang sepi mencari dukungan keluarga saat itu merasa telah menemukan tempatnya. Saya mengenal rasa senang, tangis, tawa, duka bersama, hal-hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Pengalaman saya bersama mereka mengarahkan saya pada pilihan kemungkinan yang tidak pernah saya jelajahi sebelumnya.

Teater merupakan wadah yang cukup lengkap dalam berkesenian. Seni akting, olah tubuh, sastra, seni rupa, musik, dan sebagainya berkumpul dalam teater. Saya mulai membaca sastra dan menulis puisi sejak saya bergabung dengan teater itu. Penemuan jati diri, kecintaan pada seni diawali dari uluran tangan malaikat tersebut. Walaupun saya belum sampai pada kesuksesan, dalam arti sukses diakui masyarakat, setidaknya saya sekarang tahu anak tangga pertama yang harus saya naiki. Kalau saya tidak diterima di teater itu, mungkin saya tidak akan seperti saya yang sekarang. Saya mungkin kuliah di jurusan yang diinginkan oleh orangtua saya, tidak tahu apa yang saya inginkan, menganggap persahabatan cuma bumbu cerita picisan, tidak punya impian apapun, tidak punya hidup yang sesungguhnya. Mungkin juga saya mungkin tidak akan mulai menulis kalau keajaiban itu tidak terjadi. Apa yang terjadi pada saat saya SMA mengubah jalan hidup saya, hingga sekarang.

Ternyata meski iman saya mencla-mencle, Tuhan masih mau mengirim malaikat di aula sekolah untuk saya. Saya sungguh bersyukur karena Tuhan, melalui malaikat itu telah menaruh kepercayaan yang besar pada saya. Di manapun kamu berada, saya harap kamu membaca ini. Untuk yang dulu tak sempat terucap, dari hati yang terdalam: Terima Kasih.

image, courtesy of cardiophile.com

Tentang Menulis

Selama dua hari ini, terutama kemarin, saya sangat aktif menulis. Salah seorang bilang saya produktif sekali. Tapi anehnya, saya tidak merasa begitu. Saya merasa begitu kerasukan kata-kata hingga kalau saya tidak menuliskannya, kepala saya tidak membiarkan saya istirahat dan terus mengetuk-ngetuk kesadarannya. Pikiran yang satu akan mengalah jika sudah diterjemahkan dalam kata-kata, entah dalam bentuk ketikan atau tulisan tangan dengan pen biru di atas selembar kertas. Namun kemarin, pikiran yang satu menumpuk pikiran yang lain, sampai-sampai begitu yang satu kelar dan saya siap-siap untuk istirahat, pikiran yang lain iri dan muncul begitu saja, minta ditulis lagi. Jadilah kemarin saya berkutat dengan malam sampai lewat hari, tepatnya pukul jam 3 pagi.

Tidak seperti tulisan yang mengandalkan saya untuk aktif berimajinasi, berhipotesis, ataupun menganalisis, tulisan ini begitu liar dan tidak membiarkan saya sendiri untuk mengalterasinya. Begitu saya berusaha untuk melogikannya, pikiran tersebut semakin mendesak saya untuk dikeluarkan. Perasaan yang aneh. Ini bukan kali pertama saya mengalaminya namun ini adalah pengalaman yang paling intens dan 'memaksa'. Tulisan saya yang terakhir 'kemarin', benar-benar di luar kontrol saya, sampai-sampai setelah membaca tulisan saya, saya ngeri sendiri. Saya takut pada kemungkinan-kemungkinan yang disiratkan atau direfleksikan dalam tulisan tersebut.

Apakah bagian dari diri saya mencoba mengadakan komunikasi dengan saya? Saya yakin begitu. Sepertinya ada suatu 'sel' dalam hati saya yang mencoba mengatakan sesuatu pada saya dan saya mungkin menghiraukannya karena saya sibuk dengan kegiatan saya sendiri, membaca. Ketika membaca, saya cenderung untuk mengabaikan apapun dan terus mendorong diri saya untuk masuk dalam dunia bacaan tersebut sehingga suara apapun tidak dapat saya dengar, termasuk suara hati saya sendiri. Suara yang terdengar dari saya cuma ketika saya menggumamkan kalimat dalam bacaan itu, mencoba membayangkan, dan menganalisis maksud dari kalimat itu, sebab tidak dalam semua bacaan, pengarang bersedia untuk memberitahukan maksudnya terang-terangan dan banyak yang sering menaruh simbol-simbol untuk pembacanya artikan atau interpretasikan sendiri.

