PRaY YoU!

TUHAAAANNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!
Aku hidup di dunia edaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn!!!!

Entah harus bilang apa

"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan"*

I've got to do what I should do

Take a peeWear black eyeglasses
Smoking fucking weed
and LEAVE

Bye bye rotten jackass!

Wish you all the best and worst from hell!


*Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie: semangat perjuangan dekade muda

saya nonton film Gie. entah kenapa hari itu saya sangat memaksa diri untuk menonton Gie. saya ulangi, saya memaksa diri bukan memaksakan diri. saya dengan kesadaran penuh, tekad yang bulat, sungguh-sungguh ingin menonton film ini. mengesampingkan faktor saya memang ngefans dengan Nicholas Saputra, saya memang penasaran dengan film ini. film yang jarang dibuat oleh orang Indonesia. biasanya orang Indonesia sukanya bikin film cinta-cintaan melulu. padahal tipikal-tipikal saja. membosankan. yang paling saya tidak suka: 30 hari mencari cinta. 15 menit menonton saya sudah mengantuk. lagipula saya selalu tertarik dengan sosok aktivis muda, yang dengan idealismenya berani mengkritik dan mengusahakn perubahan terhadap hal-hal yang dianggapnya menyimpang dari kebenaran.

saya nonton film Gie dengan sahabat saya, Dessy di Megaria. Dessy sebenarnya harus rapat untuk acara di UKM-nya tapi dikadung sayang kalau kelewatan film Gie. Tadinya kami mau ke TIM saja tapi sayang, film Gie belum diputar. Megaria sudah. agak dongkol sih karena Megaria tidak terlalu cozy tempatnya, tidak bisa 'cuci mata' juga. lari-lari kejar bus, nunggu satu setengah jam. akhirnya saya nonton Gie.

adegan pertama dibuka dengan masa kecil Gie. saya langsung punya kesan Gie kritis, berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan. terlihat pada saat dia berani memprotes gurunya yang salah. dia suka membaca. hebatnya, bacaan yang tidak lazim untuk anak seumurnya. sudah tahu sastra, dari sastra Indonesia sampai sastra asing. adegan yang paling membuat saya terenyuh, saat Gie melihat seorang laki-laki (bukan pengemis) makan kulit mangga yang diambil dari tong sampah. tergerak oleh kemanusiaannya, Gie memberikan uangnya. kondisi yang amat menyedihkan. (dari buku Catatan Seorang Demonstran) padahal tak jauh dari situ Istana Negara dimana Paduka sedang bersenang-senang dengan istri-istrinya. kesetiaan pada prinsip sangat ia tunjukkan "lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan". ia tetap memegang idealismenya walaupun harga yang ia bayar sangatlah mahal. orang-orang memang mengagumi ide-idenya tetapi mereka menolak ketika Gie hendak masuk dalam lingkaran mereka.
sekarang saya sedang membaca buku Catatan Seorang Demonstran, pemberian tante saya. sayang, kemarin bukunya terlipat. jadi lecek sedikit. sedikit menghibur diri, tak apalah, yang penting masih bisa dibaca. awal september nanti, ada diskusi dan pemutaran film Gie. di situ akan ada Herman O Lantang, kawan seperjuangan Gie. saya mau menulis panjang, tetapi saya lupa detail-detailnya. baiklah saya teruskan nanti setelah acara bedah buku dan film, dan tentunya sebelum itu, saya juga sudah harus selesai membaca buku harian Gie.


THiS Is FaBuLouS! Posted by Hello

Shoes Stuff

Seberapa penting sih arti benda penyangga atau alas kaki yang notabene 'terinjak' dan kotor (minimal bagian dasarnya). Buat saya, sepatu sangatlah berharga, penting! Sepatu memberikan kontribusi yang sama seperti apparel dalam hal fashion. Buktinya saya patah hati ketika melihat sepatu putih saya lecet di bagian haknya... Hiks...

Jia you!

UAS sudah berlalu berminggu-minggu yang lalu dan menjelang berakhirnya masa KB (tanpa T, karena tidak bisa tambah mata kuliah) semester padat, nilai-nilai akhir yang akhirnya akan digenerasikan ke dalam IPS dan IPK ditempel di papan pengumuman gedung C lt. 4 dan 5. Berbagai macam reaksi muncul, ada yang senang, ada yang sedih dan menyesali segala sesuatunya walau mungkin tidak ada yang perlu disesali, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang marah-marah yang kadang tak jelas tertuju pada siapa. Sayangnya, ternyata di antara teman-teman saya, banyak yang turun nilainya. Bahkan ada satu seksi yang mayoritas tidak lulus, hanya 16 dari 45 mahasiswa yang lulus, dalam suatu mata kuliah. Sensasional, menurut saya dan menimbulkan tanda tanya, yang mana yang salah? dosen atau mahasiswanya? Entahlah. Saya tidak berani menyimpulkan walau penasaran karena saya tidak mengalaminya sendiri (bukan seksi saya) dan kalaupun saya bertanya, saya ragu karena jawaban yang mungkin saya dapat sudah terkontaminasi oleh subjektivitas.

Di antara mahasiswa-mahasiswa yang sedih dan menyesal karena turun nilainya, banyak yang sebenarnya mendapat nilai yang cukup baik. Katakanlah minimal B. Wah, di mata orang lain, nilai B sudah cukup memuaskan. B = Baik. Akan tetapi untuk orang-orang yang need achievementnya tinggi, nilai B seperti nilai C atau yang lebih ekstrim seperti nilai D atau E. Kalau begitu, mungkin pelabelan seperti di buku rapor SD - SMA (bahwa A adalah amat baik, B baik, C cukup, dst) memang tidak tepat karena terkandung, sekali lagi, unsur subjektivitas. Ternyata banyak kepentingan individu dalam rentang lima huruf tersebut.

Tendensi obsessive compulsive? Rasanya belum. Perfeksionis? Ya. Perfeksionis mutlak dalam arti memang perfeksionis tulen? Mungkin. Perfeksionis karena kondisi yang memaksa? Bisa juga.

