To Wait: Friend or Foe?

Menunggu. Kata yang kerap terdengar di kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang membuat kita menunggu. Menunggu pacar menjemput pada malam minggu. Menunggu pengumuman kelulusan. Menunggu sale barang-barang keren di mall. Menunggu mendapat uang jajan. Menunggu waktu kuliah selesai. Menunggu opera sabun diputar setiap minggu. Menunggu mendapat giliran antrian. Menunggu jawaban dari pertanyaan yang diajukan ataupun pertanyaan yang belum diajukan (tapi anehnya mengharap dijawab). Menunggu waktu untuk mati.

Menunggu, buat saya, lebih melelahkan, lebih berat daripada pekerjaan manapun. Saya lebih senang disuruh berlari mengelilingi lapangan 345 kali, membersihkan kamar yang super berantakan, mengobok-ngobok wc, menyuapi anak kecil makan, menyulam, menjahit, ataupun pekerjaan-pekerjaan lain yang saya benci. Namun tak ada yang lebih menyebalkan, mengesalkan, dan mengiris-ngiris nadi daripada menunggu. Ketika menunggu, saya tampak seperti orang bodoh karena terkadang saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya diam seperti tanpa tujuan. Apapun yang saya lakukan selama menunggu menjadi hal-hal yang tidak beralasan. Dan hal tersebut bertentangan dengan prinsip hidup saya yang menegaskan bahwa harus ada alasan untuk segala sesuatu. Memang ada alasan, yaitu untuk mengisi waktu selama menunggu. Akan tetapi alasan itu tidak cukup kuat untuk membuat saya puas dengan keadaan hidup saya pada saat itu.

Namun saya sadar, betapapun saya membencinya, menunggu merupakan kodrat manusia. Hampir setiap hari saya menunggu. Terkadang saya bisa menghadapinya dengan senyum, dengan pikiran positif yang cemerlang, mengisi waktu dengan melakukan hal-hal berguna (walaupun sedikit dipaksakan), seperti membaca buku. Akan tetapi ada batas-batas toleransi tertentu yang tak bisa saya tembus. Ketika membaca buku, saya sadar bahwa saya sedang menunggu sehingga walaupun buku itu pada masa normal menarik perhatian saya, saya sudah bosan dalam waktu yang kira-kira/relatif singkat.

Mengapa saya harus menunggu? Mengapa menunggu sepertinya hal yang mutlak? Seberapa penting menunggu? Apakah dengan tidak menunggu, saya mati? Karena keterbatasan dunia ini, manusia harus menunggu. Seperti pada saat ingin membeli tiket busway, orang perlu menunggu karena petugas loket pendaftaran cuma beberapa dan tidak mungkin menangani semua pelanggan sekaligus. Saya harus menunggu untuk tahu kapan saya mati karena manusia tidak punya kapabilitas untuk membuka buku takdir. Saya harus menunggu untuk mendapat uang jajan karena saya belum mampu mencari penghasilan sendiri sementara orangtua saya perlu melakukan penyusunan alokasi uang sehubungan dengan keterbatasan penghasilan mereka. Saya harus menunggu untuk mendapatkan fotokopi bahan kuliah karena bahannya hanya satu dan teman saya yang ditugaskan untuk memfotokopi juga punya keterbatasan waktu dan ia masih harus menunggu antrian di tempat fotokopi. Saya harus menunggu pacar ketika ia harus menempuh perjalanan tertentu untuk bertemu dengan saya. Belum lagi kalau jalanan macet. Saya harus menunggu reaksi gebetan karena saya tidak bisa mengetahui isi hati orang tanpa dia mengkomunikasikannya (baik melalui kata-kata ataupun tindak tanduk lainnya) dan dia sendiripun punya keterbatasan yang sama sehingga harus melakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Saya harus menunggu untuk tahu hasil kuis statistik lalu karena dosennya sendiri punya keterbatasan waktu dan tenaga sehingga ia harus mencari waktu yang tepat untuk memeriksa pekerjaan mahasiswanya. Kesimpulannya, banyak alasan yang membuat kita harus menunggu dan oleh karena itulah, menunggu menjadi sesuatu yang penting bagi manusia, termasuk saya.

Mengapa menunggu begitu sulit dan melelahkan? Mengapa ketika kata ini terlintas, saya langsung merasa lemas dan sedikit banyak pesimis? Sebab menunggu membutuhkan kesabaran! Dan saya tidak punya kualifikasi yang membanggakan dalam hal tersebut. Saya selalu mengagumi orang-orang yang sabar.

Kesabaran kunci utama dari menunggu. Mengapa sangat sulit untuk dimiliki? Mungkin karena kita sudah terlalu terbiasa dengan proses yang begitu cepat dalam hidup kita. Ketika bekerja, kita dituntut untuk selalu mobile, mencakup kecepatan dalam menyelesaikan masalah. Kecepatan dalam menemukan solusi dan mengeksekusi solusi tersebut. Contohnya, dalam mengerjakan kuis statistik, waktu yang diberikan sangat singkat. Keterbatasan waktu tersebut mendorong para mahasiswa untuk bekerja dengan cepat. Menemukan konsep yang tepat untuk menjawab soal dan menuliskan jawaban yang diperoleh dari pencocokan dengan konsep itu. Ditambah lagi dengan teknologi yang sangat mempercepat perputaran hidup kita. Internet membuat kita dapat memperoleh berbagai macam informasi dalam waktu yang singkat. Perkembangan iptek telah membuat hidup kita terstandarisasi oleh pentingnya waktu. Dalam hal ini, mendorong kita untuk selalu cepat.

Terkadang kita begitu tertekan oleh standar ini, sehingga kita melakukan sesuatu terburu-buru. Kita lupa bahwa tidak ada hal yang pasti di dunia ini, semua relatif. Begitu pula, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan 'cepat'. Terkadang butuh waktu yang lebih untuk menyelesaikannya. Bukan berarti lalai, melainkan merupakan strategi yang bijaksana. Kita perlu sedikit mengurangi agresivitas kita dan menunggu. Di sini kesabaran kita harus mengambil perannya.

Kesabaran dapat kita pelihara pertama-tama dengan menyadari bahwa sabar bukan berarti pasrah. Sabar adalah suatu proses yang menyebabkan proses menunggu berhasil dengan baik. Menunggu berbeda dengan pasrah. Pasrah adalah keadaan helpless yang disebabkan oleh menyerah, merupakan proses pasif. Menunggu adalah proses aktif yang seringkali tampak pasif. Disebut aktif dalam konteks merupakan sebuah usaha untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Tidak mudah 'mencabut' diri kita yang selalu 'cepat' dan menjadi pribadi yang sabar. Kesabaran bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin kita miliki asalkan kita punya kesadaran atas pentingnya kesabaran menunggu dan kita punya keinginan yang kuat untuk melaksanakan hal yang kita anggap terbaik itu.