Akan saya taruh lagi tulisan yang terakhir, yang cukup bikin saya tersentak sendiri.


yang kudengar dari bisikan angin waktu malam

lingga-lingga tak bertepi
membangun sebuah jaman
membeli waktu seakan waktu adalah perjanjian
pemekaran cinta dan asa kau jadikan dasar
bagi pengucapan bakti setia
di mana lidah-lidah api menggelayut di tepi sungai
siap mengantarkan maksud pada laut Agni

jiwa-jiwa berseru
waktu sudah tak lama lagi
sebuah bentuk cinta menunggu di selasaran angin

di peraduan Bunda Sri
kau mencabik-cabik nyawa seorang petani kebebasan
dan kau ambil bulir-bulir mereka untuk nafasmu

dunia dan akhirat menunggu
agar jiwa-jiwamu kembali
mencari akar setiamu
di pangkuan seorang gadis yang tak bisa kau jamah

dan apakah kau tahu kalau setengah wajahku adalah perempuan?

kita boleh mengadu jaman pada tinta-tinta keemasan
di balik lembayung senja
akan kau temukan sebuah pelangi pembalikan
pada kebenaran dan kata-kata yang kau dengar
bukan dari ego
namun dalam nafsu yang kau kekang bagi Sang Surya

lingga-linggamu hanya akan jadi tempat peristirahatan
jiwa-jiwa yang kelelahan
yang merusak jaman dengan gelak tawa musiman

gada punggawa alam
akan kutiupkan pada Sang Kesuburan
dan akan kucabut jirah-jirahmu
seperti pula akan kutanggalkan gusi-gusi ompongmu
untuk kuberikan pada sebuah penciptaan baru
pralambang suci dan mudarat
seperti mata koin yang akan abadi selamanya


Canting Candrakirana



Saya pertama-tama mengira jangan-jangan ini gambaran akhir jaman. Tapi segera saya menghapus pikiran itu, karena saya bukan nabi sebagaimana saya menganggap diri saya bukan filsuf juga. Selain itu, mengartikan tulisan-tulisan semacam ini secara harafiah akan membahayakan semua pihak termasuk diri sendiri. Pada intinya, setelah saya menganalisis dan melakukan flashback terhadap apa yang saya lakukan atau saya lihat akhir-akhir ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus waspada karena banyak pikiran yang lewat, melalui bacaan, obrolan, dan sebagainya. Walaupun hal itu memuaskan kebutuhan saya untuk berimajinasi dan menganalisis, yang lewat-lewat itu bisa membelokkan saya pada jalan yang mungkin saya sesali, yaitu dengan asal percaya saja. Saya tidak menganggap bahwa hal ini berarti saya harus menutup mata ataupun menutup telinga terhadap apa yang terjadi di luar sana, namun saya harus mencernanya lebih dalam lagi, tidak dengan pikiran, tapi dengan hati saya yang sebenarnya, suara hati yang senantiasa memandu saya dalam mengenali mana yang baik dan mana yang buruk untuk saya, mana yang harus saya percayai atau yang saya harus jadikan bahan diskusi lebih lanjut. Yang saya maksud dengan diskusi lebih lanjut adalah menganalisis lagi akar atau sesuatu di balik hal yang pihak lain ingin saya percayai.

Saya tidak jadi merasa kesal dengan pikiran yang mendesak-desak kepala saya tadi, malah saya cukup bersyukur. Bagian diri saya tahu kalau saya cukup senang menulis kata-kata asal-asalan dan tiba-tiba merangkainya jadi cerita atau menambah kata-kata yang bukan-bukan. Setelah itu, baru saya baca lagi tulisan saya dan mereka-reka sebenarnya saya itu maunya apa. Sebagai orang yang jarang berencana dalam menulis dan orang yang suka teka teki, saya memiliki kesenangan tersendiri mencoba mengartikan diri saya. Jadi, hari ini, saya diingatkan lagi bahwa menulis bukan saja menuangkan imajinasi dan pikiran sadar saya tapi juga sarana berdialog dengan diri sendiri, bagian diri yang kurang kita dengar kala kita menyibukkan diri sendiri dengan berbagai kesibukan di sekitar kita.

