family affair.

Didorong oleh rasa jenuh masa liburan (padahal baru 3 hari), saya mengirim sms basa-basi, seperti apa kabar? apa rencana untuk natal, kepada tiga orang. Dibalas dua orang. Salah satunya mantan pacar saya, yang sekarang sudah berstatus teman (rasanya hubungan kami baik-baik saja). Sesuai dugaan, dia paling pasti dan paling cepat membalas. Pada kalimat pertama, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Natal rencananya akan pergi ke gereja, makan bersama keluarga, dan sedik(h) karena keluarga. Saya bingung. Pertama karena saya tidak mengenal kosakata sedik, namun akhirnya saya terjemahkan menjadi sedih (tombol h dan k bersebelahan di hp). Kedua, awalnya dia bilang dia baik-baik saja. Ketiga, jarang orang berencana untuk sedih di hari yang bahagia (apalagi dia orang yang sangat rajin ke Gereja, berdoa, membaca Alkitab, Renungan Harian, dan kegiatan religius lainnya yang notabene sangat bertolak belakang dengan saya yang klenik). Daripada berhipotesis ria, lebih baik saya bertanya langsung pada sumbernya. Rupanya ada masalah keluarga, pertengkaran rumah tangga. Sejak saya kenal dia, memang masalah keluarga cukup membuatnya labil. Dan saya tidak berani bertanya lebih lanjut, cuma menghibur dengan kata-kata religius yang saya copy dari tante saya.

Teman saya, punya orangtua yang sangat menuntut. Diskriminatif terhadapnya, katanya, suka mencari-cari kesalahan. Menurutnya, masalah keluarga, hubungan dengan orangtua, terlalu kompleks dan tak mungkin terselesaikan. Akhirnya ia menghindarinya dengan sering beraktivitas di luar rumah dan apabila di rumah, jarang berkomunikasi, dalam arti, berbicara dari hati ke hati. Saya juga melakukannya. Awal-awal saya kuliah, saya sering pulang sore atau malam. Alasan saya, saya ikut banyak kegiatan dan organisasi (memang benar). Kalau ditanya-tanya hal yang sensitif, saya pilih bohong daripada bermasalah.

Masalah keluarga dari dulu dari jaman dahulu memang pelik. Banyak kasus yang disebabkan oleh keluarga. Misalnya seseorang melacurkan diri karena mengalami pelecehan seksual oleh salah seorang anggota keluarganya, minum-minum atau menggunakan narkoba karena ayah dan ibu bertengkar terus sampai bercerai (dan masalah keluarga lainnya), kepribadian ganda (dan kasus psikopatologis lainnya), bunuh diri, dan sebagainya. Intinya keluarga sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Ketika janin terbentuk, ia sudah berurusan dengan keluarga, dengan ibunya. Ketika lahir ('normal'nya), ia harus berhadapan lagi dengan anggota keluarga baru, ayah. Kalau ada, kakak. Untuk bisa hidup, anak tersebut harus berhubungan dengan anggota keluarganya. Anggota keluarga yang beragam kepribadiannya dan punya ekspektasi yang berbeda-beda pula untuk masung-masing anggota keluarga. Dalam mengkomunikasikan harapannya, mereka punya cara yang berbeda-beda. Beruntung kalau mereka demokratis. Kalau otoriter? Bagus kalau pembicaraan dilakukan secara dewasa. Kalau pertengkaran jadi bahasa lumrah? Paling baik diselesaikan secara intern. Namun bagaimana apabila penyelesaian tak kunjung ditemu? Mau minta bantuan orang lain, meskipun masih terhitung keluarga (kakek nenek, paman bibi, dan sebagainya), susah. Bisa tambah panjang. Ada urusan gengsi nama baik keluarga di sini. Makanya saya juga tidak berani ikut campur urusan keluarga orang lain.