ORDINARY PEOPLE (JOHN LEGEND)

[Verse 1]
Girl im in love with you
This ain't the honeymoon
Past the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday

[Bridge]
I know I misbehaved
And you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow

[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 2]
This ain't a movie no
No fairy tale conclusion ya'll
It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss then we make up on the way

[Bridge]
I hang up you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I Still want you to stay

[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 3]
Take it slow
Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave,
maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby youuuu and I

[Chorus]
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Heyyy)
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow
(Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

A Simple yet Complex Matter of Life

Murtad. Sebagian mengatakan demikian. Sebagian lagi mengurut dada dan berniat untuk mendoakan saya, semoga saya kembali ke jalan yang’benar’, jalan Tuhan. Mereka memandang saya dengan aneh. Mungkin kasihan tetapi ada unsur melecehkan. Sudah lama saya menolak untuk pergi ke Gereja dan melakukan ritual-ritual keagamaan. Sebagian mengatakan saya malas. Ya, mereka memang benar. Saya malas untuk melakukan semuanya. Akan tetapi jarang dari mereka yang sanggup mengerti dan menerima alasan di balik kemalasan saya. Saya sedikit banyak memaklumi perlakuan mereka sebab sangatlah sulit untuk memahami sesuatu yang benar-benar di luar kotak indoktrinasi masyarakat apalagi yang dijadikan parameter kebaikan. Namun bukan alasan pribadi saya yang ingin saya bicarakan.

Salah satu parameter kebaikan adalah apakah ia religius atau tidak. Cara untuk menunjukkannya adalah dengan sering beribadah, setidaknya reguler seminggu sekali. Saya tidak mengatakan bahwa mereka melakukannya semata-mata karena ingin mendapatkan penghargaan di masyarakat. Ada yang benar-benar menemukan kedamaian di sana, menemukan tempat berpijak dan berteguh. Akan tetapi ada juga yang merupakan campuran dari kemungkinan dua alasan yang telah saya kemukakan.

Untuk alasan yang pertama, seperti orang Farisi yang kerap diceritakan dalam kitab suci agama saya, saya mencapnya munafik. Tidak salah, itu adalah pilihan mereka. Life is about choices. Yang saya sesalkan adalah ketika agama yang punya power sangat besar dijadikan tameng untuk menjustifikasi perbuatan mereka. Kerap hal ini diakibatkan pemahaman yang dangkal tentang keagamaan mereka. Kitab suci ditafsirkan secara harafiah sehingga tafsiran itu mengaburkan makna yang sebenarnya, yang berada di balik semuanya, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang think outside the box. Seorang teman pernah sekali berkata pada saya, “Al-Quran itu untuk orang yang berpikir.” Saya rasa kata-kata itu tidak hanya diperuntukkan untuk penganut agama Islam tetapi juga untuk pemeluk seluruh agama. Keterbatasan bahasa manusia acap membuat pesan-pesan Ilahi sulit tersampaikan dan oleh karena itu, kitab suci menggunakan simbol-simbol. Untuk memahaminya, kita perlu berpikir dengan kritis. Orang-orang yang fanatik berlebihan, korban dari kedangkalan pemikiran mereka, inilah yang mudah disetir untuk kepentingan politisi-politisi.

Mengenai kepentingan-kepentingan politisi, dewasa ini ada banyak pihak yang menggunakan agama untuk kepentingan politik. Keagungan dan kemuliaan surgawi diseret ke kenistaan dan kedurhakaan dunia. Orang-orang ini tahu bahwa dengan modal agama, mereka bisa memperoleh kekuatan politik yang besar sebab agama telah menjaring massa yang besar lagi loyal dan dengan ‘merangkul’ agama, mereka tak perlu susah-susah lagi. Mereka tinggal mengambil alih yang sudah ada. Orang-orang picik dan licik inilah yang menyebabkan terjadinya konflik antar pemeluk agama dan ancaman disintegrasi bangsa. Kemaksiatan ini takkan terjadi dengan mudahnya apabila insan-insan tokoh besar yang duduk dalam lembaga keagamaan tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi. Dengan iming-iming harta, mereka bisa mengeluarkan ‘surat keputusan’ atau fatwah tertentu yang menguntungkan orang yang membayar mereka. Money talks, baby.

Sekarang sebagai bagian dari masyarakat yang katanya berbudaya tinggi, apakah kita mau tunduk pada keinginan cecunguk-cecunguk itu? Kita harus selalu waspada menggunakan akal sehat kita. Jangan mau ikut apapun kata mereka seperti kerbau yang dicucuk hidungnya tetapi kritisilah setiap pernyataan itu. Apa maksud di balik semuanya? Adakah nilai positif di dalamnya? Ataukah semuanya sarat dengan kepentingan politik? Terakhir, tanyakan pada diri kita. Apakah kita mau melakukannya? Apakah suara hati kita mendukungnya? (konon suara hati kita adalah suara Tuhan dan saya percaya) Semua itu adalah pilihan kita sendiri.

On The Way to Beauty

Cantik? Siapa sih yang tak mau tampil cantik? Kecantikan membawa banyak berkah. Dikagumi, diperhatikan orang lain. Orang yang cantik kebanyakan mendapatkan perlakuan istimewa dari masyarakat. Penerimaan secara sosial tampak lebih mudah bagi perempuan yang cantik. Apalagi kalau ditunjang oleh fashion style yang bagus. Semua mata tertuju pada dia, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan lain memandang dengan rasa kagum sekaligus iri sedangkan laki-laki memandang dengan nafsu [1].

'Keuntungan' ini makin mendorong perempuan untuk bisa tampil lebih cantik [2]. Media massa terus mendengung-dengungkan kriteria cantik dan produsen berlomba-lomba meluncurkan berbagai macam produk ke dalam pasar. Mereka tahu kebanyakan perempuan akan melakukan apa saja untuk tampil cantik sekaligus menarik. Banyak hal yang ditawarkan, produk kecantikan seperti Lancome, Estee Lauder, dan perusahaan sebangsanya. Ada lagi plastic surgery untuk memperbaiki bentuk tubuh ataupun wajah yang kurang proporsional atau ideal. Juga banyak pula label-label fashion yang menawarkan berbagai macam model pakaian dengan trend-trend terkini. Ada pula program pengurangan berat badan, mulai dari makanan (misalnya susu penahan lapar), program fitness (aerobic, body language, dan sebagainya), sampai krim penghancur lemak yang secara logika sulit diterima keefektifannya.

Memang betul, tampil cantik mendapatkan nilai plus di lingkungan sosial. Siapa sih yang mau dipandang sebelah mata hanya gara-gara penampilan. Namun sayangnya banyak orang dirugikan oleh konsep kecantikan (atau membuat diri sendiri rugi?)