To listen, to write, to pause, to reflect, to contemplate.

Breath of Pinkspiration




Get to know me more on http://uwipecha.blogspot.com

I: The Magician



There are too many coincidences in my life. One of the example happened this day. Yesterday I was sitting alone in my room and wandering as usual. Remembering my lost love and trying to embrace the beauty of pain and loss, I suddenly realized that my whole relationship with him was perfectly captured by "Before Sunrise". We met in one journey and we spent much time on discussing about life, tragedy, love, etc. Although we clicked, at the end, we maybe like Jesse (Ethan Hawke) and Celine (Julie Delpy). Eventually Jesse went back to America and Celine to France. Maybe we would flawlessly love each other eternally if we knew when to part. Who knows, if Jesse and Celine went further in their relationship, they might find themselves throwing glasses at each other despite the great love they had. This day I had a chance to get myself the copy of its DVD along with the sequel, Before Sunset, and didn't miss it.

Enough lightening to struck my conscience, I realized that this coincide happened in a way that was politically incorrect. Too much time spent on this 'probability meets chance' event. However this coincidence led to another coincidence. Through this, I got a chance to chat with a dear friend of mine who faithfully accompanied me during my years in university. Tears, laugh, and blood. It turned out to be that he needed my help to solve the not-so-misfortune-loss frenzy happened to another friend of us.

Now I begin to believe the notion of synchronicity, the 'central stage' of magician archetype. There maybe nothing called as 'coincidence' because 'coincidence' has its own agenda. Three people want or need each other and nature will organize the way to meet their expectation at each other, consciously or unconsciously. It sounded irrational but something that cannot be explained scientifically doesn't mean that it is incorrect. Maybe at this period of time, science hasn't reached the level to convey and explain this matter in its language yet. Like I say, when something seemed impossible (in our language of mind today) occurs too often, I start trying to convince myself that the impossible is possible.

June 16, 2009

Journal of The Day: The Worst Rap Ever

I went to Kelapa Gading to get my words slaughtered. My derriere suffered from this disguise poised, a stranger accidentally pushed me down on clicking bus, bump bump. Not thumping, it was a public embarrassment turned to loving atmosphere between all passengers. They showed that they care to all of us, including me. A blessing indeed though it kinda hurt when I sit. Purple, maybe? I love that color but not on my butt. Dizzy and sleepy all day, my neural activity nearly blew up my mind, only had 2 hours to practice death. I guess, I'm really introvert huh, even in my writing.

Adieu.

My Daily Journal (09.07.09)

Lately I rarely have a smooth sailing sleep. I got sleepy around 3 AM and fell asleep around 4 AM. Initiate sleeping was a hard "errand" although sleeping should be relaxing. Then I woke up at 8 AM, was grumpy on all the morning commotion in my house, then by the power of miracle I fell to sleep right away and if not, I woke up, felt sleepy all day. This morning the miracle worked and I got up for real at 1 PM. What a day. I'm such a nocturnal being. I couldn't do everything right at noon because I really got distracted by noises and overstimulated by TV and that sort of stuff that happened when people were actually walking and doing what they thought to be their work responsibility. I was such a loner deep inside my heart. The only time I think that hip hop house music and nightclub were cool and hip, is when I was sedated with glasses of vodka.

Getting upset because someone overstepped my boundary, but I'm just going to stay quiet, no details.

I caught up my reading today: The Dictionary of Khazar by Milorad Pavic. I heart that Serbian poet. He managed to write a novel that required ingenious mind for both the writer and the reader. I was challenged to place the puzzle altogether and to comprehend the darkness in the mystical world of Khazar. My right brain and left brain were stimulated to work together. In other words, I had to use my imagination and analysis skill just like a detective on the crime scene. I really liked what he wrote, particularly this passage: "When we read, it is not ours to absorb all that is written. Our thoughts are jealous and they constantly blank out the thoughts of others for there is not room enough in us for two scents at one time." I thought it was a perfect hint to understand Khazar and al kind of books.