Penyelesaian yang baik, ada macam-macam, relatif. Bisa komunikasi terbuka, berhadapan langsung dengan masalah (kalau mungkin). Bisa juga lari, pura-pura tidak tahu, menghindari kontak dengan potensi masalah (misalnya, biasanya ketemu ibu langsung berantem, kurangi frekuensi ketemu). Tergantung apa masalahnya, dan situasi-situasi yang melingkupi, baik yang kondusif maupun yang menghambat masalah selesai. Jawaban saya memang jatuh-jatuhnya ke relativisme. Sudah saya bilang sebelumnya, masalah keluarga itu rumit dan saya sendiri punya masalah keluarga yang tak terselesaikan sebelumnya. Namun menurut saya, ada satu hal penting yang harus dimiliki sebelum melangkah ke penyelesaian selanjutnya, seperti yang saya juga bilang ke mantan pacar saya, sabar dan tabah.

the 'gembel' law

Saya punya teman, namanya Yaya, lengkapnya Wirya Satya Adenatya. Tapi saya lebih sering panggil dia 'gembel', 'gembrot' (padahal ia tidak gendut, bahkan saya sedikit kagum karena dia terbilang atletis dan memang dia atlet), 'ucup', dan sederetan sebutan yang kurang rasa perikemanusiaannya. Asosiasi tercepat kalau mengingat Yaya: jazz, Twilite Youth Orchestra, kafe, gembel-look, omongan serba tidak penting, DATAR. Ekspresi yang paling dapat dikenali dari Yaya, hanya tertawanya yang membahana tanpa tedeng aling-aling. Sisanya (marah, sedih, takut, dan sebagainya), singkat saja, tidak ada.

Dia pernah pusing sendiri mengerjakan tugas analisis kepribadian padahal itu tugas kelompok. Dalam kelompok itu, yang benar-benar bekerja hanya dua orang (dia dan seorang temannya). Yang lainnya, cuma numpang nama. Saya tanya padanya, mengapa ia tidak marah dan protes pada mereka? Dia bilang, dia tidak bisa marah. Saya marah pada teman-temannya tapi saya lebih marah padanya. Kalau tidak protes, secara tidak langsung, dia menyediakan dirinya sebagai budak tertindas. Buat saya yang gengsinya tinggi, hal seperti itu benar-benar 'aib'. Saya tanya lagi, kenapa? Ternyata dalam proses remajanya yang berat (masalah keluarga), ia mempelajari sesuatu yang ia pegang sampai sekarang, bahwa segala sesuatu pasti ada penyebabnya atau ada sebab, ada akibat. Katanya, misalnya, kalau pacarnya berselingkuh, dia tidak serta merta langsung marah, dendam, atau bicara buruk tentang pacarnya. Dia berpikir, pasti ada sebab mengapa pacarnya berselingkuh. Dan sebab itu pasti, walaupun sedikit, berkaitan dengannya. Karena ada alasan, ia bisa menerima. Namun saya tanya padanya, bagaimana kalau dia tidak diberikan alasan yang jelas oleh seseorang. Dia bilang, selama ini, dia selalu menemukannya. Seperti pada tugas kepribadian ini, dia tidak mendapat alasan yang jelas dari orang numpang itu. Dia menciptakan suatu 'analogi' sebab akibat lainnya. Karena Yaya terlatih mengerjakan (sebab), Yaya akan lebih unggul dalam tugas akhir (individual) daripada mereka (akibat). Oleh karena itu, ia tidak marah.

Menurut Daniel Goleman, salah satu aspek kecerdasan emosional (emotional intelligence) adalah self-control. Dalam self-control, terdapat kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosi ini. Yaya, seorang makhluk yang memiliki self-control terbaik yang saya kenal. Dia jarang depresi dan cepat bangkit dari keterpurukan, dengan 'think big'. Untuk saya yang tingkat kecemasannya cukup tinggi, prinsip gembel ini bisa jadi salah satu referensi terapi.

beauty over comfy.

kaki, bagian tubuh yang kerap terlupakan. untuk alasan tertentu, saya sangat peduli pada kaki saya. seperti halnya akhir-akhir ini, saya super hati-hati dan khawatir terhadap kaki saya, terutama telapaknya. namun untuk alasan tertentu pula, saya bisa tidak peduli dengan kaki saya. saya berusaha tidak manja dan saya terapkan pula pada kaki saya. sepatu bikin lecet? ayo kaki, terbiasalah. hidup tidak selalu yang senang-senang saja, banyak pahitnya juga. sebetulnya ada pertimbangan juga untuk berlecet-lecet ria. kalau sepatu itu bagus dan saya benar-benar suka, saya bisa tidak peduli pada kaki saya. kalau sepatu itu agak bagus menurut saya, saya akan mempertimbangkan kenyamanan juga. apalagi kalau jelek, tidak usah dipikir dua kali. jadi, sebenarnya saya lebih peduli pada sepatunya, fashion-nya.