Kesampingkan dulu konsep inner beauty. Sekarang kita berbicara tentang outer look. Seperti apa definisi cantik di mata sebagian besar masyarakat? Kebanyakan berpendapat cantik itu bertubuh ramping dan semampai, berkulit putih, bermata besar. Kalau mau melihat 'kecantikan sempurna' lihatlah Barbie. Akan tetapi tidak semua perempuan 'diberkahi' dengan kondisi fisik demikian. Menghadapi tekanan sosial yang besar, banyak perempuan yang katanya tidak masuk kategori ideal, merasa frustasi dan mencoba segala cara agar bisa menjadi cantik (yang ideal).

Tak jarang saking depresinya, mereka memunculkan deviasi dalam tingkah lakunya, seperti eating disorder. Eating disorder adalah gangguan pada tingkah laku pola makan individu. Yang akrab di telinga kita ada dua jenis, bulimia nervosa dan anorexia nervosa. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai kedua disorder ini, namun saya ingin mengedepankan dampak dari kedua abnormalitas ini. Berawal dari rasa rendah diri, depresi sampai gangguan fisik (karena tidak ada asupan makanan) yang bisa berakibat kematian.

Ada dampak lain yang sering kita, terutama kaum perempuan, rasakan, yaitu pola hidup konsumtif. Trend-trend kecantikan dan fashion terus-menerus berubah seiring dengan perkembangan kreativitas para designer trendsetter dunia. Untuk tetap keep up dengan konsep cantik ideal, banyak orang yang terkena sindrom shopaholic. Shopaholic atau gila belanja sudah begitu merambah masyarakat sampai-sampai ada novel atau yang akrab disebut chicklit berjudul Confession of A Shopaholic. Di situ diceritakan si tokoh utama mengalami berbagai macam kesulitan gara-gara hobi berbelanjanya itu. Bagi orang yang beruntung mempunyai kelebihan yang besar dibandingkan orang lain (golongan kelas menengah ke atas), dampak sindrom ini tentunya tidak terlalu berpengaruh. Namun bagi yang berada di kelas menengah dan menengah ke bawah? Tentunya akan sangat terasa. Bagaimana kesulitannya pada saat penagihan kartu kredit. Tidak hanya shopaholic, gaya hidup konsumtif pun merambah ke plastic surgery untuk mengubah bentuk fisik yang dianggap tidak ideal. Tentunya masih banyak contoh lagi dari gaya hidup konsumtif. Pada intinya, budaya konsumerisme terkadang bisa membawa berbagai macam dampak negatif, seperti meningkatnya kriminalitas (karena kesenjangan sosial menimbulkan kecemburuan sosial).

Tidaklah salah jika kita ingin menjadi cantik (idealis) tetapi kita perlu menyesuaikan keinginan kita dengan keadaan kita. Maksud saya, kita harus mampu berkompromi dengan realitas. Tidak perlu tampil cantik bak Jennifer Lopez ataupun supermodel-supermodel untuk mendapatkan penerimaan secara sosial. Cukup dengan tampil rapi dan bersih, kita sudah menarik. Jika ingin tampil fashionable, tidak perlu membuang banyak uang untuk membeli model-model keluaran terbaru. Pergunakan kreativitas anda untuk mix and match. Ada nilai tambah di sini dibandingkan dengan orang lain, yaitu bisa tampil menarik dan berbeda hanya dengan uang yang relatif sedikit. Jika punya tubuh besar, jangan rendah diri. Lakukanlah olahraga setiap hari dengan cukup, tak perlu berlebihan. Bisa dilakukan sendiri tanpa biaya, seperti lari pagi, sit up, dan sedikit senam. Yang penting punya tubuh yang kencang. Sisanya, siasatilah dengan cara berpakaian. Tak perlu mengeluarkan jutaan rupiah, gunakanlah prinsip mix and match. Terakhir, sesuaikanlah dengan kepribadian anda agar anda bisa lebih nyaman dan percaya diri.

Akhir kata, tampil menarik tak perlu dengan uang yang banyak dan usaha yang berlebihan. Andalkanlah kreativitas anda. Dan ingat pula, tunjanglah dengan inner beauty. Anda pasti tampil lebih menarik, bahkan mungkin lebih daripada orang-orang yang cantik 'dari sananya'. Kunci terakhir: percaya diri.

[1] dalam konteks heteroseksual
[2] dalam konteks cantik ideal masyarakat pada umumnya

VIRGINITAS DAN SAYA

VIRGINITAS DALAM MASYARAKAT

PENGERTIAN UMUM VIRGINITAS
Sebagian besar masyarakat mendefinisikan virginitas secara biologis. Menurut mereka, virginitas adalah suatu kondisi dimana orang belum pernah melakukan hubungan seksual. Pada perempuan, virginitas ditandai dengan utuhnya selaput dara. Selaput dara yang utuh mengindikasikan bahwa perempuan pemiliknya adalah perawan. Selaput darah bisa sobek atau tidak ada karena berbagai macam penyebab, antara lain:

  1. Hubungan seksual
    Penetrasi penis dan vagina menyebabkan sobeknya selaput dara.
  2. Kecelakaan
    Selaput dara bisa sobek karena kecelakaan seperti jatuh dari sepeda, jatuh dari kuda, dan seterusnya.
  3. Bawaan sejak lahir
    Jika seorang perempuan tidak mempunyai selaput dara sejak lahir, perempuan tersebut tetap dicap tidak perawan.

Sedangkan laki-laki tidak memiliki parameter secara biologis mengenai virginitas.

VIRGINITAS DALAM KULTUR INDONESIA
Kultur masyarakat Indonesia memandang seks sebagai suatu hal yang sakral, yaitu sebagai wujud cinta kasih dan untuk meneruskan keturunan. Keluarga adalah hal yang penting. Oleh karena itu, seks ’dilegalkan’ ketika sepasang laki-laki dan perempuan telah mengikatkan diri dalam sebuah lembaga perkawinan. Dengan kata lain, virginitas hanya boleh ’dilepas’ ketika sudah menikah. Atau bisa juga dikatakan bahwa seks pranikah dilarang.

Pandangan ini dipengaruhi banyak ataupun sedikit dari agama-agama yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki lima agama resmi, antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Kelima agama ini melarang seks pranikah. Artinya kelima agama ini menganggap penting virginitas. Oleh karena pengaruh agama besar dalam masyarakat, nilai-nilainya juga melembaga dalam kultur masyarakat.