Namun kejadian ini sedikit menjadi permenungan untuk saya. Seberapa jauh kita harus menetapkan kriteria untuk menggolongkan yang baik dan yang buruk? Bila melihat teman-teman saya, rasanya ada beragam sekali hal-hal demikian. Mungkin kita harus mempertimbangkan kepentingan-kepentingan apa yang harus diperjuangkan di dalamnya hingga kriteria itu benar-benar menjadi benar-benar milik diri dimana ketika tercapai ada rasa puas yang besar. Rasanya mustahil untuk menyeragamkan seluruh kriteria orang-orang.

Namun banyak orang yang tidak memahami hal ini. Mereka cenderung menilai orang lain berdasarkan kriteria dirinya sendiri. Bukannya tidak boleh, bahkan bisa dimaklumi karena merupakan reaksi otomatis setiap manusia. Hanya janganlah terlalu eksesif sehingga mengganggu orang lain tersebut. Saya percaya setiap orang punya kebebasan untuk menentukan dirinya. Begitu pula dalam nilai, setiap orang memiliki kemampuan dan potensi yang beragam dan oleh karenanya parameter baik dan buruknya pun berbeda.

Oleh karena itu, saya sebisa mungkin menghindari rasa kasihan pada orang lain. Meskipun tetap terbersit dalam diri saya, saya berusaha untuk tidak terlalu menunjukkannya. Kata-kata belasungkawa "wah... sayang ya..." cukup saya hindari. Saya lebih suka diam dalam saat seperti ini. Kalaupun saya harus berkata sesuatu, saya lebih memilih untuk langsung memberikan solusi. Entahlah mungkin orang lain menganggap saya dingin dan tidak peduli tetapi saya sendiri ketika mengalami hal itu dan dikasihani, saya merasa tidak nyaman karena menurut saya, rasa kasihan memberikan label inferioritas pada seseorang. Parahnya, mereka mencari kenyamanan dengan terlalu bergantung pada orang lain, dalam arti secara berlebihan. Bisa mengeluh terus-menerus sampai meminta orang lain untuk mengerjakan urusannya. Sebagai hasilnya, orang itu tidak akan berkembang.

Dua semester berlalu dengan cepat, dan sebentar lagi semester ketiga. Saya berharap kesuksesan selalu mengiringi langkah kita semua. Ciao! (mesti ngerjain tugas Stat II nih!) :)

Traumarama (Trauma Drama?)

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap orang punya masa lalu, entah baik entah buruk. Kebanyakan orang ingin menutupi masa lalunya yang gelap karena pada dasarnya manusia makhluk sosial dan tentunya untuk dapat diterima secara sosial dengan baik, manusia cenderung berusaha untuk mempresentasikan dirinya dengan baik, flawless (tanpa cacad). Cara untuk menutupinya bermacam-macam, dengan diam saja dalam arti tidak berbagi dengan orang lain atau dengan membuat cerita baru, termasuk skenario yang benar-benar rekaan atau dengan penambahan, pengurangan, atau penggantian detail sana-sini agar tampak lebih baik. Namun sebagaimanapun orang ingin melupakan masa lalunya, masa lalu tidak akan pernah hilang. Masa lalu membentuk diri manusia, termasuk trauma-trauma yang dialaminya. Freud, pendiri aliran psikoanalis, menekankan pentingnya masa kecil (childhood) dalam menentukan pembentukan pribadi seseorang. Saya sedikit banyak setuju dengan hal ini, walaupun tidak 100%. Saya masih percaya bahwa dalam diri manusia, ada kekuatan tersembunyi yang membuatnya benar-benar dapat berubah, yaitu ketika manusia berani berhadapan dengan dirinya sendiri, termasuk bagian yang kelam.

Jumat kemarin, saya dan sahabat saya berbagi mengenai bagian masa lalu yang kami rasa paling menyakitkan dan ingin kami lupakan. Setiap orang memang punya ketraumaan masing-masing dan saya termasuk orang yang selalu ingin lari dari ketraumaan itu. Saya tidak pernah mau membicarakannya dengan siapapun. Walaupun ya, saya hanya memberikan sedikit detail. Orang pertama yang saya beri tahu dengan sedikit lebih mendetail adalah orang yang baru saya kenal selama kira-kira setahun tetapi saya sudah begitu mempercayainya dan saya merasa aman di dekatnya. Pendek kata, saya menganggapnya sebagai kakak saya, dan saya percaya bahwa ia mampu melindungi saya atau setidaknya memberikan rasa aman ketika sewaktu-waktu saya harus berhadapan dengan ketraumaan itu. Orang kedua, sahabat saya, karena saya memang ingin berbagi dengannya. Jauh dalam lubuk hati saya, saya ingin orang yang saya sayangi mengenal saya apa adanya. Saya menyadari sebesar apapun keinginan saya untuk mengubur masa lalu saya itu dalam-dalam, tetap saja ada di situ dan dengan caranya sendiri, mempengaruhi diri saya, terutama dalam hubungan interpersonal. Saya merasa mungkin dengan berbagi, saya dapat meringankan sedikit beban saya. Dan ya, ternyata itu belum cukup, berbagi berbeda dengan menerima dan berhadapan langsung. Saya belum bisa menghadapi ketraumaan saya.

Tentunya saya pernah mencoba untuk menerimanya dengan hati lapang dan berusaha untuk berubah. Namun saya selalu gagal. Ketika bayang masa lalu menghantui, saya lari darinya dan saya mencari alasan-alasan lain untuk menutupi ketakutan saya. Akan tetapi sampai kapan saya harus berlari? Toh, ketika saya berlari, trauma saya masih melekat pada diri saya. Hanya karena saya kencang berlari, trauma itu tidak terlalu terasa (padahal sebenarnya memeluk saya dengan sangat erat). Entahlah, semua orang perlu waktu dan waktu memang diciptakan untuk memberi orang suatu kesempatan, untuk memilih, untuk menentukan dirinya sendiri. Namun waktu selalu ada batasnya dan ada saat dimana manusia harus segera memutuskan. Buat saya, rasanya saya masih perlu waktu walau entah kapan expired.
Referensi Film: Pelangi Di Atas Prahara

Big Yellow Taxi

Counting Crows feat. Vanessa Carlton

They paved paradise and put up a parking lot
With a pink hotel, a boutique, and a swingin' hot spot
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise and put up a parking lot

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

They took all the trees, and put em in a tree museum
And they charged the people a dollar and a half to see them
No, no, no
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise, and put up a parking lot

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

Hey farmer, farmer, put away your DDT
I don't care about spots on my apples,
Leave me the birds and the bees
Please
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise and put up a parking lot
Hey now, they paved paradise to put up a parking lot
Why not?

