Superman-ku oh Superman...

Kemarin, untuk pertama kalinya saya nonton di Djakarta Theater. Gedung bioskop yang antik, dulunya jadi urusan Pemda tapi sekarang diambil 21, dan besar sekali. Begitu besarnya, sampai kata Iin, "Kalo nyari bangku di sini, lo bisa nyasar. Mesti manggil 'In... In...'". Begitu kira-kira. Saya diculik Inayah Agustin, "Welcome to the club!", katanya. Anggotanya? Sudah ada Inayah Agustin, Echa, Timo (kembaran Mas Japro - sumpah mirip banget), dan menyusul Olivia. Khukhukhu. Tak tanggung-tanggung pula yang kami tonton premier Superman Returns. Film superhero klasik, yang dipastikan penontonnya bakal membludak, dari anak kecil sampai oom-oom dan tante-tante. Mungkin juga kakek-nenek. Entah apa daya tariknya. Begitu tidak manusiawinya sampai-sampai pakai celana dalam di luar. Tapi tetap saja banyak yang suka. Saya sih terus terang tidak begitu 'in'. Superhero lagi heboh di industri film dan saya sebagai salah seorang penikmat film merasa harus tahu. Jadilah saya menonton di sana.

Tentu saja ekspektasi saya adalah cerita superhero. I mean, kepahlawanan! Walaupun klasik, yang baik menang dari si jahat. Saya ingin tahu detail cerita pergulatan itu. Bukan kisah cinta picisan ala telenovela! Inilah yang saya alami dengan Superman. Fernando Jose, diganti superman. Kecewa? Jelas. Marah? Tentunya. Tanyakan saja pada Iin dan Echa. Reaksinya pasti sama walaupun derajat atau intensitasnya berbeda-beda.

Energi negatif memenuhi saya, menggelegak, mendorong saya untuk tak henti-hentinya mengata-ngatai film itu. Reaksi yang mendengar bermacam-macam. Ada yang, "untung gue gak nonton. emang gue udah feeling filmnya ga asik." Sok tahu, tapi tidak apalah. Hak masing-masing pribadi. "Emang gue gak suka. Masa' jagoan pake celana dalem di depan.". Ada juga, "Yah, padahal gue udah rencana pengennonton lho." "Ah masa sih sejelek itu, dari trailer-nya, kayaknya lumayan deh." Trailer memang suka menipu. Namanya juga jualan. Reaksi lain (yang belum nonton), "Ah lu kan belum pernah nonton Superman yang pertama." Hm. Mungkin. Tapi saya menunggu komentarnya setelah menonton.

Oh ya, perlu saya tambahkan. Perempuan, yang nonton di sebelah kanan saya, ngorok. Bukan menguap. Tapi benar-benar ngorok, seperti bunyi babi!

Tapi kalau dipikir-pikir, walaupun super tidak puas, paling tidak saya masih 'happening' gaul...

sex - the first?

What is sex? Jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan. Itu arti secara kamus. Dalam kehidupan sehari-hari, orang mengasosiasikannya sebagai sexual activity. Menggoda, foreplay, penetrasi (kalau laki-laki dengan perempuan, atau laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan dildo dan semacamnya), orgasme. Ini yang biasa dilakukan dengan orang lain. Kalau sendiri saja? Ada yang namanya masturbasi. Bisa sampai orgasme juga.

Sex. Ditabukan oleh banyak budaya dan agama. Dianggap sebagai topik 'kotor'. Diasosiasikan dengan dosa. Namun sex erat kaitannya dengan fungsi biologis meneruskan keturunan. Freud saja bilang sex adalah kebutuhan dasar. Setiap orang suka seks. Buktinya kebanyakan orang pasti tertawa mendengar humor seks. Sekedar catatan, menurut psikologi humor, orang tertawa mendengar lelucon yang mengangkat hal-hal yang direpresikan.

Saya pernah baca di buku Zahir karangan Paul Coelho, tentang mengapa sex ditabukan. Pada suatu masa, laki-laki dan perempuan bebas melakukan hubungan seksual. Lahirlah banyak manusia-manusia baru. Namun sumber daya alam yang ada rupanya terbatas. Keadaan ini melahirkan perseteruan, peperangan yang menghasilkan banyak korban di pihak perempuan dan anak karena mereka dianggap lebih lemah. Seorang yang dituakan, berkharisma, dianggap dekat dengan Tuhan berusaha untuk mengatasi bencana ini, dengan melakukan intervensi langsung pada sumbernya. Seks bebas = banyak manusia. Dengan alasan wejangan Tuhan, ia menabukan seks bebas dan mengharuskan seorang laki-laki harus setia dengan seorang perempuan. Dalam masyarakat, ikatan kesetiaan dimanifestasikan dalam bentuk pernikahan. Sex after marriage. Seks dilakukan dengan orang yang diyakini sebagai pasangan seumur hidup. Sex is a love devotion.

Sebagaimanapun budaya menabukan seks bebas, toh masih banyak orang yang masih tidak bisa menahan godaan seks. Banyak orang menganut seks bebas (diakui ataupun tidak) yang akhirnya menciptakan subkultur baru. Seks bebas. Dengan perkembangan arus informasi, orang terekspos dengan berbagai macam norma, termasuk yang saling bertentangan. Anak muda diajarkan oleh orangtua bahwa seks harus dilakukan setelah menikah. Namun ia juga mendengar bahwa seks boleh dilakukan sebelum menikah. Alasannya macam-macam. Salah satunya alasannya adalah kecocokan. Pernikahan adalah lembaga yang mengikat. Menuntut kesetiaan. Di dalamnya, tentunya ada seks. Bumbu cinta. Saluran penghasil anak. Lebih jauh lagi, kebutuhan dasar yang dinanti-nantikan untuk dipenuhi setelah direpresi sekian lama. Kalau tidak ada kompatibilitas dalam hal seks, tentunya pernikahan itu bagai neraka. Misalnya, suami lebih suka sodomi. Istri maunya lewat vagina. Oleh karena itu, pada masa pacaran, seks juga termasuk hal yang sebaiknya dijajaki dengan pasangan. Dan saya adalah orang yang menganut paham ini.

Banyak orang yang sudah cenderung permisif dengan sex before marriage. Ada yang menganut totalitas seks bebas, dalam arti sex is basic need. Drive utama-nya tak lain adalah nafsu. Namun masih ada yang berusaha menyeimbangkan dengan norma lama. Bahwa sex before marriage bisa dilakukan asalkan di dalamnya ada cinta. Jadi, sex bukan hanya nafsu, sex = making love.