Laki-laki ataupun perempuan harus menjaga virginitasnya sebelum menikah. Namun isu virginitas seringkali dikaitkan dengan perempuan dan seakan-akan yang bertanggung jawab menjaga virginitasnya adalah perempuan. Hal itu disebabkan oleh ketiadaan penanda virginitas bagi laki-laki seperti selaput dara pada perempuan.

Seorang perempuan dinilai apakah ia pantas bagi seorang laki-laki, salah satunya, berdasarkan virginitasnya. Ketika seorang perempuan tidak dapat menjaga virginitasnya, ia dicap sebagai perempuan murahan. Ia cenderung dimusuhi oleh masyarakat dan bahkan dikucilkan. Betapa berat beban seorang hawa!

Laki-laki bisa melepaskan virginitasnya kapan saja ia mau dan tidak diketahui oleh masyarakat. Lama-kelamaan terjadi pergeseran nilai budaya dalam suatu kelompok masyarakat. Seorang pria dianggap jantan apabila ia mengambil virginitas banyak perempuan. Betapa menyedihkan.
Seiring dengan era globalisasi, banyak nilai-nilai budaya asing , terutama budaya barat, masuk ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam budaya barat, seks sudah bukan lagi suatu hal yang sakral. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut kultur Indonesia, virginitas mulai kehilangan kesakralannya.


VIRGINITAS DALAM PANDANGAN SAYA

PEREMPUAN: SELAPUT DARA, PRIA: ???
Melihat kenyataan yang demikian, saya bertanya-tanya. Mengapa Tuhan menciptakan perempuan dengan selaput dara yang mengindikasikan virginitas dirinya? Mengapa Tuhan tidak melakukan hal yang sama terhadap laki-laki? Betapa tidak adilnya Tuhan!

Akan tetapi setelah saya renungkan lebih lanjut, pertanyaan saya adalah pertanyaan yang tidak mungkin mampu dijawab manusia. Hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Yang bisa saya katakan dari proses kontemplasi saya adalah bahwa sebenarnya yang memberikan nilai virginitas adalah manusia. Yang membuat selaput dara sebagai indikator virginitas perempuan adalah manusia.

Saya berkesimpulan bahwa manusia tidak adil. Manusia memilih selaput dara sebagai indikator virginitas seorang perempuan, sedangkan laki-laki tidak ditentukan indikatornya.
Jika alasannya secara biologis laki-laki memang ditakdirkan tidak diketahui kevirginitasannya, manusia tidak berhak menilai virginitas perempuan dari kondisi fisiknya pula. Lagipula selaput dara bisa saja hilang bukan karena hubungan seksual melainkan kecelakaan atau bawaan sejak lahir.

Kalau memang virginitas itu penting dan perlu dicari indikatornya, carilah indikator yang memperlakukan laki-laki dan perempuan secara adil. Dimulai dengan mengubah pengertian virginitas. Menurut saya pribadi, virginitas adalah suatu kondisi dimana seorang individu belum pernah benar-benar melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual yang saya maksud di sini adalah hubungan seksual atas dasar kasih sayang (cinta) yang mendalam, bukan hubungan seksual dengan paksaan seperti pemerkosaan maupun hubungan seksual hanya karena kesenangan.

Kemudian dari penyataan saya di atas, mungkin akan timbul pertanyaan, ”Bagaimana kita dapat mengetahui seseorang virgin atau tidak jika tidak ada indikator pasti yang bisa diukur seperti selaput dara?” Seperti yang saya singgung sebelumnya, virginitas lepas apabila seseorang telah melakukan hubungan seksual atas dasar cinta. Salah satu dasar dari cinta adalah kepercayaan. Apabila pasangan mengatakan bahwa ia belum melepaskan virginitasnya (tentunya dalam konteks yang telah saya kemukakan), percayalah bahwa ia masih virgin.

MAKNA VIRGINITAS
Setelah saya mencoba memberikan definisi dari perspektif pribadi saya terhadap virginitas, saya ingin mengemukakan pendapat saya tentang makna virginitas. Apa perbedaan definisi dengan makna? Definisi adalah penyataan yang mendeskripsikan suatu fenomena. Sedangkan makna adalah pentingnya fenomena itu.

Untuk saya pribadi, virginitas memang penting dan alangkah baiknya dijaga. Saya, sebagai seorang perempuan, ingin memberikan virginitas saya kepada orang yang benar-benar saya anggap tepat (baca: orang yang saya cintai).

Walaupun virginitas penting, saya juga sadar bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada hal itu. Masih ada loyalitas, kepercayaan, kejujuran, kemurahan hati, dan seterusnya yang posisinya berada di atas virginitas. Mengutip perkataan dari seorang kawan, ”virginitas adanya di nomor 17”. Tentunya teman saya tidak memaksudkannya secara harafiah. Ia ingin mengatakan bahwa virginitas bukan hal yang terpenting.

Andaikan anda mempunyai pasangan yang sangat cocok dengan anda dan sangat menyayangi anda. Ia sangat memahami anda, selalu berada di sisi anda saat suka ataupun duka, rela berkorban untuk anda tetapi ia tidak virgin. Apakah adil bagi ia dan anda jika anda ingin meninggalkannya hanya karena ia tidak virgin?

Menurut saya, orang-orang yang benar-benar mencari pasangan hidup pasti mengharapkan pendampingan dan berbagi suka dan duka. Hal inilah yang menjadi prioritas utama. Apakah virginitas dapat memenuhi harapan saya? Jawabnya tentu tidak. Untuk saya, virginitas hanyalah aksesori tambahan, bukan hal yang esensial. Boleh ada boleh tidak.


KESIMPULAN

Virginitas memang selalu menjadi isu yang menarik untuk dibahas karena mengundang banyak kontroversi, misalnya tentang definisinya. Masih belum ada definisi yang jelas mengenai virginitas. Apakah virginitas adalah keadaan dimana seseorang belum pernah melakukan hubungan seksual secara sadar, secara dipaksa, atau belum pernah melakukan hubungan seksual yang dilandasi oleh rasa cinta?

Juga terjadi perbedaan pendapat mengenai makna virginitas. Ada yang menganggap virginitas bukan hal yang terpenting. Ada juga yang menganggap virginitas hal yang sangat penting dan bahkan menentukan seseorang layak atau tidak.

Oleh karena belum ada batas yang jelas mengenai virginitas, kita diberikan kebebasan untuk menciptakan pemikiran kita sendiri. Anggaplah kebebasan ini sebagai makanan untuk proses kognitif kita. Kebebasan ini tentu akan melahirkan banyak perbedaan. Bukankah perbedaan mengakibatkan dunia kita semakin menarik.

P.S: Saya menulis topik ini untuk tugas akhir mata kuliah Filsafat Umum dan Logika. Tulisan ini saya muat di sini dengan berbagai perubahan untuk tujuan adaptasi.