Also, I planned to finish my short story "Cari Surga" (Looking for Heaven). It was supposed to be the final part of the story. Because of that, I'm nervous. To put an end means to show readers my point of view on the conflicts in that story. The final ending, I'm worried that I might get booed, not from the readers but particularly myself. I'm always kinda hard on criticizing myself. As I'm ending this journal, I'm preparing myself to switch to my laptop and start typing. May The Bless will always be for all of us.


Dante and Beatrice gaze upon the highest Heaven; from Gustave Doré's illustrations to the Divine Comedy.

Best Friend and Best Path

Inspired by Introverto's blog entry, I want to share what I think about best friends. Yes, you may question my eligibility on this matter because I'm rarely seen to hang out with same persons. As an adventurer in mind, I don't depict myself to have a group of friends sticking together until death do us apart. I flee to various groups of people to satisfy my need of diversity. Having said that, it's unlikely for me to have a best friend. When I say 'unlikely', it means that my chance of having a best friend is 1%, compared to 99%. Nevertheless, I do have a best friend, only one and this person is a he. This fact may be interpreted by you folks as impure friendship for there must be a sexual tension between me and him. And to please rational logical mind, I must declare that my probability having a true best friend has dropped to 0,1%. No matter how you may call that white lie, it is the truth. Truth is not generalization but truth is just a truth that can only be sensed by your heart.

First of all, let me tell you what my best friend definition is.

A. Best friend is not always a person whom you 'force' yourself to hang around him/her all the time. Once when I was in high school, I had who I thought as my best friend. We hanged out together in school like a rat sticking to a glue board. We felt an urge to involved each other in every aspect in our life. We shared stories about our crush including plot of strategies to conquer, had an obsession, in facebook language, to update status every second, and take any advantage we sought for from each other. The friendship, though it seemed deep, actually was superficial. We didn't sync. At times, we were so fed up with each other for no reason and tried to find several excuses in order not to meet each other. Come to think it again, maybe our friendship was based on solely taking and giving, and we acted to meet society's and our expectation of how friendship should be: vowing to flock together 'til death do us apart. As you can see, it didn't work. I ended up putting her and me in this category.

B. Best friend is not always the first person you go to if you have problems and he/she has no obligation to abandon his/her life according to your wimpy needs. We still have our own lives to manage. If you can solve your own problem, do it. As for help when you really need it. Besides, he/she may not be the expert on your problem. Simply put, being a best friend, doesn't grant you any rights to take all of his/her space. I have experienced the whiny side and on the fed up side. My best friend told me about this once and I was not mad. I respected his honesty. Though I felt ashamed and ran away from him for quite some time, he was not disgusted of my childish behavior, he understood, and he welcomed me back. And this leads to my third also the inevitable part of true friendship.

C. The "Sync" Factor. This is one part that might not be comprehended by rational explanation. It was like why did you fall in love with this guy/girl and not with others. Same thing also happens when it comes to friendship. We don't know why but in our heart we know he/she is the "one", the best friend we long for. We don't know this for sure if we don't let ourselves to have a process together. He/she is the "one" if you find that you evolve together. He/she brings the best of you and you also bring the best of him/her. This is not based on give and take principle. It just happened through conversing, experiencing things, and the "Sync" factor. I can take what my best friend criticize me on better than others because we sync. Unfortunately, I'm unable to give a clear definition on this. You know when you know it. The first time I met my best friend, we didn't know each other, we didn't tell names, either him or me never asked about it anyway, but somehow there was a strong urge for us to converse together. We did. I knew his name through others and so did he. However as we conversed, I felt in the deepest in my heart that we sync. We didn't have to spend almost all the time together. We didn't update each other on what we were doing like the stereotypical best friend should do. We had our own secrets. Though he didn't tell, I could see it through. I didn't push him to spill it out, I just told him what he needed to hear. Vice versa.