Dilema pandangan ini terutama dialami oleh first-timer. Ragu kapan sebaiknya virginitas dilepaskan. Inilah yang saya alami saat ini. They say that your first sexual experience should be memorable. Therefore do it with someone you love. Saya pribadi bingung dengan sex driven by love. Pertama, apa yang dimaksud dengan cinta? Buat saya, cinta sangat abstrak. Apa yang dimaksud adalah kenyamanan dan rasa percaya (membiarkan benda asing masuk ataupun memasuki liang misteri)? Kedua, seberapa yakin bahwa hubungan seksual dilakukan karena cinta, bukan nafsu? Bisa dua-duanya dengan persentase yang cuma bisa dikira-kira. Atau jangan-jangan hanya nafsu tetapi dijustifikasi sebagai cinta hanya supaya terdengar lebih mulia?

Akan tetapi ada juga yang bilang bahwa pengalaman hubungan seks pertama sebaiknya biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Kalau begitu dahsyat, nantinya di hubungan berikutnya (dengan orang yang berbeda), orang akan terperangkap membandingkan sehingga tidak pernah tercapai kepuasan. Bukan rasa senang, melainkan menderita terperangkap memori masa lalu. Bagaimana hidup bisa berjalan maju kalau orang hanya melihat ke belakang?

Saya cukup pusing dengan hal ini. Sampai-sampai saya mengajukan pertanyaan, "Dalam hubungan kita sampai sekarang ini, do you want me just for sex?" Pertanyaan bodoh yang cukup membuat yang ditanya marah besar dan saya kelimpungan menjelaskan posisi saya, dan meredakan amukannya. Kemudian selama beberapa hari, saya berpikir. Saya mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan orang lain dan mulai menggali diri saya sendiri. Proses yang sulit. Orang terlalu sibuk mendengar sana sini dan akhirnya sulit membedakan yang mana suara hatinya.

Saya akhirnya memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan ini itu, wassa wussu. Pusing sana sini untuk hal-hal yang jangan-jangan sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Begitu banyak hal yang mungkin bisa dijawab namun belum tentu itu adalah jawaban yang sungguh-sungguh benar. Pikiran manusia begitu penuh dengan referensi sehingga ia sulit sekali membedakan the real self-nya. Easy going saja. Saya percaya bahwa diri saya akan tahu kapan saat yang tepat. I'll do it when I'm ready to.

course for the self

Setiap orang punya masalah. Jangan-jangan setiap orang menciptakan masalahnya sendiri. Masalah atau tidak, bukankah sangat ditentukan oleh persepsi pribadi? Akhir-akhir ini, seperti banyak orang di dunia ini, saya dirundung masalah-masalah. Saya pun menjadi bingung, uring-uringan, dan membuat teman-teman saya bosan mendengar saya. Saya memang suka ngoceh-ngoceh ngalor-ngidul curhatminztuin kalau saya merasa punya masalah. Rasanya bukan hanya itu, kelakuan saya ternyata menciptakan masalah-masalah baru. Masalah baru yang ternyata membuat saya lebih megap-megap dari sebelumnya. Masalah hubungan antardua orang, masalah perasaan, masalah kesepakatan (yang menjadi berubah-ubah lantaran saya bingung), masalah memikirkan orang lain. Masalah dengan orang yang sangat saya sayangi. Orang yang bisa membuat dunia saya jungkir balik, terbang ke mana-mana. Saya lebih uring-uringan lagi dari sebelumnya.

Well... Saya tidak akan menceritakan detail kisah saya dengan dia, selain karena terlalu pribadi, juga terlalu rumit dan panjang. Saya sendiri saja sulit disuruh menceritakan secara oral. Saya pasti melewatkan detail-detail yang saya anggap penting, bukan, semua detail saya anggap penting dan saya merasa berkata-kata tidak cukup merengkuh elemen-elemen hubungan saya dengan dia. Pada intinya, saya menjadi terlalu manja, terlalu menggantungkan diri. Sementara saya sibuk menampilkan ekspresi ke-BT-an saya, dia juga sebenarnya punya masalah sendiri yang ternyata jauh lebih berat dari saya, jauh berefek pada masa depan, pencapaian, dan hidup. Saya ingat kata-katanya, "Belum tentu 20 tahun lagi, gue masih hidup. Dan gue butuh waktu untuk diri gue sendiri." "I'm not your problem solver, right?" Yup, baby.

Saya berpikir jangan-jangan hal-hal yang saya anggap masalah sebenarnya bisa bukan masalah. Jangan-jangan masalah yang benar-benar masalah ada dalam diri saya. Saya yang selalu membawa masalah ke dalam perasaan sulit berpikir rasional. Saya yang tidak percaya dengan kemampuan saya sehingga sering bergantung pada orang lain. Saya yang selalu meragukan setiap keputusan saya sehingga sering berubah-rubah. Saya yang terlalu berpikir pendek dan tidak menyeluruh, tidak taktis. Saya yang sering mengabaikan setiap kesempatan hanya karena saya tidak suka dengan suatu cara. Pada intinya, saya manja.

Selama duapuluh tahun lebih saya hidup, saya baru menyadari hal ini. Mungkin orang-orang di sekitar saya tidak berani mengatakan hal ini meskipun mereka terganggu dengan sifat saya. Mungkin mereka diam-diam mengeluh dalam hati. Dan saya rasa saya tidak bisa terus-menerus membiarkan diri saya pasif dan menunggu orang lain menunjuk apa kesalahan saya, apa yang harus saya perbuat, dan apa konsekuensi dari segala sesuatu yang saya lakukan. Saya adalah motor kehidupan saya, saya yang menjalaninya, dan harusnya saya adalah orang yang paling tahu dengan diri saya.
Saya harus lebih mandiri.
:)

EMPATHY-ALTRUISM: the existence

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dengan kata lain, manusia membutuhkan pertolongan orang lain. Orangtua membantu anak dengan mengajarinya berbagai keterampilan sosial agar anak mampu berfungsi dengan baik sebagai anggota masyarakat. Dalam lingkup nasional, perilaku menolong tampak pada saat terjadi bencana tsunami di Aceh. Banyak orang memberikan sumbangan untuk membantu pemulihan korban bencana.