Book Store: tempting yet horrible


Akhir-akhir ini toko buku menjadi spot favorit saya, terutama QB karena customer diberi kesempatan untuk membaca buku yang diinginkan di sana secara gratis dengan tempat khusus. Baru-baru ini saya membeli tiga buah buku baru padahal saya masih harus menyelesaikan dua buku lagi. Jadi total PR saya ada lima buku. Inilah akibat kurang pengontrolan diri terhadap nafsu belanja. Pusing! Posted by Hello

February 14, 2005


Cinta itu berharga, maka hari kasih sayang jangan melulu diwarnai dengan pink. Valentine is gold... untuk menandai betapa berharganya cinta di dunia ini. Happy Valentine's Day! Posted by Hello

FIRST IMPRESSION


Posted by Hello

Sebenarnya seberapa penting first impression bagi seseorang? Saya pribadi menganggapnya sangat penting. First impression saya terhadap seseorang mempengaruhi penilaian saya terhadap orang itu dalam skala yang cukup besar. Apalagi saya tidak pernah mengubah penilaian saya secara total. Yang ada hanya semacam update terhadap data tentang orang itu dalam otak saya. Dengan kata lain, garis besarnya tetap sama.

Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk memberikan kesan pertama yang baik dalam setiap event terutama yang penting dalam hidup saya. Misalnya, berkaitan dengan status saya sekarang ini sebagai seorang mahasiswa, sangat krusial bagi saya untuk memberikan kesan pertama yang baik terhadap dosen. Caranya, saat kuliah awal, saya rajin kuliah, duduk di barisan terdepan, dan 'memasang topeng' seorang mahasiswa yang baik. Mahasiswa yang selalu memperhatikan penjelasan dosen, berusaha menjawab pertanyaan ataupun mengajukan pertanyaan. Indikator keberhasilan usaha saya adalah ketika dosen menjelaskan sesuatu hal dan bertanya, matanya mengarah kepada saya dalam frekuensi yang tinggi. Jika dosen itu sudah melakukannya, berarti saya telah berhasil memberikan image yang kuat dalam arti positif.

Setelah itu, saya terkadang akan memanjakan diri saya dengan berbuat sedikit kenakalan, misalnya bolos. Penilaian dosen itu tidak akan berubah, terlebih lagi kalau ditunjang dengan kemampuan akademis yang baik. Kemampuan akademis tidak diukur hanya dengan skor pada saat kuis ataupun ujian tetapi juga seberapa kritis kita terhadap sesuatu hal yang disodorkan di kelas dan kedalaman logika kita dalam menjawab suatu pertanyaan. Dengan demikian dosen akan memaklumi kenakalan saya sebagai sesuatu yang wajar. "Saya juga pernah jadi mahasiswa," mungkin begitu pikirnya.

Selama kuliah dua minggu ini (satu minggu efektif), saya merasa saya sudah berada dalam tahap awal dalam 'menarik perhatian' dosen saya. Bahkan ada yang menganggap saya seseorang yang tepat untuk menjadi seorang psikolog karena di matanya, saya adalah orang yang sabar. Padahal saya orang yang selalu terburu-buru dan itu berarti saya sangat tidak sabar. Mungkin ketika saya menunjukkan kepanikan, dosen itu akan menganggapnya sebagai pribadi abnormal yang muncul karena terpicu oleh situasi sekitar.

Namun ketika kita sudah berhasil menciptakan kesan pertama yang mengagumkan, kita harus tetap menjaganya agar tetap demikian, kalau bisa ditingkatkan. Sedikit melepas pribadi 'negatif' kita boleh, tetapi ada baiknya tidak terlalu sering. Jika kita terlalu sering melakukannya, penilaian orang lain terhadap kita bisa berubah menjadi buruk. Celakanya, bisa sama buruk dengan orang yang first impression-nya jelek karena image kita sudah terlanjur melekat dengan kuat di hati orang lain.

Akhir kata, kita bisa saja cuek dengan penilaian orang lain tetapi harus disadari pula bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, social acceptance merupakan kebutuhan manusia. Menciptakan kesan yang baik bukan berarti kita harus berpura-pura menjadi orang lain. Aliran humanistik mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik dan saya percaya terhadap pernyataan itu sepenuhnya. Maka keluarkan sisi baik kita yang terbaik. Niscaya hal itu akan memberikan efek yang positif bagi diri kita sendiri dan lingkungan.

ALONE

Pernahkan anda kesepian padahal di sekitar anda, ada banyak orang dan suasananya ramai? Anda merasa hidup di dunia yang berbeda. Raga anda memang ada di sana tetapi hati dan pikiran anda berada di tempat yang lain. Akhir-akhir ini saya mengalaminya. Entah apa yang membuat saya demikian. Saya kesepian.

Keadaan ini membuat saya malas berbicara dengan orang lain karena percuma saja, ia tidak akan bisa menghilangkan perasaan saya. Saya membuang energi dengan sia-sia tanpa mendapatkan hasil yang memuaskan. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya mempunyai kecenderungan untuk bersikap tidak ramah terhadap orang lain dan hal ini mungkin akan membuat mereka tersinggung. Namun kali ini, saya ingin egois dengan memutuskan untuk berdiam diri sementara waktu dan urusan meminta maaf serta memperbaiki hubungan dilakukan di lain kesempatan ketika saya sudah kembali ke kondisi "normal".

Kemudian saya berpikir, mungkinkah ini hanya salah satu fase dalam hidup saya sebagai makhluk individu (pribadi)? Mungkin saja saya hanya butuh istirahat dari aktivitas sehari-hari. Mungkin saya butuh kesendirian. Kalau biasanya saya melakukan banyak hal bersana teman, inilah saatnya saya menjalankannya sendiri. Nonton film sendiri, makan sendiri, dan sebagainya. Saya ingin sendiri.

Ketenangan akan membuat jiwa saya merasakan kedamaian dan ketika itu, saya akan banyak berpikir dan merenungkan banyak hal. Dengan kata lain, saya merefleksikan perjalanan hidup saya selama ini. Harapan saya, saya bisa menjalani hidup saya dengan lebih baik. Lebih baik di sini berarti lebih baik untuk saya dan lebih baik untuk lingkungan sejauh tidak terlalu merugikan diri sendiri. Bukannya saya egois karena saya memang hanya bisa menjanjikan hal itu pada diri saya. Tidak mungkin saya menuruti keinginan orang lain sebab saya punya jati diri sebagai manusia yang unik. Lagipula berangkat dari kenyataan bahwa manusia berbeda-beda, idealisme mereka tentang sesuatu hal pun berlainan.

Akhir kata, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa manusia selain makhluk sosial, juga adalah makhluk individu. Ia membutuhkan situasi yang bersifat pribadi, salah satunya kesendirian. Bukan berarti ia memutuskan hubungan dengan lingkungan sosialnya, melainkan ia mundur sejenak agar dirinya lebih baik untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.