This was when his path and my path crossed over. As time flies, I change, he changes. We see each other lesser and less. We have different path to walk on, but when we intersect on our way, we celebrate our togetherness and our souls are still in sync. When it's time to move on, we walk through our own path again. True friend is the one who is still in our heart although we 'split' for the best to be on our way to The Path. If the friendship is true to the core, we will gladly welcome our friend back when our path crosses once again. It is a strong bonding and connection. We feel peace though we are in sorrow and we love, not in erotic way but it's more of compassion, a caring love, friendship love. This is the essence or as philosopher may call it, the ding an sich of true friendship.


image, courtesy of neesya.blogspot.com

Healing Emotional Wound



When I am hurt, I fully concentrate in the present moment. I don’t see problems, I see situations that I have to solve. If I have this obsessive thought, my Zahir, I start looking around and see : This is a tree, this is a car, this is something, and that….little by little, this obsessive thought disappear. So, instead of having a problem, I have a situation, to solve.

Having said that, I’m sure that you can be very helpful if you decide to share with us how do you heal your emotional wounds.
Thank you!

www.paulocoelhoblog.com

Well, this is me sharing :)

In life, we cannot always get what we want. Frictions come around and sometimes it leaves us wound. We get hurt, we feel pain. People (at least my friends and me) tend to try cover it up by running away to indulging things. We drink, we got high, we were bitching about other people, etc just to make our lives seem better and less “miserable”. We turn our head to another direction and pretend that our wound doesn’t exist. However as time passed by, the wound was getting bigger, we ran away again, then we lost ourselves. Our lives seem like a vanity, no purpose, just blank, nothing.

We always question why happiness last only few seconds and pain is endless. I think that’s because when we feel happy, we don’t hesitate to acknowledge that emotion. We let happiness perform “on stage” then after the performance is finished, they go home. On the other way, when we are hurt, we don’t want to acknowledge it. The pain’s performance is delayed so they wait there. They get more anxious and hurt us more. In other word, the pain is more severe than before.

What I usually do is to take some time to be with myself. I feel the pain, I cry, but I don't regret. I just let everything flow. I express my feelings either in poetry, any kind of writings, or drawing. After that, I feel more relieved and moreover I can read my writings again and try to see the big picture, reflect, and contemplate on it. Then I can see things more clearly and see what I can do to solve the problems or to prevent or make sure that these problems won't occur again in the future.

I don’t talk about my pain to my friends because sometimes, they mean well but they don’t really know me, so they may try to drag me to what they think the best of me but in fact, it may not be the right way for me. I am the one who know myself better and the answer often lies beneath me, waiting to be grasped.

I believe in God’s way to lead me to The Path. I believe that God is watching over me. When I need to talk, I talk to God. I pray but I also have this “peculiar” method. I send text messages to God. I don’t know if God has any cell phone but I think God gets my message, with or without that device.

Nostalgia Jaman SD

Malam ini, di twitter teman-teman saya sedang ramai berbagi tentang jaman mereka masih SD. Apa yang mereka suka pada saat itu, apa yang mereka lakukan, kebiasaan-kebiasaan dengan teman, dan sebagainya. Hari ini, saya cuma mau berbagi, tanpa sok-sok analisis :D

Waktu SD, saya...

Suka nonton Si Komo. Si Komo-nya Pak Seto. Besar sekali berjalan-jalan di tengah kota.
Suka nonton Sesame Street. Ernie dan Elmo, Cookie Monster, tokoh favorit saya. Saya marah-marah sama orang rumah kalau saya ketiduran dan mereka lupa membangunkan saya untuk nonton Sesame Street. Saya ingat sekali, jam dua siang di RCTI. Mungkin acara TV ini yang membuat saya sering bermain boneka, sok-sok memberi kepribadian dan "suara" pada boneka itu. Bahkan sampai sekarang, saya masih bermain dengan boneka ikan kesayangan saya. Punya nama, punya attitude, dan punya suara.
Juga suka nonton Legenda si Ular Putih. Pay Su Chen. Mimpi-mimpi kalau suatu hari saya bisa secantik, seanggun, dan sesakti dia.
Terobsesi dengan komik Mary Chan. Saya sempat merengek minta les balet, tapi tidak begitu digubris oleh orangtua saya. Mereka saat itu menganggap lebih baik saya rajin sekolah saja. Alhasil saya sok-sok menari di mana saja, termasuk di mall dan tempat-tempat umum lainnya.