Perilaku menolong menjadi salah satu kajian dalam Psikologi Sosial. Berbagai teori Psikologi Sosial berusaha menjelaskan perilaku ini. Salah satunya, empathy-altruism hypothesis. Perilaku altruis merupakan perilaku menolong orang lain yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang ditolong, tanpa terlalu mempedulikan kesejahteraan diri dan empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan merasakan apa yang dialami orang tersebut. Teori ini mengatakan bahwa jika seseorang merasakan empati terhadap orang lain, ia akan memunculkan perilaku altruis terhadap orang tersebut (Aronson et al. 2003).

Akan tetapi menurut kami, pure altruism tidak pernah ada. Motivasi seseorang untuk membantu orang lain sebenarnya terpulang pada pemenuhan kebutuhan pribadinya. Ketika seseorang menolong orang lain, ia akan merasakan kepuasan tersendiri karena telah berhasil memenuhi kebutuhannya. Salah satunya esteem need. Sudah menjadi konsensus umum bahwa kita harus mengucapkan terima kasih atas pertolongan orang lain. Ucapan terima kasih dan mungkin disertai pujian akan meningkatkan self-esteem seseorang. Selain itu, ia akan mendapatkan reputasi baik di mata orang-orang. Menurut Rogers, seseorang akan merasa memiliki self-esteem yang tinggi apabila ia mendapat feedback yang baik dari lingkungan. Ia merasa bangga karena dirinya berada di ‘atas’ orang lain, setidaknya sama berharga dengan orang lain.

Mengenai empati, kami berpendapat bahwa empati akan muncul apabila didorong oleh motivasi tertentu. Misalnya, kita melihat seorang teman murung setelah mendapat nilai quiz yang buruk. Kita berempati terhadap orang itu karena dulu kita pernah mengalami hal itu dan kita berharap ada orang yang mau memahami dan menghibur kita. Mungkin dulu kita tidak pernah mendapatkannya. Dengan berempati pada orang itu, kita akan merasa lega karena kita tidak seburuk orang lain yang tidak mempedulikan perasaan kita. Atau mungkin juga kita tidak pernah mendapat nilai yang buruk namun kita takut bahwa suatu saat kita akan mengalaminya. Kita memproyeksikan perasaan pribadi kita kepada orang tersebut dengan berempati terhadap orang tersebut. Selain itu, mungkin kita juga berharap orang lain akan melakukan hal yang sama apabila kita mengalami kemalangan.

Inilah yang dimaksud dengan social exchange theory. Teori ini mengatakan bahwa seseorang menolong orang lain dengan mengharapkan suatu imbalan (Aronson et al. 2003). Salah satunya, adalah positive feedback baik dari diri sendiri maupun orang lain. Orang seringkali memegang prinsip belief in just world, bahwa hal baik akan selalu terjadi pada orang yang baik, dalam hal ini suka menolong (Aronson et al. 2003).

Namun kami sering mendengar orang yang mengeluh karena tidak ada orang lain yang membantunya saat kesusahan. Padahal ketika orang lain membutuhkan bantuannya, ia selalu menolong orang tersebut. Dalam cerita rakyat Malin Kundang, dikisahkan bahwa ibu Malin Kundang mengutuk Malin Kundang sebagai anak durhaka karena setelah pengorbanan-pengorbanan yang dilakukannya, Malin menolak mengakui ibunya. Tindakan ibu Malin memikirkan tentang pengorbanan-pengorbannya untuk Malin sudah menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar tulus membesarkan anaknya.

Dalam masyarakat Indonesia, dikenal pemeo banyak anak banyak rejeki. Berbeda dengan kebudayaan di Barat yang ‘melepas’ anaknya setelah cukup umur, kebudayaan timur menganggap bahwa anak adalah milik keluarga. Anak diharapkan dapat memperbaiki nasib keluarga dan menjadi sumber kebanggaan keluarga di masyarakat. Misalnya, ada orangtua yang ingin anaknya menjadi dokter karena profesi dokter sangat dihargai masyarakat. Oleh karena itu, mereka membesarkan anak dengan sebaik-baiknya, memberikan fasilitas sebaik yang mereka mampu. Ketika anak tidak berhasil memenuhi harapan orangtua, mereka kecewa dan mungkin menganggap anaknya tidak tahu balas budi. Kembali pada cerita Malin Kundang, ibu Malin mungkin sebenarnya juga ingin mendapatkan penghormatan masyarakat yang bersumber dari anaknya. Berdasarkan ilustrasi-ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa pure altruism tidak ada, dalam hubungan orangtua dan anak sekalipun.


by: OLiPH & Joey

Catatan Mentok-Mentok Dikit Nyampe Finish

HIP HIP HURRAY!!!! Akhirnya kemarin saya sudah melangkahkan kaki ke depan pintu gerbang kebebasan saya. Saya sudah melewati tahap ujian akhir Kontes, yang selalu ditunggu dan diharap-harap cemas selama semalam. Saya tidak bisa mencapai kondisi REM alias terbangun-bangun terus. Mungkin night terror (hah, over dech). Walaupun mungkin karena masalah kasih-kasihan, saya yakin 70% gara-gara kompre keesokan harinya. Mungkin sekali-kali saya harus yoga untuk menenangkan batin saya yang tidak keruan juntrungannya. Rasanya saya terperangkap di dunia gelap yang tidak berujung, seperti saya memanggil nama Brad Pitt di kunjung bunga tidur saya namun dia terus berlalu dengan Angelina Jolie yang bikin saya ’mak nyes’. In, pinjem Brad PITT!!! BRAD PITT!!!!!!!!!!!!!!

Kembali pada topik semula, alhasil saya terkantuk-kantuk sampai di kampus dengan wajah garang, tak bergairah, seperti ayam yang mau disabung.

(Soundtrack: Why Does The Sun Go On Shining)

Di Hall C-lah saya bertemu Iin dan kami bercurhat sepanjang pagi menuju Kompre Kontes, lalu mengisi bulletin board dengan judul last supper / perjamuan terakhir. Catharxis, cuy.....

Akhirnya saya dengan bantuan saudari Iin ’menciptakan’ sebuah lagu, yang saya beri judul ’Mars PostKontes’

Oh kontesku ku tidakkulupakan.....

kan terkenang selama hidupku

biarpun saya pergi jauh

tidakkan hilang dari kalbu

Oh kontes kusesali

Engkau kuhargaiiiiiiii

BEBASSSSS!!!!!!! Life oh life.