begitu pula saya pikir ketika menonton cuplikan Dr. 90210, reality show tentang plastic surgery. yang penting mirip barbie, urusan sakit-sakitan (efek samping) bisa dipikir nanti-nanti (toh ilmu kedokteran sudah sangat maju). saya tak pernah nonton acaranya karena ngeri pada mutilasi-mutilasi. iklannya saja sudah membuat saya ingin mengganti saluran TV. di iklan, bagian yang hendak dipermak, digambar-gambari, selanjutnya ada proses dengan pisau-pisau, mutilasi. sekarang iklan itu sedang mengusung tema breast plastic surgery . tiga orang remaja perempuan berjejer, buka baju, mempertontonkan dada-dada mereka ke depan dokternya (laki-laki), tentunya di TV diburam-buramkan. selanjutnya, saya tidak tahu karena, seperti yang sudah saya katakan, saya ngeri. kemudian saya nonton acara The Soup (acara yang menayangkan scene-scene dari acara apapun yang dianggap 'konyol'), dokternya senang jadi ahli bedah plastik karena bisa nonton dan pegang-pegang perempuan juga.

mengerti?

hari ini saya ditelepon teman sekelompok saya untuk tugas akhir mata kuliah Kode Etik. dia sudah melakukan wawancara dengan dokter kandungan, salah satu profesi yang dituntut untuk digali kode etiknya dalam tugas ini. sementara bagian saya adalah bankir. dia panik karena menurutnya, wawancara tidak berjalan dengan lancar. dokter kandungan itu menanyakan kepada teman saya tentang apa itu kode etik. teman saya berusaha untuk menjelaskannya tetapi dokter kandungan tersebut tetap merasa tidak puas dengan penjelasan teman saya. sebenarnya teman saya bingung tentang apa kode etik itu, begitu pula saya, dan keyakinan saya juga untuk kebanyakan peserta mata kuliah itu. sampai saat ini, kami belum mendapat kepastian yang jelas tentang kode etik. dan tampaknya demikian juga dosen saya. saya mengambil kesimpulan demikian karena ia sendiri tampak sangat bingung dan kerepotan, tanda-tandanya "pokoknya..." sering digunakan sewaktu menjelaskan. atau saya salah? jangan-jangan dia benar-benar mengerti tetapi sulit menyampaikannya? kalau memang begitu, saya juga sering mengalaminya, bukan dengan kode etik, tapi dengan hal-hal lain. misalnya, saya bilang, saya sakit. teman ada yang bertanya, sakit apa? sakitnya seperti apa? kalau sakitnya jelas sekali, seperti sakit kepala, saya tahu. tapi kalau tidak enak badan? saya cuma bisa mendeskripsikan "pokoknya seluruh badan pegal". namun saya tahu penjelasan saya belum mencakup semua symptom yang saya rasakan. teman saya tampak mengerti dan ketika saya berada di posisi teman saya saat itu, saya merasa mengerti juga. mungkin karena saya pernah mengalaminya dan teman saya juga. lalu mengapa dosen saya kesulitan menjelaskan kode etik? kemungkinan besar karena (minimal) saya dan teman saya belum lama belajar psikologi dan bahkan belum terlalu akrab dengan prakteknya, sehingga kode etik menjadi hal yang mengawang-ngawang tanpa kejelasan bagi kami.