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

Listen, late last night, I heard the screen door slam
And a big yellow taxi took my girl away
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise and put up a parking lot
Well, don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise to put up a parking lot Why not?
They paved paradise and put up a parking lot
Hey hey hey
Paved paradise and put up a parking lot

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

I don't wanna give it
Why you wanna give it
Why you wanna giving it all away
Hey, hey, hey
Now you wanna give it
I should wanna give it
Now you wanna giving it all away

Hey, paved paradise to put up a parking lot


every woman's right Posted by Hello

personality test

http://similarminds.com

Global Personality Test Results

Extraversion 50%
Stability 33%
Orderliness 43%
Empathy 43%
Interdependence 50%
Intellectual 76%
Mystical 50%
Artistic 83%
Religious 30%
Hedonism 16%
Materialism 50%
Narcissism 50%
Adventurousness 76%
Work ethic 50%
Self absorbed 70%
Conflict seeking 56%
Need to dominate 50%

Romantic 50%
Avoidant 50%
Anti-authority 76%
Wealth 50%
Dependency 30%
Change averse 56%
Cautiousness 76%
Individuality 83%
Sexuality 36%
Peter pan complex 36%
Physical security 70%
Food indulgent 23%
Histrionic 56%
Paranoia 70%
Vanity 70%
Hypersensitivity 70%
Female cliche 76%

Stability results were moderately low which suggests you are worrying, insecure, emotional, and anxious.

Orderliness results were moderately low which suggests you are, at times, overly flexible, improvised, and fun seeking at the expense of reliability, work ethic, and long term accomplishment.

Extraversion results were medium which suggests you are moderately talkative, outgoing, sociable and interacting.


trait snapshot:

paranoid tendencies, irritable, anxious, fidgety, dependent, worrying, emotionally sensitive, prone to regret, depressed, second guesses self, somewhat fragile, dislikes change, prefers organized to unpredictable, suspicious, phobic, craves attention, not a risk taker, low self control, very sensitive to criticism, unadventurous, does not make friends easily, defensive, obsessive, low self esteem


Get high with DKNY! Posted by Hello

Rrr...

Pernah merasa emosi, marah, kesal bertubi-tubi sampai mencapai level yang hampir unbearable? Kadang ada penyebabnya tetapi bisa juga tanpa sebab (atau kita yang tidak tahu sebabnya?). Biasanya masing-masing orang punya cara yang berbeda untuk mengatasi keadaan ini walaupun hanya untuk sementara. Saya sendiri punya beberapa opsi, dari yang terdengar baik-baik saja sampai yang bikin buntung. Kadang saya mengantuk, lalu tertidur dan bangun dengan perasaan kesal juga. Setidaknya ada jeda sebentar. Versi berikutnya, belanja seperti yang baru saja saya lakukan. Menyusuri department store dan butik-butik, hunting benda-benda atribut fashion. Tidak segan menghamburkan uang. Senang, namun alhasil saya harus berhadapan dengan kemiskinan sekitar seminggu. Kondisi ini tidak terlalu membuat saya stress. Stress muncul kalau saya sedang kesal, ingin belanja, tetapi tidak ada uang. Saya juga akhir-akhir ini menambahkan opsi baru, hasil usulan teman saya, yang terdengar lebih 'terpuji'. Berdoa lalu mengambil secarik kertas dan menulis apa saja untuk mengekspresikan perasaan. Biasanya saya membuatnya dalam bentuk puisi. Entah mengapa puisi dapat menuangkan perasaan saya yang rumit sekalipun hingga kadang-kadang saya tidak mengerti dengan jelas apa yang saya maksud. Mungkin unconsciousness mengambil perannya di sini. Yah cukup melegakan daripada saya harus mengangkat telepon, menghabiskan waktu berjam-jam, membuang uang untuk sesuatu yang tidak 'real', dan menganggu teman. Sisi psikologis untuk curhat bisa dipenuhi Tuhan, keyakinan bahwa Dia ada dan selalu mendengar. Cukup ok khan? Bagaimana dengan anda?

To Wait: Friend or Foe?

Menunggu. Kata yang kerap terdengar di kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang membuat kita menunggu. Menunggu pacar menjemput pada malam minggu. Menunggu pengumuman kelulusan. Menunggu sale barang-barang keren di mall. Menunggu mendapat uang jajan. Menunggu waktu kuliah selesai. Menunggu opera sabun diputar setiap minggu. Menunggu mendapat giliran antrian. Menunggu jawaban dari pertanyaan yang diajukan ataupun pertanyaan yang belum diajukan (tapi anehnya mengharap dijawab). Menunggu waktu untuk mati.

Menunggu, buat saya, lebih melelahkan, lebih berat daripada pekerjaan manapun. Saya lebih senang disuruh berlari mengelilingi lapangan 345 kali, membersihkan kamar yang super berantakan, mengobok-ngobok wc, menyuapi anak kecil makan, menyulam, menjahit, ataupun pekerjaan-pekerjaan lain yang saya benci. Namun tak ada yang lebih menyebalkan, mengesalkan, dan mengiris-ngiris nadi daripada menunggu. Ketika menunggu, saya tampak seperti orang bodoh karena terkadang saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya diam seperti tanpa tujuan. Apapun yang saya lakukan selama menunggu menjadi hal-hal yang tidak beralasan. Dan hal tersebut bertentangan dengan prinsip hidup saya yang menegaskan bahwa harus ada alasan untuk segala sesuatu. Memang ada alasan, yaitu untuk mengisi waktu selama menunggu. Akan tetapi alasan itu tidak cukup kuat untuk membuat saya puas dengan keadaan hidup saya pada saat itu.

Namun saya sadar, betapapun saya membencinya, menunggu merupakan kodrat manusia. Hampir setiap hari saya menunggu. Terkadang saya bisa menghadapinya dengan senyum, dengan pikiran positif yang cemerlang, mengisi waktu dengan melakukan hal-hal berguna (walaupun sedikit dipaksakan), seperti membaca buku. Akan tetapi ada batas-batas toleransi tertentu yang tak bisa saya tembus. Ketika membaca buku, saya sadar bahwa saya sedang menunggu sehingga walaupun buku itu pada masa normal menarik perhatian saya, saya sudah bosan dalam waktu yang kira-kira/relatif singkat.