Secercah sinar harapan menyambut hidup saya, tangan malaikat menarik saya dari jurang kegelapan, dan berakhirlah saya dengan Saudari-saudari Kesedihan (Iin , Enno, dan Nining) di PS: ngiler-ngiler sepatu merah MiuMiu dan saya-Nining mendeklarasikan bahwa kami bersedia menjadi pacar siapapun yang membelikan kami MiuMiu setiap minggu, makan Chicken Maryland Tamani, ’browsing’ lingerie di Metro, menemani Rekan Sebangsa dan Setanah air (Iin) beli es krim Baskin Robbin yang bisa membuat dirinya menyentuh surga, dan menonton X-Men 3(sudah diskala derajat favorableness masing-masing kami oleh Saudari Iin).

Setelah menonton X-Men 3, kami berpisah. Kadet Enno menjemput kekasih hatinya yang sedang ’berciat-ciat’ sedangkan Kadet Nining dan Kadet Iin terakhir-terakhir melalui SMS-nya, saya ketahui berhasil memperoleh buku Brad Pitt yang tentunya membuat saya iri hati sekali. Sedangkan saya? PARTY DONKK!!! Maliq D’essential di NYC, diwawancara Global TV. I’m on the news, man!!

Akhirnya, saya, seperti yang didaulat oleh Jenderal Japro, pulang ke rumah jam 2 pagi dengan selamat sentosa.

LIFE OH LIFE...

(Soundtrack: Life-Desree)

alien mind-invasion & molecular-freak : what a day!

Jakarta, 19 Mei 2005
14:04 Ruang Eksperimen Lt. 6 Gedung C UNIKA ATMA JAYA


Alien mind-invasion

Siang ini di saat saya dan teman sekelompok burnout mengerjakan tugas metode kualitatif, menganalisis duapuluh halaman verbatim wawancara dan melakukan coding dan apapun yang asing bagi kami karena dosen kami lebih sering berdiskusi di kelas dan memukau kami dengan daya analisis yang tajam, tepatnya tidak terpikirkan. Teman saya, Joey, tiba-tiba menyeletuk, “Liv, coba lo cerita ke Fenny soal Yesus dan bayi tabung.” FYI, Joey teman saya yang aneh dan omongannya cuma berkisar selangkangan. Fenny adalah pacar Joey yang lemah lembut, feminin, baik hati, dan saya tak habis pikir mengapa dia mau dengan Joey. Saya teringat cerita guru Tata Negara saya di kelas dan mulailah saya bercerita kepada Fenny yang menatap ingin tahu.

Alkisah pada suatu hari yang entah siang entah malam entah pula di mana tempatnya, alien-alien ingin melakukan percobaan bayi tabung. Seperti yang dilakukan para produsen obat di Amerika yang mencobakan obat antimual untuk orang hamil kepada orang-orang India yang akhirnya menghasilkan produk (baca: bayi) cacat, alien-alien menjadikan manusia, yang notabene adalah makhluk yang lebih rendah dan mudah dibodohi-bodohi, sebagai kelinci percobaan. Maka dikirimlah malaikat yang sebenarnya alien untuk memukau Maria dengan cahayanya dan mengirimkan pesan yang dipoles sedemikian bagusnya yang inti sebenarnya meminta Maria sebagai kelinci percobaan.

Mengandunglah Maria, dan turut serta bersamanya, Yusuf, yang percaya dengan cerita Maria, berjalan menuju Betlehem untuk ikut sensus penduduk. Di tengah jalan, Maria ingin melahirkan dan berakhirlah ia di kandang domba. Bum! Yesus lahir. Malaikat bersuka ria menyanyikan Gloria, yang sebenarnya adalah sekumpulan alien yang sedang bersuka ria karena percobaan bayi tabungnya berhasil. Akhirnya Yesus, yang sebenarnya alien, mengajar manusia-manusia yang saat itu masih rendah peradabannya (mereka suka membunuh, mencuri, berbohong, dan sebagainya). Untuk kepentingan itu, Yesus melakukan mukjizat, seperti mengubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, dan sebagainya. Singkat cerita, kelahiran dan karya Yesus adalah misi alien. Mengenai orang Majus dari timur yang dituntun bintang timur menuju Yesus, sebenarnya bintang timur itu adalah UFO.

Ini adalah salah satu versi penjelasan dari misteri penciptaan yang tidak pernah terbukti dan selalu menarik saya untuk bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan.



Jakarta, 19 Mei 2005
14:50 Ruang Eksperimen Lt. 6 Gedung C UNIKA ATMA JAYA

Molecular-freak

Pernahkan anda berpikir bahwa dunia kita sebenarnya terdiri atas beberapa dimensi? Mungkin tidak. Lain halnya dengan saya dan Joey. Menurut pemikiran kami yang cukup ngalor ngidul, makhluk yang kita sebut sebagai manusia, hewan, dan tumbuhan sekarang tinggal dalam suatu dimensi. Suatu saat, dimensi ini akan penuh apabila tidak ada ‘kematian’. Kematian merupakan usaha evolusi untuk mempertahankan density dimensi ini. Manusia mati, menjadi arwah, yang sering disebut hantu atau arwah gentayangan. Hal ini mungkin dianggap kegaiban di dunia Barat, tetapi berbeda di negara kita. Hantu dan segala atribut kearwahannya menjadi hal yang lazim. Tidak percaya? Silakan anda nyalakan televisi, dan mulailah untuk menonton sinetron-sinetron Indonesia.

Mari kita fokuskan pada manusia karena manusia selalu menarik bagi kita. Tentunya narsisme kita menuntut kita untuk tetap berorientasi pada diri. Jangan-jangan, manusia mati sebenarnya tidak mati. Dengan kata lain, manusia kekal. Kematian manusia hanyalah perpindahan dimensi. Suatu saat, hantu-hantu bisa menampakkan diri. Itu adalah usaha untuk berpindah dimensi namun tidak berhasil (karena hantu tidak menjadi manusia). Kemudian suatu saat, dimensi hantu, sebutlah dimensi B, juga bisa penuh. Evolusi pun bersikap adil. Ia menciptakan adanya reinkarnasi agar manusia di dimensi B bisa berpindah ke dimensi A (dimensi yang saya, Joey, dan teman-teman sekalian tinggali). Jadi kematian dan kelahiran hanyalah permainan perpindahan dimensi.