the death of democracy

minggu ini adalah minggu yang sebenarnya cukup penting dalam dunia kemahasiswaan fakultas psikologi atma jaya. kampanye calon ketua himapsi, diikuti debat calon ketua, dan akhirnya ditutup dengan pemilihan. sekarang hari minggu dan pemilihan hari senin. selain ketua himapsi, besok juga dipungut suara untuk menentukan wakil angkatan. melihat antusiasme mahasiswa yang rata-rata rendah pada saat debat calon ketua himapsi, saya jadi ragu terhadap organisasi kemahasiswaan di fakultas ini. orang yang datang, itu-itu saja. jangan-jangan kebanyakan orang memilih karena sentimen pribadi sehingga sifat pilihan yang subyektif itu menjadi sangat-sangat super subyektif. untuk tujuan konsistensi, kinerja dan evaluasi pun akan bersifat subyektif pula. ada sedikit keobyektifan, tetapi unsur emosi lebih berperan dominan. saya jadi sedikit berpikir, jangan-jangan mahasiswa fakultas psikologi sudah anti demokrasi. atau karena tidak peduli (dengan alasan sudah pusing dengan tugas kuliah atau lebih jauh lagi sebenarnya takut dengan konsekuensi memilih), demokrasi mati.

Maslow Inventory Test Results

Physiological Needs
|||||| 27%
Safety Needs
|||||||||||| 44%
Love Needs
|||||||||||| 50%
Esteem Needs
|||||||||||||| 57%
Self-Actualization
|||||||||||| 48%

Abraham Maslow authored the Hierarchy of Needs theory, stating that human beings are motivated by unsatisfied needs, and that certain lower needs have to be satisfied before higher needs can be attended to. It is debatable that needs fulfillment occurs in as linear a fashion as Maslow presents (or that Maslows needs structure is entirely accurate), but you can decide that for yourself. Also, higher needs tend to be more complex and vague in what qualifies as need satisfaction. The following results are listed in the order Maslow defined.

Physiological Needs : you appear to have everything you need to survive physically. Maslow speculates that without satisfying basic needs (food, shelter, health) one cannot achieve higher levels of development. This generally makes sense, but the history of starving artists and successful artists who tanked after they became wealthy is important to note.

Safety Needs: you appear to have adequate enviromental safety. Maslow speculates that without enviromental stability (security, safety, consistency), you can't progress to higher levels of development. Neuroscience research would appear to support this, as higher stress contributes to higher cortisol levels, which impair memory and thinking functions. However, low stress can also lead to obesity and cardiac degeneration. The lazier and weaker you become, the more stressful the most minimal tasks and stimuli become.

Love Needs: you appear to be somewhat content with the quality of your social connections. Maslow speculates that discontentment in your connections with others stalls development. Whether the resolution of love needs comes with good relationships and/or learning to be more internally fulfilled is a question Maslow does not answer. But history would suggest many advanced minds had few relationships so this stage would seem to be more about resolving internal perceptions than as a call for measuring/achieving happiness by quality of external relationships.

Esteem Needs: you appear to have a medium level of skill competence. Maslow speculates that until you develop a good skill set (talent, trade, expertise that you excel at) you will be unable to develop further as an individual (much less reliably support yourself financially). This could mean being a good musician, painter, doctor, carpenter, etc.. On some level this stage also requires getting over the need to be appreciated for that skill, internally and/or externally. Even if you develop a skill, you still might be hung up on the need to have other people validate you or you might internally doubt yourself. Then again, you might not be appreciated, or appreciate yourself because your skills are still too undeveloped.

Self-Actualization: you appear to have an average level of individual development. Maslow speculates that individual development is the pinnacle of existence, this means pursuing a career/life that really fits who you are and want to be internally (not based on external and societal expectations). The self actualized person is free from superficial concerns and is internally honest.

to forgive (is/or) to forget

to forgive = to forget? saya tercenung sejenak ketika dihadapkan pada pertanyaan ini, yang sebetulnya pernyataan yang minta dikonfirmasi ulang. apakah memaafkan sama dengan melupakan? kok rasanya sulit sekali ya, dan bahkan tidak mungkin menurut saya, kecuali kesalahan yang harus dimaafkan itu dikubur dalam-dalam di unconsciousness sehingga tidak akan terbaca dalam psikodiagnostik apapun dan hanya bisa 'dipanggil' oleh ahli hipnotis yang kemampuannya paling tidak mendekati Tuhan yang pandai menyimpan dan 'mengorek' rahasia. atau mungkin saya terlalu mendramatisir karena saya tidak punya hati seluas itu untuk memaafkan, dalam arti juga melupakan?