Mengapa saya harus menunggu? Mengapa menunggu sepertinya hal yang mutlak? Seberapa penting menunggu? Apakah dengan tidak menunggu, saya mati? Karena keterbatasan dunia ini, manusia harus menunggu. Seperti pada saat ingin membeli tiket busway, orang perlu menunggu karena petugas loket pendaftaran cuma beberapa dan tidak mungkin menangani semua pelanggan sekaligus. Saya harus menunggu untuk tahu kapan saya mati karena manusia tidak punya kapabilitas untuk membuka buku takdir. Saya harus menunggu untuk mendapat uang jajan karena saya belum mampu mencari penghasilan sendiri sementara orangtua saya perlu melakukan penyusunan alokasi uang sehubungan dengan keterbatasan penghasilan mereka. Saya harus menunggu untuk mendapatkan fotokopi bahan kuliah karena bahannya hanya satu dan teman saya yang ditugaskan untuk memfotokopi juga punya keterbatasan waktu dan ia masih harus menunggu antrian di tempat fotokopi. Saya harus menunggu pacar ketika ia harus menempuh perjalanan tertentu untuk bertemu dengan saya. Belum lagi kalau jalanan macet. Saya harus menunggu reaksi gebetan karena saya tidak bisa mengetahui isi hati orang tanpa dia mengkomunikasikannya (baik melalui kata-kata ataupun tindak tanduk lainnya) dan dia sendiripun punya keterbatasan yang sama sehingga harus melakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Saya harus menunggu untuk tahu hasil kuis statistik lalu karena dosennya sendiri punya keterbatasan waktu dan tenaga sehingga ia harus mencari waktu yang tepat untuk memeriksa pekerjaan mahasiswanya. Kesimpulannya, banyak alasan yang membuat kita harus menunggu dan oleh karena itulah, menunggu menjadi sesuatu yang penting bagi manusia, termasuk saya.

Mengapa menunggu begitu sulit dan melelahkan? Mengapa ketika kata ini terlintas, saya langsung merasa lemas dan sedikit banyak pesimis? Sebab menunggu membutuhkan kesabaran! Dan saya tidak punya kualifikasi yang membanggakan dalam hal tersebut. Saya selalu mengagumi orang-orang yang sabar.

Kesabaran kunci utama dari menunggu. Mengapa sangat sulit untuk dimiliki? Mungkin karena kita sudah terlalu terbiasa dengan proses yang begitu cepat dalam hidup kita. Ketika bekerja, kita dituntut untuk selalu mobile, mencakup kecepatan dalam menyelesaikan masalah. Kecepatan dalam menemukan solusi dan mengeksekusi solusi tersebut. Contohnya, dalam mengerjakan kuis statistik, waktu yang diberikan sangat singkat. Keterbatasan waktu tersebut mendorong para mahasiswa untuk bekerja dengan cepat. Menemukan konsep yang tepat untuk menjawab soal dan menuliskan jawaban yang diperoleh dari pencocokan dengan konsep itu. Ditambah lagi dengan teknologi yang sangat mempercepat perputaran hidup kita. Internet membuat kita dapat memperoleh berbagai macam informasi dalam waktu yang singkat. Perkembangan iptek telah membuat hidup kita terstandarisasi oleh pentingnya waktu. Dalam hal ini, mendorong kita untuk selalu cepat.

Terkadang kita begitu tertekan oleh standar ini, sehingga kita melakukan sesuatu terburu-buru. Kita lupa bahwa tidak ada hal yang pasti di dunia ini, semua relatif. Begitu pula, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan 'cepat'. Terkadang butuh waktu yang lebih untuk menyelesaikannya. Bukan berarti lalai, melainkan merupakan strategi yang bijaksana. Kita perlu sedikit mengurangi agresivitas kita dan menunggu. Di sini kesabaran kita harus mengambil perannya.

Kesabaran dapat kita pelihara pertama-tama dengan menyadari bahwa sabar bukan berarti pasrah. Sabar adalah suatu proses yang menyebabkan proses menunggu berhasil dengan baik. Menunggu berbeda dengan pasrah. Pasrah adalah keadaan helpless yang disebabkan oleh menyerah, merupakan proses pasif. Menunggu adalah proses aktif yang seringkali tampak pasif. Disebut aktif dalam konteks merupakan sebuah usaha untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Tidak mudah 'mencabut' diri kita yang selalu 'cepat' dan menjadi pribadi yang sabar. Kesabaran bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin kita miliki asalkan kita punya kesadaran atas pentingnya kesabaran menunggu dan kita punya keinginan yang kuat untuk melaksanakan hal yang kita anggap terbaik itu.

ORDINARY PEOPLE (JOHN LEGEND)

[Verse 1]
Girl im in love with you
This ain't the honeymoon
Past the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday

[Bridge]
I know I misbehaved
And you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow

[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 2]
This ain't a movie no
No fairy tale conclusion ya'll
It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss then we make up on the way

[Bridge]
I hang up you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I Still want you to stay

[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 3]
Take it slow
Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave,
maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby youuuu and I

[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Heyyy)
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

A Simple yet Complex Matter of Life

Murtad. Sebagian mengatakan demikian. Sebagian lagi mengurut dada dan berniat untuk mendoakan saya, semoga saya kembali ke jalan yang’benar’, jalan Tuhan. Mereka memandang saya dengan aneh. Mungkin kasihan tetapi ada unsur melecehkan. Sudah lama saya menolak untuk pergi ke Gereja dan melakukan ritual-ritual keagamaan. Sebagian mengatakan saya malas. Ya, mereka memang benar. Saya malas untuk melakukan semuanya. Akan tetapi jarang dari mereka yang sanggup mengerti dan menerima alasan di balik kemalasan saya. Saya sedikit banyak memaklumi perlakuan mereka sebab sangatlah sulit untuk memahami sesuatu yang benar-benar di luar kotak indoktrinasi masyarakat apalagi yang dijadikan parameter kebaikan. Namun bukan alasan pribadi saya yang ingin saya bicarakan.