Koleksi berbagai macam benda dan tukar-tukaran dengan teman, dari kertas file, stiker, mainan gratis dari Chiki (bentuknya bulat, pipih, dan bisa digelindingin).

Tukar-tukaran diary. Isi biodata, nama lengkap, tanggal lahir, hobi, dan sebagainya. Plus tempel foto. Rasanya makin sering diminta teman untuk mengisi diary mereka, makin merasa beken.

Hobi main catur dan main karet. Main caturnya tolol sekali, sradak sruduk tanpa perhitungan, tapi karena keberuntungan, menang juara tiga di lomba SD. Main karet, awalnya saya tidak jago. Tapi karena saya orangnya tidak mau kalah, saya latihan setiap hari. Suatu hari, saya ingin memecahkan rekor main tinggi-tinggian. Lompat karet setinggi dada. Saking semangatnya, saya lompat sekuat-kuatnya, berhasil dengan cukup memalukan. Rok saya tersingkap dan terlihatlah celana dalam saya dengan bangganya.

Menyontek untuk pertama kali, waktu kelas 2 SD. Saya tertangkap basah mengintip buku catatan, dan satu nomor soal dianulir oleh guru saya. Tapi herannya saya tetap dapat nilai 90. Terima kasih Bu Guru!

Pembela teman-teman yang perempuan. Kalau ada anak laki-laki yang isengin teman-teman saya, saya suka sok pahlawan membela mereka. Bisa dengan kata-kata pedas, dan juga main fisik. Saya bukan orang yang jadi korban bullying tapi justru saya pelaku aktif bullying. Alhasil, walaupun badan saya termasuk paling kecil, saya cukup ditakuti oleh anak laki-laki.

Teacher's pet. Kebetulan waktu itu, ibu saya cukup galak menongkrongi saya untuk belajar dan akhirnya nilai saya lumayan pada saat itu. Akhirnya saya "disayangi" guru-guru. Saya suka bangga sendiri kalau guru meminta saya menulis catatan di papan tulis, menyuruh saya menjawab pertanyaan, dan sebagainya. Saya juga senang kalau diminta guru menghapus papan tulis. Karena saking senangnya, saya giat sekali. Kalau ada tulisan di atas-atas dan tinggi badan saya tidak memungkinkan saya untuk menghapus, saya melompat. Mungkin karena itu, teman saya menjuluki saya "si kodok".

Naksir dengan teman SD saya. Inisialnya F, karena dia paling tinggi dan tampak paling dewasa di antara teman-teman saya yang kucrit-kucrit. Entah kenapa pada saat itu saya juga suka melihat laki-laki berkumis. Tukang bangunan yang sedang memperbaiki pagar rumah saya berkumis dan saya suka keluar mengajak dia mengobrol.

Ditaksir oleh teman SD yang paling kecil di kelas. Anaknya suka lari-lari dan isengin anak-anak. Saya tampar sekali, lupa karena apa. Tapi waktu itu menamparnya bukan karena marah, ingin coba-coba saja soalnya di sinetron, pemeran-pemerannya hobi tampar-tamparan.

Bingung melihat dua teman baik saya saling berebut laki-laki tapi diam-diam. Maksudnya perang dingin, diam-diam bersaing, tidak mau saling ngaku. Teman saya yang satu, ngomongin soal teman saya yang lain. Eh yang "ditembak" sama laki-laki ini malah teman saya yang lain. Tapi umur pacarannya cuma tiga jam. Waktu istirahat jadian, teman saya ini mutusin laki-laki ini pas pulang sekolah. Kayaknya saat itu, laki-laki ini pujaan perempuan sekali, saya juga beranggapan begitu. Tapi setelah beberapa tahun berlalu, saya ketemu dia dan bertanya-tanya, "apa bagusnya ya ni laki sampai-sampai dulu satu sekolahan naksir sama dia?".

Tentunya banyak yang terjadi pada saat saya masih SD, bayangkan saja enam tahun di SD. Banyak kenangan. Tapi yang saya tulis di atas, termasuk momen-momen yang paling berkesan buat saya. Innocently bad. :D


image, courtesy of www.savagechickens.com