taruhlah saya ditampar oleh seorang teman dan saya memutuskan untuk memaafkannya karena dia teman baik saya dan kami pun tetap menjadi teman baik. namun ketika masalah mulai timbul, bukan tidak mungkin saya mengungkit kembali peristiwa yang saya pikir telah saya lupakan. atau yang paling berat, kasus menyalahkan diri sendiri. ketika saya membuat kesalahan yang berakibat fatal pada diri saya, saya bisa memaafkan bisa tidak. taruhlah saya berhasil memaafkan, namun saat tertentu, ketika saya sedang bengong atau ada kejadian yang mirip, saya akan mengingat kesalahan saya kembali.

kognisi manusia tidak sebodoh yang kita kira. pada saat kita lupa, bukan berarti ingatan itu hilang, hanya tertumpuk-tumpuk saja atau sedang ruwet sehingga tidak bisa 'dipanggil'. kejadian yang kita harap dilupakan ternyata tidak hilang dari memori kita. oleh karena itu, sewaktu-waktu bisa kembali ke area kesadaran kita. kalau kita tetap mempertahankan memaafkan sama dengan melupakan, terima saja konsekuensi, tidak ada maaf di dunia ini. lagipula kalau seluruh kesalahan dilupakan, manusia cenderung terperangkap dalam lubang yang sama, tidak ada rambu-rambu. akibatnya lupakanlah pernah ada experencial learning. manusia statis-statis saja.

lalu apa itu memaafkan? menurut saya, memaafkan berarti berusaha mengembalikan kondisi emosi ke kondisi 'normal' dan mau melanjutkan hidup dengan objek yang dimaafkan itu. misalnya, kalau memaafkan teman, masih mau berteman. kalau memaafkan diri sendiri, masih mau hidup (benar-benar hidup). mau hidup merupakan bentuk memaafkan paling dasar, dan bisa dikatakan memaafkan membuat kita hidup. tentunya relasi yang dibangun adalah relasi yang positif, tidak destruktif, tetapi tetap waspada agar tidak terulang kembali kesalahan yang mirip (tidak digunakan kata sama, karena seiring waktu, tidak ada yang sama di dunia ini, minimal waktunya saja sudah berbeda). hubungan yang positif kadang tidak perlu sepositif sebelumnya. kalau dirasa lebih atau sama positif baik, ya dibuat demikian. kalau dirasa lebih baik, sedikit kurang positif tapi tetap positif, tidak salah juga.

buat saya sendiri, memaafkan dalam definisi ini lebih mulia daripada melupakan. melupakan punya misi untuk tetap menjaga relasi sebagaimana sebelumnya. namun memaafkan punya misi membuat relasi positif tetapi memberikan kesempatan untuk experencial learning sehingga manusia bisa hidup dengan lebih baik (menurut definisinya sendiri, dari hatinya sendiri).

friend

mengacu pada perkataan orang-orang di sekitar saya, teman itu penting. bahkan ada sebagian orang yang hidupnya tersentralisasi pada relasinya dengan sekelompok orang yang dianggap dekat. inilah yang mereka junjung, persahabatan. dimadu suka ataupun dirundung duka, bersama-sama akan saling mendukung dan selalu bersama. namun sampai kapan? apakah batas persahabatan itu? ataukah memang umurnya abadi? walau terpisah, hati tetap akan bertaut? saya takut jangan-jangan itu utopia. kalau tidak ada keindahan yang abadi (setidaknya selama manusia hidup), di mana seni kehidupan? jauh dalam hati, saya masih berharap di balik ego manusia, masih ada kebutuhan untuk menjalin relasi dengan orang lain dengan keintiman yang membuat hidup terasa lebih 'mudah', masih 'mengurung' persahabatan dalam hatinya.