Salah satu parameter kebaikan adalah apakah ia religius atau tidak. Cara untuk menunjukkannya adalah dengan sering beribadah, setidaknya reguler seminggu sekali. Saya tidak mengatakan bahwa mereka melakukannya semata-mata karena ingin mendapatkan penghargaan di masyarakat. Ada yang benar-benar menemukan kedamaian di sana, menemukan tempat berpijak dan berteguh. Akan tetapi ada juga yang merupakan campuran dari kemungkinan dua alasan yang telah saya kemukakan.

Untuk alasan yang pertama, seperti orang Farisi yang kerap diceritakan dalam kitab suci agama saya, saya mencapnya munafik. Tidak salah, itu adalah pilihan mereka. Life is about choices. Yang saya sesalkan adalah ketika agama yang punya power sangat besar dijadikan tameng untuk menjustifikasi perbuatan mereka. Kerap hal ini diakibatkan pemahaman yang dangkal tentang keagamaan mereka. Kitab suci ditafsirkan secara harafiah sehingga tafsiran itu mengaburkan makna yang sebenarnya, yang berada di balik semuanya, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang think outside the box. Seorang teman pernah sekali berkata pada saya, “Al-Quran itu untuk orang yang berpikir.” Saya rasa kata-kata itu tidak hanya diperuntukkan untuk penganut agama Islam tetapi juga untuk pemeluk seluruh agama. Keterbatasan bahasa manusia acap membuat pesan-pesan Ilahi sulit tersampaikan dan oleh karena itu, kitab suci menggunakan simbol-simbol. Untuk memahaminya, kita perlu berpikir dengan kritis. Orang-orang yang fanatik berlebihan, korban dari kedangkalan pemikiran mereka, inilah yang mudah disetir untuk kepentingan politisi-politisi.

Mengenai kepentingan-kepentingan politisi, dewasa ini ada banyak pihak yang menggunakan agama untuk kepentingan politik. Keagungan dan kemuliaan surgawi diseret ke kenistaan dan kedurhakaan dunia. Orang-orang ini tahu bahwa dengan modal agama, mereka bisa memperoleh kekuatan politik yang besar sebab agama telah menjaring massa yang besar lagi loyal dan dengan ‘merangkul’ agama, mereka tak perlu susah-susah lagi. Mereka tinggal mengambil alih yang sudah ada. Orang-orang picik dan licik inilah yang menyebabkan terjadinya konflik antar pemeluk agama dan ancaman disintegrasi bangsa. Kemaksiatan ini takkan terjadi dengan mudahnya apabila insan-insan tokoh besar yang duduk dalam lembaga keagamaan tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi. Dengan iming-iming harta, mereka bisa mengeluarkan ‘surat keputusan’ atau fatwah tertentu yang menguntungkan orang yang membayar mereka. Money talks, baby.

Sekarang sebagai bagian dari masyarakat yang katanya berbudaya tinggi, apakah kita mau tunduk pada keinginan cecunguk-cecunguk itu? Kita harus selalu waspada menggunakan akal sehat kita. Jangan mau ikut apapun kata mereka seperti kerbau yang dicucuk hidungnya tetapi kritisilah setiap pernyataan itu. Apa maksud di balik semuanya? Adakah nilai positif di dalamnya? Ataukah semuanya sarat dengan kepentingan politik? Terakhir, tanyakan pada diri kita. Apakah kita mau melakukannya? Apakah suara hati kita mendukungnya? (konon suara hati kita adalah suara Tuhan dan saya percaya) Semua itu adalah pilihan kita sendiri.

On The Way to Beauty

Cantik? Siapa sih yang tak mau tampil cantik? Kecantikan membawa banyak berkah. Dikagumi, diperhatikan orang lain. Orang yang cantik kebanyakan mendapatkan perlakuan istimewa dari masyarakat. Penerimaan secara sosial tampak lebih mudah bagi perempuan yang cantik. Apalagi kalau ditunjang oleh fashion style yang bagus. Semua mata tertuju pada dia, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan lain memandang dengan rasa kagum sekaligus iri sedangkan laki-laki memandang dengan nafsu [1].

'Keuntungan' ini makin mendorong perempuan untuk bisa tampil lebih cantik [2]. Media massa terus mendengung-dengungkan kriteria cantik dan produsen berlomba-lomba meluncurkan berbagai macam produk ke dalam pasar. Mereka tahu kebanyakan perempuan akan melakukan apa saja untuk tampil cantik sekaligus menarik. Banyak hal yang ditawarkan, produk kecantikan seperti Lancome, Estee Lauder, dan perusahaan sebangsanya. Ada lagi plastic surgery untuk memperbaiki bentuk tubuh ataupun wajah yang kurang proporsional atau ideal. Juga banyak pula label-label fashion yang menawarkan berbagai macam model pakaian dengan trend-trend terkini. Ada pula program pengurangan berat badan, mulai dari makanan (misalnya susu penahan lapar), program fitness (aerobic, body language, dan sebagainya), sampai krim penghancur lemak yang secara logika sulit diterima keefektifannya.

Memang betul, tampil cantik mendapatkan nilai plus di lingkungan sosial. Siapa sih yang mau dipandang sebelah mata hanya gara-gara penampilan. Namun sayangnya banyak orang dirugikan oleh konsep kecantikan (atau membuat diri sendiri rugi?)

Kesampingkan dulu konsep inner beauty. Sekarang kita berbicara tentang outer look. Seperti apa definisi cantik di mata sebagian besar masyarakat? Kebanyakan berpendapat cantik itu bertubuh ramping dan semampai, berkulit putih, bermata besar. Kalau mau melihat 'kecantikan sempurna' lihatlah Barbie. Akan tetapi tidak semua perempuan 'diberkahi' dengan kondisi fisik demikian. Menghadapi tekanan sosial yang besar, banyak perempuan yang katanya tidak masuk kategori ideal, merasa frustasi dan mencoba segala cara agar bisa menjadi cantik (yang ideal).

Tak jarang saking depresinya, mereka memunculkan deviasi dalam tingkah lakunya, seperti eating disorder. Eating disorder adalah gangguan pada tingkah laku pola makan individu. Yang akrab di telinga kita ada dua jenis, bulimia nervosa dan anorexia nervosa. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai kedua disorder ini, namun saya ingin mengedepankan dampak dari kedua abnormalitas ini. Berawal dari rasa rendah diri, depresi sampai gangguan fisik (karena tidak ada asupan makanan) yang bisa berakibat kematian.