Kalau manusia bisa melebihi usaha evolusi, menguasai perpindahan dimensi, katakanlah bermain-main dengan struktur molekul manusia, manusia bisa seenaknya jadi hantu dan jadi orang. Jika perpindahan antardimensi bisa dilakukan, tentunya perpindahan intradimensi juga bisa dilakukan dengan mudah. Kita bisa berpindah tempat hanya dengan mengurai dan membentuk molekul kita kembali. Bayangkan keuntungan yang bisa kita dapatkan. Selain urusan efisiensi (kembali lagi pada kepentingan diri sebagai bentuk egoisme narsisme), kita juga menjaga keseimbangan ekosistem. Tidak perlu lagi ada pencemaran lingkungan dan segala urusan tetek bengek efek rumah kaca.

power of perception

bagaimana proses pemikiran manusia untuk sampai pada suatu penilaian? misalnya, saya menilai bahwa Brad Pitt seksi. aspek-aspek apa dari Brad Pitt yang membuat saya menilai pria itu seksi? saya berpikir, mungkin tubuhnya yang atletis. tapi Matthew McConaughey juga punya tubuh seksi. bahkan abs-nya lebih terbentuk. mungkin tatapan matanya menawan hati. tapi Jude Law punya tatapan yang lebih dashyat. lantas mengapa saya bisa menilai Brad Pitt paling seksi? ternyata sulit sekali bagi saya untuk membedah metakognisi saya. dan saya rasa demikian pula dengan sebagian besar orang. padahal manusia selalu menilai dan sebagai akibatnya, setiap manusia pun jadi objek penilaian. mengapa? tampaknya manusia perlu frame berpikir atau skema dalam mempersepsi apapun yang terjadi, termasuk mempersepsi orang lain. yah ini sudah dibahas pada bab social cognition pada mata kuliah Psikologi Sosial I. saya hanya meringkasnya sedikit materi tersebut.

hari senin kemarin, saya baru melewati pengujian comprehension untuk eksperimen yang telah kelompok saya jalankan. konon dosen penguji adalah dosen yang terkenal kritis dengan pertanyaan-pertanyaan 'menggigit'. apalagi dalam menjawab pertanyaan, sesama anggota kelompok tidak boleh berdiskusi. pada saat pengujian kelompok lain, pertanyaan saya dipilih dosen untuk dilemparkan kepada anggota kelompok tersebut. pertanyaan saya didasarkan pada teori-teori yang mereka gunakan. mengenai kejelasannya. saya melewatkan bagian statistik pada paper mereka karena saya malas membaca angka-angka. kepala saya sudah terlalu berat dan saya terlalu mual untuk berpikir. dosen penguji menanyakan statistik kepada mereka dan pada saat itu, barulah saya sadar bahwa mungkin ada kesalahan dalam statistik tersebut. dan bertanyalah saya dan sayapun memberikan jawaban yang menurut saya benar. tujuan saya untuk membantu mereka menemukan jawaban walaupun usaha saya kurang berhasil (mereka semakin bingung). akan tetapi, mungkin ada orang yang menganggap saya mencecar mereka. hal ini saya simpulkan dari permintaan seorang teman kelompok lain yang belum mendapat giliran, untuk tidak mencecar kelompoknya. saya menyetujui.

pagi ini, teman saya bercerita bahwa dirinya masuk angin dan keracunan makanan. ia sampai muntah-muntah sepanjang malam. ia juga bercerita sakit maag-nya sering kambuh pada saat ia mengerjakan tugas eksperimen. ia mengeluh bahwa tugas mata kuliah tersebut membebaninya sedemikian berat sehingga ia mengalami penurunan kondisi kesehatan. saya menyimpulkan ia stress. ia mempersepsikan adanya beban dari mata kuliah tersebut dan menganggap tugas tersebut sulit diselesaikan.

aspek penilaian terhadap mata kuliah tersebut menjadi benang merah dari kedua cerita di atas. pertama, kegugupan dan kecemasan akibat penilaian bahwa pengujian adalah pembantaian. perasaan tersebut dialami oleh baik kelompok yang mendapat giliran maupun yang menunggu giliran. kelompok yang sedang maju beberapa kali salah menangkap inti pertanyaan yang diajukan, menjawab dengan cara berputar-putar atau berbelit-belit, tampak gugup (sindrom ng.... ng...), dan sebagainya. kelompok yang sedang menunggu giliran berharap-harap cemas agar nasib mereka lebih baik dari kelompok lain. salah satu caranya adalah dengan meminta kelompok lain untuk tidak 'mencecar'. dalam situasi menekan, pertanyaan yang diajukan dianggap sebagai ancaman. padahal yang saya tangkap dari proses comprehension ini adalah feedback untuk kelompok dari kelompok lain dan dosen beserta asistennya melalui pelemparan pertanyaan. selain itu, comprehension ini bertujuan untuk memberikan nilai individual. berdasarkan proses ini, dapat diketahui sejauh mana pemahaman masing-masing anggota kelompok. ketika sudah memasuki proses ini, anggota kelompok sudah berjuang dengan atributnya sendiri, memperjuangkan nilainya sendiri. jadi, tidak ada tujuan untuk membantai eksperimen yang telah dijalankan kelompok. pada peristiwa kedua, teman saya mempersepsikan bahwa mata kuliah ini sangat berat, sangat sulit, dan menakutkan sehingga ia mengalami kecemasan-kecemasan yang mengakibatkan dirinya stress. akibat lebih lanjut dari stress adalah penurunan kondisi kesehatan (yang paling tampak), mungkin disertai pula penurunan motivasi belajar.

berdasarkan hal-hal yang telah disebutkan di atas, saya berkesimpulan , menyetujui pendapat Mas Satriyo Wibowo (dosen metode kualitatif), bahwa kenyataan subjektiflah yang berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. orang berhubungan dengan realitas objektif melalui sensasi dan persepsi. melalui indera, manusia mensensasi stimulus dari lingkungan. kemudian, informasi sensasi tersebut diproses dan dihasilkanlah suatu pemaknaan subjektif atau kenyataan subjektif. inilah persepsi. persepsi A bahwa comprehension eksperimen menjatuhkan membuat A stress.

lantas bagaimana caranya untuk mengubah persepsi seseorang? jawabannya, persepsi bisa diubah apabila salah satu variabel pembentuk persepsi atau lebih diubah. misalnya, persepsi bahwa itik merah bisa diubah dengan menghadirkan itik putih. persepsi yang bersifat kognitif masih jelas. namun bagaimana dengan persepsi yang bersifat emosional? misalnya persepsi bahwa comprehension eksperimen membantai kelompok. tidak ada bukti nyata yang benar-benar mendukung pendapat ini, namun mereka mempercayainya. ada komponen afektif atau emosional di sini, misalnya kecemasan, ketakutan, dan sebagainya. perasaan seringkali timbul tanpa kita tahu apa sebabnya. oleh karena itu, diperlukan emotion-focused coping. Emotion-focused coping adalah usaha mengatasi stress yang diarahkan pada emosi, misalnya mengatasi kecemasan. Misalnya, dengan mencoba positive thinking. dengan perasaan tenang, kita pun akan berpikir dengan lebih jernih.