... Posted by Hello


I am tired... Posted by Hello


Sleeping child... Posted by Hello

My Valentine (part 2)


Hm... Interesting :) Posted by Hello

GHoST oF THe PaSt

Seiring waktu berjalan, kita hidup. Saat hidup, kita mengalami banyak peristiwa dengan berbagai dimensi waktu, antara lain masa lalu, sekarang, dan masa depan. Walaupun kita hidup sekarang, tak pelak masa lalu masih sering membayangi kita dan gambaran masa depan seringkali muncul dalam benak kita. Masa lalu dan masa depan (prediksi) menjadikan diri kita sebagai pribadi yang utuh.

Masa lalu melatarbelakangi pola pikir, keinginan, dan kepribadian kita. Tak jarang saya mendengar orang yang mengatakan bahwa dirinya harus melupakan masa lalunya. Suatu hal yang mustahil, saya pikir. Takkan pernah orang bisa menghapus masa lalunya karena masa lalu adalah bagian dari kepribadiannya. Jika masa lalu benar-benar bisa dihapus, akan terjadi distorsi dalam diri seseorang karena kehilangan salah satu komponen dirinya.

Terkadang ada hal menyakitkan yang terjadi pada masa lalu dan mengakibatkan semacam ketraumaan dalam diri. Ketika menghadapi situasi yang hampir sama, kita mungkin ketakutan dan bahkan secara ekstrim kita bisa lari atau sebisa mungkin menghindarinya karena teringat pada rasa sakit yang dahulu. Saya rasa hal inilah penyebab seseorang menutup dirinya dengan begitu keras.

Orang yang pendiam bukan berarti orang itu tertutup. Si A yang kita kenal selalu ceria dan terlihat supel bisa saja seorang yang introvert. Ketika kita merasa sudah klop mengobrol dengan dia dan ingin mengenalnya lebih jauh, tentunya kita akan melontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi. Dalam menghadapinya, orang introvert memiliki tiga kemungkinan. Pertama, menolak untuk menjawab, termasuk berkelit dengan mengalihkan pembicaraan. Kedua, mengarang cerita palsu. Ketiga, menceritakan 'kulit luarnya' saja dan kemudian mengalihkan pembicaraan seputar dirinya itu.

Menutup diri adalah sebuah pilihan bebas. Orang berhak untuk melakukannya. Namun, setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Dengan menutup diri, segala beban diri harus kita tanggung sendiri dan pasti rasanya akan lebih berat dibandingkan jika kita membaginya dengan orang lain. Orang lain yang saya maksud bukan semua orang melainkan orang yang paling kita percaya, yaitu orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.

Belum bisa percaya dengan orang lain? Mungkin kita harus mencoba untuk lebih terbuka, dalam konteks mau mengenal orang lain, bukan menceritakan rahasia kepada semua orang. Ketika berada dalam proses mengenal itu, pastilah ada satu atau dua orang yang sreg. Saat sudah menemukannya, janganlah berkeras pada diri sendiri bahwa mereka tak mungkin bisa mengerti diri kita. Mereka bisa asalkan kita membiarkan mereka mengenal diri kita, setidaknya dari keseharian kita. Dengan kata lain, semuanya tergantung diri kita sendiri.

My Valentine (part 1)


Absolutely! Posted by Hello

Yow...

SANTA FALSE

Seringai sang awan hiasi bunga tidur
Buaikan angan dalam nyata tak berujung
Hinggapi asa dengan senyum paling palsu
Tawarkan rasa getir dengan manis madu manipulasi surgawi
Jerat hasrat diri dalam sebuah kantung pertahanan diri

Kini saatnya bangun benteng
dan susun amunisi
agar tak seorangpun dapat rampas
dan robek yang paling berharga dari diri ini
Remuk redam semua konstruksi kebutuhan dunia
Hingga dengan kepala tegak kukatakan

AKU TETAP ADA!

January 22, 2005


TOXIC BY YOUR HEAD

Hausnya dunia pada darah ditebus sudah
namun tak kunjung habis

Langit murka dan sedih, beku asa
hingga ia menangis turunkan es

Hujam dunia pada ulu hati
Tak ada apapun jua dalamnya
Kering menghitam

Jika ada saat es mengoyak
keluarlah belatung-belatung di sana
bersama bau busuk

January 5, 2005


A STORY OF A WOMAN'S LIFE

Lukisan mata perempuan penjaja kendi paku hadirku. Terhenyak dalam hening. Sosok sepasang bola mata kelam, simpan misteri besar hidup manusia. Angin bawaku ke tempat itu kala hujan turun basahi permukaan bumi dan rambutku luntur hitamnya. Perempuan itu hampiriku, pegang kedua bahuku dengan mata lembutnya. Mataku beradu dengannya. Kucoba gali isi hatinya. Begitu banyak kepedihan di dalamnya, pula kekuatan, ketabahan yang buat dunia tunduk di hadapnya. Air mata meleleh jatuh ke pipiku. Dengan tangannya, ia seka dengan kasih tulus. Kami berdua tersenyum lalu terdiam, larut dalam pikiran dan rasa.

January 1, 2005

SnaPSHoTs: TeaTeR UNgU


Saat persiapan sebelum pembacaan puisi untuk peringatan tragedi Semanggi tanggal 13 November 2004. Posted by Hello

HaRi InI: KaMis, 20 JaNuaRi 2005

Begitu mengagumkan ciptaan Tuhan, manusia. Manusia begitu kompleks sehingga banyak manusia yang tak sanggup memahami dirinya sendiri. Namun pemahaman terhadap diri sendiri sangatlah penting sebagai landasan hidup manusia. Siapa dirinya menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya.

Kemudian lahirlah ilmu psikologi yang berusaha menjelaskan tentang tingkah laku manusia dengan berbagai pendekatan atau aliran. Oleh karena manusia masih merupakan misteri dengan segala kerumitannya, tidak ada teori yang dapat menjelaskan siapa manusia (melalui tingkah laku) secara menyeluruh. Banyak pula teori yang tidak ilmiah. Dengan kata lain, tidak dapat diuji kebenarannya secara penuh karena pada saat pengujian pasti ada kecacatan. Walaupun demikian, teori ini masih bisa diaplikasikan sesuai dengan kondisinya. Betapa rumit ciptaan Tuhan yang satu ini.

Hari ini saya menghadapi misteri diri saya sendiri. Ketika saya sedang duduk-duduk di kantin kampus sambil menunggu kedatangan seorang teman, saya iseng mengetik kata-kata di fitur SMS telepon selular saya. Herannya saya sama sekali tidak mengerti maksud kata-kata yang cukup aneh itu.