Ada dampak lain yang sering kita, terutama kaum perempuan, rasakan, yaitu pola hidup konsumtif. Trend-trend kecantikan dan fashion terus-menerus berubah seiring dengan perkembangan kreativitas para designer trendsetter dunia. Untuk tetap keep up dengan konsep cantik ideal, banyak orang yang terkena sindrom shopaholic. Shopaholic atau gila belanja sudah begitu merambah masyarakat sampai-sampai ada novel atau yang akrab disebut chicklit berjudul Confession of A Shopaholic. Di situ diceritakan si tokoh utama mengalami berbagai macam kesulitan gara-gara hobi berbelanjanya itu. Bagi orang yang beruntung mempunyai kelebihan yang besar dibandingkan orang lain (golongan kelas menengah ke atas), dampak sindrom ini tentunya tidak terlalu berpengaruh. Namun bagi yang berada di kelas menengah dan menengah ke bawah? Tentunya akan sangat terasa. Bagaimana kesulitannya pada saat penagihan kartu kredit. Tidak hanya shopaholic, gaya hidup konsumtif pun merambah ke plastic surgery untuk mengubah bentuk fisik yang dianggap tidak ideal. Tentunya masih banyak contoh lagi dari gaya hidup konsumtif. Pada intinya, budaya konsumerisme terkadang bisa membawa berbagai macam dampak negatif, seperti meningkatnya kriminalitas (karena kesenjangan sosial menimbulkan kecemburuan sosial).

Tidaklah salah jika kita ingin menjadi cantik (idealis) tetapi kita perlu menyesuaikan keinginan kita dengan keadaan kita. Maksud saya, kita harus mampu berkompromi dengan realitas. Tidak perlu tampil cantik bak Jennifer Lopez ataupun supermodel-supermodel untuk mendapatkan penerimaan secara sosial. Cukup dengan tampil rapi dan bersih, kita sudah menarik. Jika ingin tampil fashionable, tidak perlu membuang banyak uang untuk membeli model-model keluaran terbaru. Pergunakan kreativitas anda untuk mix and match. Ada nilai tambah di sini dibandingkan dengan orang lain, yaitu bisa tampil menarik dan berbeda hanya dengan uang yang relatif sedikit. Jika punya tubuh besar, jangan rendah diri. Lakukanlah olahraga setiap hari dengan cukup, tak perlu berlebihan. Bisa dilakukan sendiri tanpa biaya, seperti lari pagi, sit up, dan sedikit senam. Yang penting punya tubuh yang kencang. Sisanya, siasatilah dengan cara berpakaian. Tak perlu mengeluarkan jutaan rupiah, gunakanlah prinsip mix and match. Terakhir, sesuaikanlah dengan kepribadian anda agar anda bisa lebih nyaman dan percaya diri.

Akhir kata, tampil menarik tak perlu dengan uang yang banyak dan usaha yang berlebihan. Andalkanlah kreativitas anda. Dan ingat pula, tunjanglah dengan inner beauty. Anda pasti tampil lebih menarik, bahkan mungkin lebih daripada orang-orang yang cantik 'dari sananya'. Kunci terakhir: percaya diri.

[1] dalam konteks heteroseksual
[2] dalam konteks cantik ideal masyarakat pada umumnya

VIRGINITAS DAN SAYA

VIRGINITAS DALAM MASYARAKAT

PENGERTIAN UMUM VIRGINITAS
Sebagian besar masyarakat mendefinisikan virginitas secara biologis. Menurut mereka, virginitas adalah suatu kondisi dimana orang belum pernah melakukan hubungan seksual. Pada perempuan, virginitas ditandai dengan utuhnya selaput dara. Selaput dara yang utuh mengindikasikan bahwa perempuan pemiliknya adalah perawan. Selaput darah bisa sobek atau tidak ada karena berbagai macam penyebab, antara lain:

  1. Hubungan seksual
    Penetrasi penis dan vagina menyebabkan sobeknya selaput dara.
  2. Kecelakaan
    Selaput dara bisa sobek karena kecelakaan seperti jatuh dari sepeda, jatuh dari kuda, dan seterusnya.
  3. Bawaan sejak lahir
    Jika seorang perempuan tidak mempunyai selaput dara sejak lahir, perempuan tersebut tetap dicap tidak perawan.

Sedangkan laki-laki tidak memiliki parameter secara biologis mengenai virginitas.

VIRGINITAS DALAM KULTUR INDONESIA
Kultur masyarakat Indonesia memandang seks sebagai suatu hal yang sakral, yaitu sebagai wujud cinta kasih dan untuk meneruskan keturunan. Keluarga adalah hal yang penting. Oleh karena itu, seks ’dilegalkan’ ketika sepasang laki-laki dan perempuan telah mengikatkan diri dalam sebuah lembaga perkawinan. Dengan kata lain, virginitas hanya boleh ’dilepas’ ketika sudah menikah. Atau bisa juga dikatakan bahwa seks pranikah dilarang.

Pandangan ini dipengaruhi banyak ataupun sedikit dari agama-agama yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki lima agama resmi, antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Kelima agama ini melarang seks pranikah. Artinya kelima agama ini menganggap penting virginitas. Oleh karena pengaruh agama besar dalam masyarakat, nilai-nilainya juga melembaga dalam kultur masyarakat.

Laki-laki ataupun perempuan harus menjaga virginitasnya sebelum menikah. Namun isu virginitas seringkali dikaitkan dengan perempuan dan seakan-akan yang bertanggung jawab menjaga virginitasnya adalah perempuan. Hal itu disebabkan oleh ketiadaan penanda virginitas bagi laki-laki seperti selaput dara pada perempuan.

Seorang perempuan dinilai apakah ia pantas bagi seorang laki-laki, salah satunya, berdasarkan virginitasnya. Ketika seorang perempuan tidak dapat menjaga virginitasnya, ia dicap sebagai perempuan murahan. Ia cenderung dimusuhi oleh masyarakat dan bahkan dikucilkan. Betapa berat beban seorang hawa!

Laki-laki bisa melepaskan virginitasnya kapan saja ia mau dan tidak diketahui oleh masyarakat. Lama-kelamaan terjadi pergeseran nilai budaya dalam suatu kelompok masyarakat. Seorang pria dianggap jantan apabila ia mengambil virginitas banyak perempuan. Betapa menyedihkan.
Seiring dengan era globalisasi, banyak nilai-nilai budaya asing , terutama budaya barat, masuk ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam budaya barat, seks sudah bukan lagi suatu hal yang sakral. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut kultur Indonesia, virginitas mulai kehilangan kesakralannya.