"pesan moral", kelompok yang nanti maju hari Jumat, usahakan jangan terlalu tegang-tegang, jangan berpikir macam-macam. relax and good luck!

maaf

buat banyak orang, saya rasa, kata 'maaf' sering sekali dikeluarkan lewat mulut langsung ataupun lewat tulisan. dengan budaya indonesia yang cukup 'maaf-maafan', kata 'maaf' bahkan kadang-kadang terlihat sudah menjadi respon otomatis. implikasinya, orang jadi sulit membedakan 'maaf' mana yang benar-benar dari hati terdalam dan mana yang sekedar bagian dari ritual, atau 'maaf' mana yang bagian dari taktik melarikan diri. tampaknya pernyataan saya yang terakhir ini terdengar sarkastis, apatis, pesimis, atau 'is'-'is' lainnya.

saya sendiri paling benci mendengar kata 'maaf'. sesuai dengan social exchange theory, ketika seseorang meminta maaf pada saya, saya merasa punya obligasi untuk memaafkan. memaafkan idealnya tulus. namun pada kenyataannya sulit, apalagi saya orang yang mengingat detail segala sesuatu, termasuk kesalahan-kesalahan orang. saat orang lain meminta maaf dan saya tidak bisa memaafkannya, saya merasa terbebani bahwa diri saya bersalah karena tidak membalas kebaikan orang lain. dengan kata lain, terjadi transfer beban 'dosa'.

akhir-akhir ini, di tengah kesibukan yang menyiksa hati pikiran jiwa dan setiap sel-sel tubuh saya, saya menerima aliran permintaan maaf yang sangat banyak. pada awalnya, saya memaklumi karena saya berusaha untuk berempati dengan orang-orang yang sudah 'dicekoki' dengan akar budaya 'maaf-maafan'. akan tetapi, saya, seperti alam yang dirusak terus-menerus, punya ambang batas. saya sudah tidak tahan dengan kata-kata 'maaf' dan saya sudah mengalami habituasi. kata maaf tidak lagi menjadi kata ampuh untuk memperoleh maaf saya walaupun disertai dengan berbagai penjelasan-penjelasan yang tampaknya masuk akal dan menghimpit. saya tidak berhasil menghentikan luapan berbagai emosi negatif disertai dengan pikiran negativistis bahwa 'maaf' itu hanyalah sarana yang digunakan orang untuk lari dari tanggung jawab. dan akhirnya saya sudah sampai pada tahap dimana saya tidak mau tahu lagi dengan proses apapun yang dialami oleh orang yang sedang meminta maaf pada saya. saya memprogram diri saya untuk hanya tahu bahwa orang itu tidak melakukan kewajiban atau tidak memenuhi janjinya.

saya sampai pada kesimpulan bahwa saya hanya bisa percaya dan mengandalkan diri saya sepenuhnya. dengan tidak berharap pada orang lain, saya lebih damai, lebih sejahtera. saya meminimalisir kemungkinan saya kecewa karena toh tidak ada apapun yang saya harapkan. secara psikologis, saya sudah lebih terbiasa, lebih siap, lebih kuat untuk menghadapi orang-orang yang ingkar janji. misalnya dalam proyek, saya sudah mempersiapkan rencana apa saja yang harus saya jalankan untuk mengerjakan tugas bagian kolega saya. bahkan kalau saya sedang mempunyai energi lebih, saya bisa saja sudah menyelesaikan seluruh proyek.

mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa saya menulis hal-hal semacam ini. selain untuk alasan curhat, selain untuk peringatan orang yang 'obral' permintaan maaf, tidak ada lagi alasan lain.

romantis.

kata orang, saya bermasalah. saya tidak romantis dan masalah ini semakin mencuat di minggu kasih sayang ini (baca: valentine). saya sendiri bingung dengan hal ini. kalau saya disuruh mengkonstruksi alat ukur romantisme, saya pasti akan bingung. pertama, tidak ada definisi (teoritis) yang jelas tentang perilaku romantis. kedua, jika step pertama tidak dapat dilakukan dengan baik, bagaimana saya bisa mendefinisikan secara operasional. selanjutnya, bagaimana saya bisa menurunkan konstruk romantisme ke dalam domain behaviour, indicants, dan akhirnya item-item yang benar-benar merepresentasikan konstruk tersebut.

seperti apa perilaku yang dikategorikan romantis? apakah perilaku romantis bak yang kerap ditayangkan dalam telenovela-telenovela: mengirimkan puisi, bernyanyi di bawah balkon, berkata-kata "sayangku, cintaku, aku cinta padamu (dan sebagainya)"? atau makan malam 'romantis' di restoran mewah (candlelight dinner)? kalau demikian, orang yang tidak punya cukup uang akan kehilangan kesempatan berperilaku romantis.

apa pentingnya berperilaku romantis? kebanyakan orang menjawab untuk menyenangkan pasangan, sebagai ekspresi cinta. saya kemudian bertanya lagi, apa beda romantis dengan gombal? apa dalam setiap perilaku romantis, akan selalu terkandung kegombalan, berapapun kadarnya? kalau begitu, saya tidak akan senang karena menurut saya, kegombalan adalah penipuan. suatu hubungan yang baik, menurut saya, harus menjunjung asas kejujuran. maksud saya, lebih baik seorang menjadi dirinya sendiri. kalau tidak bisa tulis puisi, tidak usah sok-sok tulis puisi, cukup katakan dengan kata-kata lugas. kalau tidak biasa ber'aku-kamu' ria, ya tidak perlu, daripada janggal. jika ingin menjalin hubungan yang baik, menurut saya, harus ada keterbukaan, kejujuran, dan keinginan untuk mempertahankan hubungan. itulah yang harus dilakukan untuk menyenangkan orang lain yang kita cintai, ekspresi cinta semurni-murninya.

a matter of look

minggu kemarin, saya baru saja potong rambut di salon langganan tante saya. hairstylist di sana menyarankan saya untuk mengganti model rambut saya yang ia anggap biasa-biasa saja, rambut panjang dengan layer. saya jarang ke salon. kalau tidak berantakan sekali, saya tidak akan pergi ke salon. saya juga kurang peduli dengan model rambut. asal panjang apapun boleh. setengah jam kemudian, rambut saya berubah. saya tidak bagus mendeskripsikan perbandingan model rambut karena seperti yang sudah saya tulis, saya tidak terlalu mengerti. yang saya tahu kesan saya terhadap diri saya sendiri berubah.