”Kudengar sitar dipetik
kupasung jantungku

Saat melodi berganti di tengah denting sunyi
kusobek selaput jantungku
hingga darah mengucur dari bibir jantungku

Ketika gendang ditabuh
kudekap jantungku
hingga terhenti denyutnya”

Jakarta, 20 Desember 2004


Saya kemudian berpikir dan teringat pada Freud, seorang selebritis psikologis mazhab psikoanalisis. Apakah mungkin tulisan saya ini didorong oleh unconsciousness saya? Apakah hal ini merupakan manifestasi dari keinginan saya yang belum atau tidak tercapai lalu bersublimasi dalam bentuk rentetan kata-kata?

Dalam rangka menjawab pertanyaan tentang makna kata-kata itu, saya berkonsultasi dengan dua orang teman. Secara tidak mengejutkan, mereka memberikan jawaban yang berbeda. Tidak ada jawaban yang pasti tentang manusia.


STUDI: PSIKOLOGI ATMAJAYA

Selama kurang lebih empat (mudah-mudahan) sampai lima tahun, saya harus berhadapan dengan kerumitan manusia dan belajar untuk memahaminya walaupun hal itu sangatlah sulit. Awalnya saya mengira dengan masuk jurusan psikologi, saya akan lebih memahami manusia (termasuk diri saya sendiri) terutama dalam konteks tingkah laku. Namun dugaan saya salah karena saya melupakan fakta bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks sehingga tidak ada jawaban pasti. Aliran-aliran yang adapun bermacam-macam dengan penjelasan yang kontradiktif dengan tokoh atau aliran lain. Saya tidak langsung mau menyerah. Semakin bingung, semakin saya tertantang.

Di universitas tempat saya menuntut ilmu, Atmajaya, mahasiswa diminta untuk memilih peminatan dari empat bidang psikologi ketika sudah belajar selama lima semester. Keempat bidang itu, antara lain, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi industri dan organisasi, serta psikologi klinis. Tampaknya saya harus sangat memperhatikan mata kuliah-mata kuliah yang saya ambil agar saya mengetahui minat dan keahlian saya. Peminatan ini akan diteruskan menjadi benar-benar jurusan ketika mengambil program magister.

Sebentar lagi saya akan segera menghadapi semester kedua dengan mata kuliah yang lebih banyak daripada semester pertama. Kalau saat semester pertama, saya hanya menanggung sembilan belas SKS, sekarang saya harus berhadapan dengan mata kuliah sejumlah dua puluh tiga SKS. Tampaknya saya harus lebih berlatih dan berusaha lagi melakukan pembagian waktu secara efektif dan efisien untuk performa saya, baik dalam bidang akademis maupun non akademis.

Urgensi ini selain didorong oleh beban SKS yang kian bertambah juga oleh kegiatan Teater Ungu yang semakin padat di tahun 2005 ini. Masih ada empat job yang harus diselesaikan dan parahnya, waktunya berdekatan. Menyadari keterbatasan diri saya, saya terpaksa melepas posisi saya dalam suatu organisasi. Organisasi ini dengan berat hati saya tinggalkan karena peran saya di dalamnya tidaklah krusial dan masih bisa dipegang orang lain. Kesimpulannya, dalam bidang non akademis, saya memilih untuk fokus dalam Teater Ungu.


TEATER DAN SAYA

A. TEATER PUTRI SANTA URSULA

Ada alasan lain yang turut mewarnai keputusan tersebut, yaitu kecintaan saya terhadap teater. Saya mulai mengenal teater sejak tahun pertama saya duduk di SMU. Teater yang saya ikuti bernama Teater Putri Santa Ursula (TPSU). Anggota TPSU terpilih melalui seleksi yang ketat dan keras (sehingga menyebalkan untuk saya). Saya tidak menyangka bahwa nama saya tercantum dalam pengumuman anggota baru TPSU karena saya tidak melakukan usaha yang memukau ketika seleksi. Belakangan saya tahu ada seorang alumni yang memperjuangkan saya karena melihat kegigihan saya dan berharap hal itu menjadi modal untuk lebih mengembangkan TPSU. TPSU, katanya, lebih membutuhkan dedikasi daripada bakat. Ucapannya tenyata terbukti tepat di kemudian hari setelah saya berproses sekian lama bersama teater putri ini.

Selama saya bergabung dalam teater ini, saya merasakan kekeluargaan yang begitu erat, yang belum pernah saya rasakan di tempat yang seharusnya didasarkan pada hal itu (baca: keluarga). Kekeluargaan ini kian erat ketika sedang menjalani proses latihan untuk sebuah pementasan. Berbagai macam persoalan datang menghampiri dan semuanya membuat kami semakin erat karena kami sadar dengan bersatu, segala persoalan akan terasa lebih mudah untuk diselesaikan. Itulah sebabnya setelah pementasan berlangsung, saya tidak merasa senang sepenuhnya. Ada kesedihan di hati saya karena proses itu sudah berakhir. Memang kami masih akan berkumpul lagi tetapi dalam situasi yang berbeda dengan saat persiapan pementasan. Mengutip perkataan seorang teman yang terjun dalam dunia teater profesional, ”Dalam teater, proses adalah intinya sedangkan pentas hanyalah pestanya.” Saya setuju sepenuhnya dengan pernyataan tersebut.

B. TEATER UNGU
Saya tidak ingin kehilangan pengalaman berteater sehingga selepas dari SMU Santa Ursula dan bergabung dengan keluarga besar Unika Atmajaya, saya berusaha mencari informasi mengenai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) teater. Saya bingung karena dalam masa orientasi, UKM teater sama sekali tidak diperkenalkan padahal setahu saya ada sebuah grup teater bernama Teater Ungu di Atmajaya. Secara kebetulan, saya membaca poster kecil Teater Ungu yang mengajak mahasiswa untuk turut bergabung dalam latihannya. Merasa tertarik, saya mengikutinya sampai sekarang walaupun belum resmi menjadi anggotanya. Bersama dengan tiga orang rekan lagi, saya menunggu pelantikan anggota Teater Ungu angkatan V.

Belakangan saya mengetahui bahwa Teater Ungu belum berstatus UKM atau bisa juga disebut UKM ilegal. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Teater Ungu telah melakukan banyak pementasan sendiri ataupun dalam acara kampus dengan membawa bendera Atmajaya. Setahu saya, Teater Ungu termasuk dalam jajaran teater yang cukup terkenal. Mengapa sampai sekarang belum diberikan status UKM oleh universitas?