VIRGINITAS DALAM PANDANGAN SAYA

PEREMPUAN: SELAPUT DARA, PRIA: ???
Melihat kenyataan yang demikian, saya bertanya-tanya. Mengapa Tuhan menciptakan perempuan dengan selaput dara yang mengindikasikan virginitas dirinya? Mengapa Tuhan tidak melakukan hal yang sama terhadap laki-laki? Betapa tidak adilnya Tuhan!

Akan tetapi setelah saya renungkan lebih lanjut, pertanyaan saya adalah pertanyaan yang tidak mungkin mampu dijawab manusia. Hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Yang bisa saya katakan dari proses kontemplasi saya adalah bahwa sebenarnya yang memberikan nilai virginitas adalah manusia. Yang membuat selaput dara sebagai indikator virginitas perempuan adalah manusia.

Saya berkesimpulan bahwa manusia tidak adil. Manusia memilih selaput dara sebagai indikator virginitas seorang perempuan, sedangkan laki-laki tidak ditentukan indikatornya.
Jika alasannya secara biologis laki-laki memang ditakdirkan tidak diketahui kevirginitasannya, manusia tidak berhak menilai virginitas perempuan dari kondisi fisiknya pula. Lagipula selaput dara bisa saja hilang bukan karena hubungan seksual melainkan kecelakaan atau bawaan sejak lahir.

Kalau memang virginitas itu penting dan perlu dicari indikatornya, carilah indikator yang memperlakukan laki-laki dan perempuan secara adil. Dimulai dengan mengubah pengertian virginitas. Menurut saya pribadi, virginitas adalah suatu kondisi dimana seorang individu belum pernah benar-benar melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual yang saya maksud di sini adalah hubungan seksual atas dasar kasih sayang (cinta) yang mendalam, bukan hubungan seksual dengan paksaan seperti pemerkosaan maupun hubungan seksual hanya karena kesenangan.

Kemudian dari penyataan saya di atas, mungkin akan timbul pertanyaan, ”Bagaimana kita dapat mengetahui seseorang virgin atau tidak jika tidak ada indikator pasti yang bisa diukur seperti selaput dara?” Seperti yang saya singgung sebelumnya, virginitas lepas apabila seseorang telah melakukan hubungan seksual atas dasar cinta. Salah satu dasar dari cinta adalah kepercayaan. Apabila pasangan mengatakan bahwa ia belum melepaskan virginitasnya (tentunya dalam konteks yang telah saya kemukakan), percayalah bahwa ia masih virgin.

MAKNA VIRGINITAS
Setelah saya mencoba memberikan definisi dari perspektif pribadi saya terhadap virginitas, saya ingin mengemukakan pendapat saya tentang makna virginitas. Apa perbedaan definisi dengan makna? Definisi adalah penyataan yang mendeskripsikan suatu fenomena. Sedangkan makna adalah pentingnya fenomena itu.

Untuk saya pribadi, virginitas memang penting dan alangkah baiknya dijaga. Saya, sebagai seorang perempuan, ingin memberikan virginitas saya kepada orang yang benar-benar saya anggap tepat (baca: orang yang saya cintai).

Walaupun virginitas penting, saya juga sadar bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada hal itu. Masih ada loyalitas, kepercayaan, kejujuran, kemurahan hati, dan seterusnya yang posisinya berada di atas virginitas. Mengutip perkataan dari seorang kawan, ”virginitas adanya di nomor 17”. Tentunya teman saya tidak memaksudkannya secara harafiah. Ia ingin mengatakan bahwa virginitas bukan hal yang terpenting.

Andaikan anda mempunyai pasangan yang sangat cocok dengan anda dan sangat menyayangi anda. Ia sangat memahami anda, selalu berada di sisi anda saat suka ataupun duka, rela berkorban untuk anda tetapi ia tidak virgin. Apakah adil bagi ia dan anda jika anda ingin meninggalkannya hanya karena ia tidak virgin?

Menurut saya, orang-orang yang benar-benar mencari pasangan hidup pasti mengharapkan pendampingan dan berbagi suka dan duka. Hal inilah yang menjadi prioritas utama. Apakah virginitas dapat memenuhi harapan saya? Jawabnya tentu tidak. Untuk saya, virginitas hanyalah aksesori tambahan, bukan hal yang esensial. Boleh ada boleh tidak.


KESIMPULAN

Virginitas memang selalu menjadi isu yang menarik untuk dibahas karena mengundang banyak kontroversi, misalnya tentang definisinya. Masih belum ada definisi yang jelas mengenai virginitas. Apakah virginitas adalah keadaan dimana seseorang belum pernah melakukan hubungan seksual secara sadar, secara dipaksa, atau belum pernah melakukan hubungan seksual yang dilandasi oleh rasa cinta?

Juga terjadi perbedaan pendapat mengenai makna virginitas. Ada yang menganggap virginitas bukan hal yang terpenting. Ada juga yang menganggap virginitas hal yang sangat penting dan bahkan menentukan seseorang layak atau tidak.

Oleh karena belum ada batas yang jelas mengenai virginitas, kita diberikan kebebasan untuk menciptakan pemikiran kita sendiri. Anggaplah kebebasan ini sebagai makanan untuk proses kognitif kita. Kebebasan ini tentu akan melahirkan banyak perbedaan. Bukankah perbedaan mengakibatkan dunia kita semakin menarik.

P.S: Saya menulis topik ini untuk tugas akhir mata kuliah Filsafat Umum dan Logika. Tulisan ini saya muat di sini dengan berbagai perubahan untuk tujuan adaptasi.