saya observasi, ternyata demikian pula dengan kesan orang lain terhadap saya. mereka lebih ramah dan mereka cenderung lebih santai berinteraksi dengan saya. memang saya terkesan lebih 'terbuka' dan outgoing. hal ini membuat saya teringat pada tulisan di harian Kompas yang entah terbitan kapan (saya sendiri jarang baca koran), bahwa kita bisa menyenangkan orang lain dengan penampilan kita. tanpa bermaksud menjadi narsis, penampilan baru saya menyenangkan orang lain. dengan kata lain, saya lebih ok. :Þ


Spring 2006 Collection by Carolina Herrera Posted by Picasa


Spring 2006 Collection by Diane von Furstenberg Posted by Picasa


Spring 2006 Collection by Marc Jacobs Posted by Picasa


Spring 2006 Collection - by Michael Kors Posted by Picasa

Sarah Jessica Parker


Sarah Jessica Parker in Calvin Klein. SJP is my true favourite fashion icon. Simple yet elegant. Perfect hair, and I like that bracelet. A little touch of bright blue, just right.

omong kosong

sampai kapan batas waktu menunggu? terkadang dalam suatu hal, seorang harus menunggu. bukan karena menyerah, melainkan memang ia harus menunggu. dalam proses tersebut, ada banyak hal yang kita pikirkan. berapa lama lagi? bagaimana akhirnya? apakah penantian akan berakhir dengan senyum? atau mati kebosanan karena terlalu menunggu? saya orang yang super tidak sabar. terlalu lama menunggu bikin saya lama-lama memaksa diri lupa kalau saya harus menunggu. bukannya saya alihkan kebosanan, melainkan benar-benar menghentikan prosesnya.

dan saya melakukannya akhir-akhir ini. ketika proses menunjukkan gejala-gejala 'akan kembali', saya tidak menghiraukannya. prosesnya sudah benar-benar berhenti.


Johnny Depp. Love the bad boy, that strong jawline, perfect nose, eyes that kill. Posted by Picasa

kepekaan.

tadi saya pergi ke Puri Mall, nonton King Kong sama teman-teman. sambil menunggu jam bioskop, kami duduk di food court dan sedikit terlibat dalam pembicaraan tentang makanan. kami membicarakan makanan. enak mana, ichiban crepes atau d'crepes? teman saya bilang katanya ichiban kurang enak. saya yang pernah coba ichiban dan pastinya d'crepes, bilang sama saja. saya benar-benar tidak tahu bedanya. tapi saya pikir-pikir lagi, jawaban saya tidak bisa dikatakan valid karena saya kurang peka terhadap rasa makanan dan cenderung tidak terlalu peduli. saya tidak tahu beda rasa kopi gloria jeans dan coffee port, tidak tahu beda nescafe dan indocafe, tidak tahu beda tekstur es krim new zealand dan pisa kafe, mie aciap atau asui, makanan basi atau tidak. kecuali yang benar-benar beda, seperti enak (bisa diterima lidah) dan yang tidak aneh (rasanya aneh). namun kalau tidak benar-benar aneh, saya masih cuek makan. makanya saya bisa diet dengan kopi yang sedikit gula (tahan pahit), minum teh hijau seduhan ibu saya yang rasanya agak tidak karuan, salad tawar, dan sebagainya.

tapi herannya saya bisa tahu sepatu mana yang lebih worth it dibeli. ditimbang dari estetikanya juga kenyamanannya. saya bisa super rewel kalau ada sedikit noda di sepatu. saya juga tahu sepatu mana yang lebih kaku (keras). kelancipan pointy shoes mana yang paling bagus (tidak terlalu lancip, juga tidak terlalu bulat). warna mana yang paling bagus untuk model sepatu tertentu. soal baju, saya bisa sedikit kompromi. soal sepatu, sulit, sangat pilih-pilih. makanya saya jarang-jarang beli sepatu. tidak hanya sepatu, saya bisa tahu 'derajat' keseksian Brad Pitt, Johnny Depp, Owen Wilson, dan Jude Law. saya bisa membedakan sumber keseksian mereka. setelah dipikir-pikir, kepekaan itu tergantung selera, tergantung apa kesukaan saya.

kira-kira tiga jam 'mengeram' di bioskop, saya tahu saya suka sekali film King Kong. teman saya berkomentar alur yang terlalu lambat. dan saya juga menyadari, bedanya saya tahu apa tujuannya (mengapa begitu). saya tahu gaya penyutradaraan Peter Jackson (ambil kesimpulan dari nonton trilogi LOTR yang termasuk film favorit saya, dan King Kong) seperti apa. menurut saya, keistimewaan Peter Jackson ada pada penonjolan karakter dan penggalian makna. hampir seluruh karakter dalam film-filmnya diberi kesempatan menunjukkan penonton kekhasan masing-masing sehingga karakternya kuat. Peter Jackson tidak ingin King Kong sekedar film ecek-ecek yang menawarkan special effect. oleh karena itu, ia menggunakan pelambatan alur, yang hebatnya (bagi saya) tidak membosankan, menggali 'habis' setiap adegan. setiap adegan harus ada maknanya, tidak hanya penyambung adegan berikutnya. kapan-kapan saya posting analisis saya tentang King Kong, dan jika sempat, sekalian dibandingkan dengan LOTR.

family affair.

Didorong oleh rasa jenuh masa liburan (padahal baru 3 hari), saya mengirim sms basa-basi, seperti apa kabar? apa rencana untuk natal, kepada tiga orang. Dibalas dua orang. Salah satunya mantan pacar saya, yang sekarang sudah berstatus teman (rasanya hubungan kami baik-baik saja). Sesuai dugaan, dia paling pasti dan paling cepat membalas. Pada kalimat pertama, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Natal rencananya akan pergi ke gereja, makan bersama keluarga, dan sedik(h) karena keluarga. Saya bingung. Pertama karena saya tidak mengenal kosakata sedik, namun akhirnya saya terjemahkan menjadi sedih (tombol h dan k bersebelahan di hp). Kedua, awalnya dia bilang dia baik-baik saja. Ketiga, jarang orang berencana untuk sedih di hari yang bahagia (apalagi dia orang yang sangat rajin ke Gereja, berdoa, membaca Alkitab, Renungan Harian, dan kegiatan religius lainnya yang notabene sangat bertolak belakang dengan saya yang klenik). Daripada berhipotesis ria, lebih baik saya bertanya langsung pada sumbernya. Rupanya ada masalah keluarga, pertengkaran rumah tangga. Sejak saya kenal dia, memang masalah keluarga cukup membuatnya labil. Dan saya tidak berani bertanya lebih lanjut, cuma menghibur dengan kata-kata religius yang saya copy dari tante saya.