Isu ini kerap dibicarakan dan selalu diusahakan jalan keluarnya, yaitu dengan mengirim proposal kepada pihak ‘atas’ namun selalu membuahkan kekecewaan, sebuah penolakan. Selalu menjadi harapan tiap angkatan, bahwa angkatan mereka sanggup untuk meluluhkan kekerasakepalaan pihak universitas dan menjadi asa angkatan V mendatang pula. Semoga penantian Teater Ungu berakhir dengan sebuah keberhasilan, senyum kebahagiaan seiring dengan masuknya angkatan V dalam keluarga Teater Ungu. Amien!

PRoSeS => HaSiL?

Mengakhiri semester pertama dan mengawali semester baru, fakultas memberikan laporan nilai mahasiswa yang kerap disebut KHS (Kartu Hasil Mahasiswa) pada hari Sabtu, 15 Januari 2005. Sayangnya saya tidak dapat hadir untuk mengambil hasil karena saat itu saya sedang berada dalam perjalanan menuju Bandung, kota yang sangat saya rindukan sebab di sana ada factory outlet yang menawarkan berbagai produk fashion dengan harga miring dan distro-distro yang keluarannya menjadi trend masa kini di kalangan kawula muda. Untunglah sahabat saya, Dessy bersedia mengambilkan KHS saya.

Sebenarnya tak perlu saya menunggu hari pembagian KHS untuk mengetahui nilai-nilai yang telah saya capai. Universitas memfasilitasi mahasiswa dengan program komputer yang memuat data-data pribadi mereka termasuk nilai-nilai mereka. Tak sabar untuk mengetahuinya, saya mencari tahu nilai saya di komputer universitas. Pertama kali saya mencobanya, ternyata nilai belum masuk. Kemudian setelah saya menerima kabar dari dosen saya bahwa nilai sudah dimasukkan, barulah saya kembali memeriksa di komputer itu. Memang benar hampir semua nilai sudah keluar dan hanya satu yang belum, yaitu mata kuliah Metodologi Penelitan I. Syukur alhamdullilah, nilai saya lumayan dan IP saya tidak mengecewakan untuk seorang pemalas.

Setelah mengetahui hasil studi saya selama satu semester, saya tidak langsung puas begitu saja meski nilai saya tidak bisa dikatakan buruk. Hal itu disebabkan selama proses kuliah berlangsung, saya tidak menjalaninya secara maksimal. Saya kerap tidak mendengarkan penjelasan dosen di kelas dan terkadang saya membolos. Selain itu, di fakultas psikologi yang konon mengandalkan kerajinan membaca dan kemampuan berlogika, saya termasuk mahasiswa yang kurang memenuhi syarat tersebut. Jujur, saya hanya belajar dengan frekuensi tiga bulan sekali. Dengan kata lain, hanya pada saat UTS dan UAS.

Tentu saya menyadari bahwa sesal tiada berguna. Oleh karena itu, mengawali semester dua ini, saya bertekad untuk lebih giat lagi agar nantinya saya akan merasa puas. Nilai bukanlah semata-mata demi kebanggaan orangtua melainkan untuk diri saya sendiri, sebagai bukti bahwa saya adalah orang yang berkompeten. Dengan menekankan hal itu pada diri saya sendiri, saya tidak akan merasa terbebani dalam menjalaninya. Akhir kata, saya percaya jika kita menjalani proses secara maksimal, tentu hasil yang akan dituai maksimal pula. Di semester depan, saya harus bisa lebih baik lagi. Amin.

THe PoWeR oF CoMMuNicaTioN

Di era modern sekarang ini, alat komunikasi makin berkembang pesat, atau bahasa gaulnya, semakin canggih. Kalau dulu komunikasi hanya bisa terjalin dengan bertemu langsung dan berkirim surat, telegram, dan sejenisnya, sekarang sudah ada telepon. Bahkan ada telepon genggam yang praktis dan multifungsi (telepon, SMS, MMS, GPRS). Kemudian ditambah lagi dengan penemuan internet yang memungkinkan komunikasi mancanegara dengan biaya relatif lebih murah daripada telepon biasa. Dan akhir-akhir ini, dengan perkembangan alat komunikasi yang cepat ini, makin marak LD (long distance) relationship di kalangan kawula muda.

Sebenarnya mengapa manusia menaruh perhatian yang besar pada kemajuan telekomunikasi? Menurut saya, tak lain kembali pada kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Pada hakikatnya, manusia tak bisa hidup tanpa orang lain. Secara ekstrim, manusia bukanlah manusia tanpa manusia lain. Orang lainlah yang memanusiakan diri kita. Orang yang menyebut kita manusia dan mengajarkan kita kriteria manusia, ciri-ciri manusia. Kegiatan mentransfer hal inilah yang dinamakan komunikasi.

Selain makhluk sosial, manusia juga makhluk pribadi yang memiliki keunikan tersendiri. Dalam berinteraksi dalam masyarakat, manusia juga membawa keunikannya ini, misalnya dalam kebutuhan. Untuk mencapai suatu konsensus agar tercapai kepentingan bersama, misalnya kedamaian, maka manusia perlu mengadakan musyawarah, yang tak lain adalah suatu bentuk dari komunikasi.

Komunikasi menjembatani perbedaan antar manusia sehingga terciptalah pengertian di antara mereka dan makin lengkaplah pemenuhan kebutuhan sosial mereka. Manusia ingin dimengerti oleh manusia yang lain. Dengan demikian, mereka merasa tidak hidup sendiri. Oleh karena itu, manusia selalu mencari sahabat, yang tidak hanya bisa diajak bicara tetapi juga mengerti tanpa selalu harus bicara (suatu bentuk komunikasi yang lebih mendalam). Tidak semua orang bisa dijadikan sahabat karena tidak semua orang mengerti keunikan seseorang. Memang sulit menemukan sahabat sejiwa dan beruntunglah mereka yang telah memilikinya.

Dalam diri manusia juga terkadang ada kebutuhan untuk menjalin hubungan yang mendalam tetapi sedikit berbeda dengan persahabatan, yaitu hubungan yang didasarkan pada cinta dua insan, bisa antara laki-laki dan perempuan, perempuan dan perempuan, ataupun laki-laki dan laki-laki. Cinta jenis inilah yang sering diumbar-umbar pada Valentine's Day dengan hati bewarna pink dan mawar merah. Ada teori yang mengatakan bahwa seseorang jatuh cinta dengan orang lain karena kemiripannya (efek sisi narsistik yang ada pada setiap pribadi), baik dalam fisik maupun psikologis. Mirip bukan berarti sama, maka wajar jika terdapat perbedaan di antara mereka. Yang paling berperan adalah perbedaan cara pandang. Seringkali timbul masalah karenanya. Untuk menyelesaikan masalah itu, kuncinya komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan masalah terselesaikan dengan baik pula karena masing-masing pihak paham maksud dan keinginan pasangannya.

Akhir kata, don't underestimate the power of communication. It can bring magic to your life and trust me, you always need it. Adios!