Book Store: tempting yet horrible


Akhir-akhir ini toko buku menjadi spot favorit saya, terutama QB karena customer diberi kesempatan untuk membaca buku yang diinginkan di sana secara gratis dengan tempat khusus. Baru-baru ini saya membeli tiga buah buku baru padahal saya masih harus menyelesaikan dua buku lagi. Jadi total PR saya ada lima buku. Inilah akibat kurang pengontrolan diri terhadap nafsu belanja. Pusing! Posted by Hello

February 14, 2005


Cinta itu berharga, maka hari kasih sayang jangan melulu diwarnai dengan pink. Valentine is gold... untuk menandai betapa berharganya cinta di dunia ini. Happy Valentine's Day! Posted by Hello

FIRST IMPRESSION


Posted by Hello

Sebenarnya seberapa penting first impression bagi seseorang? Saya pribadi menganggapnya sangat penting. First impression saya terhadap seseorang mempengaruhi penilaian saya terhadap orang itu dalam skala yang cukup besar. Apalagi saya tidak pernah mengubah penilaian saya secara total. Yang ada hanya semacam update terhadap data tentang orang itu dalam otak saya. Dengan kata lain, garis besarnya tetap sama.

Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk memberikan kesan pertama yang baik dalam setiap event terutama yang penting dalam hidup saya. Misalnya, berkaitan dengan status saya sekarang ini sebagai seorang mahasiswa, sangat krusial bagi saya untuk memberikan kesan pertama yang baik terhadap dosen. Caranya, saat kuliah awal, saya rajin kuliah, duduk di barisan terdepan, dan 'memasang topeng' seorang mahasiswa yang baik. Mahasiswa yang selalu memperhatikan penjelasan dosen, berusaha menjawab pertanyaan ataupun mengajukan pertanyaan. Indikator keberhasilan usaha saya adalah ketika dosen menjelaskan sesuatu hal dan bertanya, matanya mengarah kepada saya dalam frekuensi yang tinggi. Jika dosen itu sudah melakukannya, berarti saya telah berhasil memberikan image yang kuat dalam arti positif.

Setelah itu, saya terkadang akan memanjakan diri saya dengan berbuat sedikit kenakalan, misalnya bolos. Penilaian dosen itu tidak akan berubah, terlebih lagi kalau ditunjang dengan kemampuan akademis yang baik. Kemampuan akademis tidak diukur hanya dengan skor pada saat kuis ataupun ujian tetapi juga seberapa kritis kita terhadap sesuatu hal yang disodorkan di kelas dan kedalaman logika kita dalam menjawab suatu pertanyaan. Dengan demikian dosen akan memaklumi kenakalan saya sebagai sesuatu yang wajar. "Saya juga pernah jadi mahasiswa," mungkin begitu pikirnya.

Selama kuliah dua minggu ini (satu minggu efektif), saya merasa saya sudah berada dalam tahap awal dalam 'menarik perhatian' dosen saya. Bahkan ada yang menganggap saya seseorang yang tepat untuk menjadi seorang psikolog karena di matanya, saya adalah orang yang sabar. Padahal saya orang yang selalu terburu-buru dan itu berarti saya sangat tidak sabar. Mungkin ketika saya menunjukkan kepanikan, dosen itu akan menganggapnya sebagai pribadi abnormal yang muncul karena terpicu oleh situasi sekitar.

Namun ketika kita sudah berhasil menciptakan kesan pertama yang mengagumkan, kita harus tetap menjaganya agar tetap demikian, kalau bisa ditingkatkan. Sedikit melepas pribadi 'negatif' kita boleh, tetapi ada baiknya tidak terlalu sering. Jika kita terlalu sering melakukannya, penilaian orang lain terhadap kita bisa berubah menjadi buruk. Celakanya, bisa sama buruk dengan orang yang first impression-nya jelek karena image kita sudah terlanjur melekat dengan kuat di hati orang lain.

Akhir kata, kita bisa saja cuek dengan penilaian orang lain tetapi harus disadari pula bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, social acceptance merupakan kebutuhan manusia. Menciptakan kesan yang baik bukan berarti kita harus berpura-pura menjadi orang lain. Aliran humanistik mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik dan saya percaya terhadap pernyataan itu sepenuhnya. Maka keluarkan sisi baik kita yang terbaik. Niscaya hal itu akan memberikan efek yang positif bagi diri kita sendiri dan lingkungan.

ALONE

Pernahkan anda kesepian padahal di sekitar anda, ada banyak orang dan suasananya ramai? Anda merasa hidup di dunia yang berbeda. Raga anda memang ada di sana tetapi hati dan pikiran anda berada di tempat yang lain. Akhir-akhir ini saya mengalaminya. Entah apa yang membuat saya demikian. Saya kesepian.

Keadaan ini membuat saya malas berbicara dengan orang lain karena percuma saja, ia tidak akan bisa menghilangkan perasaan saya. Saya membuang energi dengan sia-sia tanpa mendapatkan hasil yang memuaskan. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya mempunyai kecenderungan untuk bersikap tidak ramah terhadap orang lain dan hal ini mungkin akan membuat mereka tersinggung. Namun kali ini, saya ingin egois dengan memutuskan untuk berdiam diri sementara waktu dan urusan meminta maaf serta memperbaiki hubungan dilakukan di lain kesempatan ketika saya sudah kembali ke kondisi "normal".

Kemudian saya berpikir, mungkinkah ini hanya salah satu fase dalam hidup saya sebagai makhluk individu (pribadi)? Mungkin saja saya hanya butuh istirahat dari aktivitas sehari-hari. Mungkin saya butuh kesendirian. Kalau biasanya saya melakukan banyak hal bersana teman, inilah saatnya saya menjalankannya sendiri. Nonton film sendiri, makan sendiri, dan sebagainya. Saya ingin sendiri.

Ketenangan akan membuat jiwa saya merasakan kedamaian dan ketika itu, saya akan banyak berpikir dan merenungkan banyak hal. Dengan kata lain, saya merefleksikan perjalanan hidup saya selama ini. Harapan saya, saya bisa menjalani hidup saya dengan lebih baik. Lebih baik di sini berarti lebih baik untuk saya dan lebih baik untuk lingkungan sejauh tidak terlalu merugikan diri sendiri. Bukannya saya egois karena saya memang hanya bisa menjanjikan hal itu pada diri saya. Tidak mungkin saya menuruti keinginan orang lain sebab saya punya jati diri sebagai manusia yang unik. Lagipula berangkat dari kenyataan bahwa manusia berbeda-beda, idealisme mereka tentang sesuatu hal pun berlainan.

Akhir kata, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa manusia selain makhluk sosial, juga adalah makhluk individu. Ia membutuhkan situasi yang bersifat pribadi, salah satunya kesendirian. Bukan berarti ia memutuskan hubungan dengan lingkungan sosialnya, melainkan ia mundur sejenak agar dirinya lebih baik untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.