Teman saya, punya orangtua yang sangat menuntut. Diskriminatif terhadapnya, katanya, suka mencari-cari kesalahan. Menurutnya, masalah keluarga, hubungan dengan orangtua, terlalu kompleks dan tak mungkin terselesaikan. Akhirnya ia menghindarinya dengan sering beraktivitas di luar rumah dan apabila di rumah, jarang berkomunikasi, dalam arti, berbicara dari hati ke hati. Saya juga melakukannya. Awal-awal saya kuliah, saya sering pulang sore atau malam. Alasan saya, saya ikut banyak kegiatan dan organisasi (memang benar). Kalau ditanya-tanya hal yang sensitif, saya pilih bohong daripada bermasalah.

Masalah keluarga dari dulu dari jaman dahulu memang pelik. Banyak kasus yang disebabkan oleh keluarga. Misalnya seseorang melacurkan diri karena mengalami pelecehan seksual oleh salah seorang anggota keluarganya, minum-minum atau menggunakan narkoba karena ayah dan ibu bertengkar terus sampai bercerai (dan masalah keluarga lainnya), kepribadian ganda (dan kasus psikopatologis lainnya), bunuh diri, dan sebagainya. Intinya keluarga sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Ketika janin terbentuk, ia sudah berurusan dengan keluarga, dengan ibunya. Ketika lahir ('normal'nya), ia harus berhadapan lagi dengan anggota keluarga baru, ayah. Kalau ada, kakak. Untuk bisa hidup, anak tersebut harus berhubungan dengan anggota keluarganya. Anggota keluarga yang beragam kepribadiannya dan punya ekspektasi yang berbeda-beda pula untuk masung-masing anggota keluarga. Dalam mengkomunikasikan harapannya, mereka punya cara yang berbeda-beda. Beruntung kalau mereka demokratis. Kalau otoriter? Bagus kalau pembicaraan dilakukan secara dewasa. Kalau pertengkaran jadi bahasa lumrah? Paling baik diselesaikan secara intern. Namun bagaimana apabila penyelesaian tak kunjung ditemu? Mau minta bantuan orang lain, meskipun masih terhitung keluarga (kakek nenek, paman bibi, dan sebagainya), susah. Bisa tambah panjang. Ada urusan gengsi nama baik keluarga di sini. Makanya saya juga tidak berani ikut campur urusan keluarga orang lain.

Penyelesaian yang baik, ada macam-macam, relatif. Bisa komunikasi terbuka, berhadapan langsung dengan masalah (kalau mungkin). Bisa juga lari, pura-pura tidak tahu, menghindari kontak dengan potensi masalah (misalnya, biasanya ketemu ibu langsung berantem, kurangi frekuensi ketemu). Tergantung apa masalahnya, dan situasi-situasi yang melingkupi, baik yang kondusif maupun yang menghambat masalah selesai. Jawaban saya memang jatuh-jatuhnya ke relativisme. Sudah saya bilang sebelumnya, masalah keluarga itu rumit dan saya sendiri punya masalah keluarga yang tak terselesaikan sebelumnya. Namun menurut saya, ada satu hal penting yang harus dimiliki sebelum melangkah ke penyelesaian selanjutnya, seperti yang saya juga bilang ke mantan pacar saya, sabar dan tabah.

the 'gembel' law

Saya punya teman, namanya Yaya, lengkapnya Wirya Satya Adenatya. Tapi saya lebih sering panggil dia 'gembel', 'gembrot' (padahal ia tidak gendut, bahkan saya sedikit kagum karena dia terbilang atletis dan memang dia atlet), 'ucup', dan sederetan sebutan yang kurang rasa perikemanusiaannya. Asosiasi tercepat kalau mengingat Yaya: jazz, Twilite Youth Orchestra, kafe, gembel-look, omongan serba tidak penting, DATAR. Ekspresi yang paling dapat dikenali dari Yaya, hanya tertawanya yang membahana tanpa tedeng aling-aling. Sisanya (marah, sedih, takut, dan sebagainya), singkat saja, tidak ada.

Dia pernah pusing sendiri mengerjakan tugas analisis kepribadian padahal itu tugas kelompok. Dalam kelompok itu, yang benar-benar bekerja hanya dua orang (dia dan seorang temannya). Yang lainnya, cuma numpang nama. Saya tanya padanya, mengapa ia tidak marah dan protes pada mereka? Dia bilang, dia tidak bisa marah. Saya marah pada teman-temannya tapi saya lebih marah padanya. Kalau tidak protes, secara tidak langsung, dia menyediakan dirinya sebagai budak tertindas. Buat saya yang gengsinya tinggi, hal seperti itu benar-benar 'aib'. Saya tanya lagi, kenapa? Ternyata dalam proses remajanya yang berat (masalah keluarga), ia mempelajari sesuatu yang ia pegang sampai sekarang, bahwa segala sesuatu pasti ada penyebabnya atau ada sebab, ada akibat. Katanya, misalnya, kalau pacarnya berselingkuh, dia tidak serta merta langsung marah, dendam, atau bicara buruk tentang pacarnya. Dia berpikir, pasti ada sebab mengapa pacarnya berselingkuh. Dan sebab itu pasti, walaupun sedikit, berkaitan dengannya. Karena ada alasan, ia bisa menerima. Namun saya tanya padanya, bagaimana kalau dia tidak diberikan alasan yang jelas oleh seseorang. Dia bilang, selama ini, dia selalu menemukannya. Seperti pada tugas kepribadian ini, dia tidak mendapat alasan yang jelas dari orang numpang itu. Dia menciptakan suatu 'analogi' sebab akibat lainnya. Karena Yaya terlatih mengerjakan (sebab), Yaya akan lebih unggul dalam tugas akhir (individual) daripada mereka (akibat). Oleh karena itu, ia tidak marah.

Menurut Daniel Goleman, salah satu aspek kecerdasan emosional (emotional intelligence) adalah self-control. Dalam self-control, terdapat kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosi ini. Yaya, seorang makhluk yang memiliki self-control terbaik yang saya kenal. Dia jarang depresi dan cepat bangkit dari keterpurukan, dengan 'think big'. Untuk saya yang tingkat kecemasannya cukup tinggi, prinsip gembel ini bisa jadi salah satu referensi terapi.