kalung dan perbedaan

hari ini saya dapat kalung dari seorang teman yang biasanya berpakaian selayaknya gembel ke kampus. kaos belel dan celana pendek, dipadu dengan sandal atau sneakers merah yang sudah layak dimuseumkan. teman saya ini punya bakat seni yang bagus sekali, terutama dalam musik. dia jago main gitar, main flute, dan akhir-akhir ini sedang mengasah kemampuannya dalam obo, alat musik yang baru pertama kali saya dengar. kemarin hari, dia bersama bandnya, kalau tidak salah namanya jazzyphonic, diundang untuk perform di bali jazz, menginap di hotel bintang lima (Hard Rock). hari ini saya menyombongkan bandul merah yang ayah saya beli di kanada. rantainya sudah rusak, terpaksa saya 'jalin' dengan pita hitam kecil, supaya masih bisa dikalungkan di leher saya. tak dinyana, dia malah mengeluarkan sebuah kalung etnik dengan bandul marmer yang diukir dan dibentuk seperti bunga, dengan lubang berbentuk lingkaran di tengahnya. di atas bandul itu, dihiasi lagi dengan batu-batuan berwarna cokelat dan turquoise. kalung yang sangat indah, saya tak menyangka dia punya selera sebagus itu. saya pikir estetikanya cuma di musik. saya iseng memintanya dan tak disangka-sangka lagi, dia memberikannya pada saya. HORE!!!

memang terdengar bodoh untuk seorang perempuan di era emansipasi ini, ketika ia terlalu senang untuk hal-hal seperti ini. namun saya pikir perempuan suka keindahan dan saya yakin laki-lakipun demikian walaupun objeknya mungkin berbeda. saya suka dengan fashion, laki-laki (kebanyakan yang saya kenal) suka dengan mobil. sama-sama toh. kadang laki-laki tidak mengerti perempuan, begitupun perempuan dengan laki-laki. saya pikir hubungan antara laki-laki dan perempuan itu tidak harus didasarkan oleh saling mengerti, yang penting saling menghormati, toleransi. perbedaan itu ada di segala aspek kehidupan manusia, individual differences! menerima perbedaan itu sulit. saya sangat kagum pada suami istri yang usia pernikahannya lama, bahkan sampai ditinggal mati. tidak perlu masih mesra, masih berada dalam lembaga ikatan yang sama saja sudah hebat. makanya saya takut menikah.

PRaY YoU!

TUHAAAANNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!
Aku hidup di dunia edaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn!!!!

Entah harus bilang apa

"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan"*

I've got to do what I should do

Take a peeWear black eyeglasses
Smoking fucking weed
and LEAVE

Bye bye rotten jackass!

Wish you all the best and worst from hell!


*Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie: semangat perjuangan dekade muda

saya nonton film Gie. entah kenapa hari itu saya sangat memaksa diri untuk menonton Gie. saya ulangi, saya memaksa diri bukan memaksakan diri. saya dengan kesadaran penuh, tekad yang bulat, sungguh-sungguh ingin menonton film ini. mengesampingkan faktor saya memang ngefans dengan Nicholas Saputra, saya memang penasaran dengan film ini. film yang jarang dibuat oleh orang Indonesia. biasanya orang Indonesia sukanya bikin film cinta-cintaan melulu. padahal tipikal-tipikal saja. membosankan. yang paling saya tidak suka: 30 hari mencari cinta. 15 menit menonton saya sudah mengantuk. lagipula saya selalu tertarik dengan sosok aktivis muda, yang dengan idealismenya berani mengkritik dan mengusahakn perubahan terhadap hal-hal yang dianggapnya menyimpang dari kebenaran.

saya nonton film Gie dengan sahabat saya, Dessy di Megaria. Dessy sebenarnya harus rapat untuk acara di UKM-nya tapi dikadung sayang kalau kelewatan film Gie. Tadinya kami mau ke TIM saja tapi sayang, film Gie belum diputar. Megaria sudah. agak dongkol sih karena Megaria tidak terlalu cozy tempatnya, tidak bisa 'cuci mata' juga. lari-lari kejar bus, nunggu satu setengah jam. akhirnya saya nonton Gie.

adegan pertama dibuka dengan masa kecil Gie. saya langsung punya kesan Gie kritis, berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan. terlihat pada saat dia berani memprotes gurunya yang salah. dia suka membaca. hebatnya, bacaan yang tidak lazim untuk anak seumurnya. sudah tahu sastra, dari sastra Indonesia sampai sastra asing. adegan yang paling membuat saya terenyuh, saat Gie melihat seorang laki-laki (bukan pengemis) makan kulit mangga yang diambil dari tong sampah. tergerak oleh kemanusiaannya, Gie memberikan uangnya. kondisi yang amat menyedihkan. (dari buku Catatan Seorang Demonstran) padahal tak jauh dari situ Istana Negara dimana Paduka sedang bersenang-senang dengan istri-istrinya. kesetiaan pada prinsip sangat ia tunjukkan "lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan". ia tetap memegang idealismenya walaupun harga yang ia bayar sangatlah mahal. orang-orang memang mengagumi ide-idenya tetapi mereka menolak ketika Gie hendak masuk dalam lingkaran mereka.
sekarang saya sedang membaca buku Catatan Seorang Demonstran, pemberian tante saya. sayang, kemarin bukunya terlipat. jadi lecek sedikit. sedikit menghibur diri, tak apalah, yang penting masih bisa dibaca. awal september nanti, ada diskusi dan pemutaran film Gie. di situ akan ada Herman O Lantang, kawan seperjuangan Gie. saya mau menulis panjang, tetapi saya lupa detail-detailnya. baiklah saya teruskan nanti setelah acara bedah buku dan film, dan tentunya sebelum itu, saya juga sudah harus selesai membaca buku harian Gie.


THiS Is FaBuLouS! Posted by Hello

Shoes Stuff

Seberapa penting sih arti benda penyangga atau alas kaki yang notabene 'terinjak' dan kotor (minimal bagian dasarnya). Buat saya, sepatu sangatlah berharga, penting! Sepatu memberikan kontribusi yang sama seperti apparel dalam hal fashion. Buktinya saya patah hati ketika melihat sepatu putih saya lecet di bagian haknya... Hiks...

Jia you!

UAS sudah berlalu berminggu-minggu yang lalu dan menjelang berakhirnya masa KB (tanpa T, karena tidak bisa tambah mata kuliah) semester padat, nilai-nilai akhir yang akhirnya akan digenerasikan ke dalam IPS dan IPK ditempel di papan pengumuman gedung C lt. 4 dan 5. Berbagai macam reaksi muncul, ada yang senang, ada yang sedih dan menyesali segala sesuatunya walau mungkin tidak ada yang perlu disesali, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang marah-marah yang kadang tak jelas tertuju pada siapa. Sayangnya, ternyata di antara teman-teman saya, banyak yang turun nilainya. Bahkan ada satu seksi yang mayoritas tidak lulus, hanya 16 dari 45 mahasiswa yang lulus, dalam suatu mata kuliah. Sensasional, menurut saya dan menimbulkan tanda tanya, yang mana yang salah? dosen atau mahasiswanya? Entahlah. Saya tidak berani menyimpulkan walau penasaran karena saya tidak mengalaminya sendiri (bukan seksi saya) dan kalaupun saya bertanya, saya ragu karena jawaban yang mungkin saya dapat sudah terkontaminasi oleh subjektivitas.

Di antara mahasiswa-mahasiswa yang sedih dan menyesal karena turun nilainya, banyak yang sebenarnya mendapat nilai yang cukup baik. Katakanlah minimal B. Wah, di mata orang lain, nilai B sudah cukup memuaskan. B = Baik. Akan tetapi untuk orang-orang yang need achievementnya tinggi, nilai B seperti nilai C atau yang lebih ekstrim seperti nilai D atau E. Kalau begitu, mungkin pelabelan seperti di buku rapor SD - SMA (bahwa A adalah amat baik, B baik, C cukup, dst) memang tidak tepat karena terkandung, sekali lagi, unsur subjektivitas. Ternyata banyak kepentingan individu dalam rentang lima huruf tersebut.

Tendensi obsessive compulsive? Rasanya belum. Perfeksionis? Ya. Perfeksionis mutlak dalam arti memang perfeksionis tulen? Mungkin. Perfeksionis karena kondisi yang memaksa? Bisa juga.

Namun kejadian ini sedikit menjadi permenungan untuk saya. Seberapa jauh kita harus menetapkan kriteria untuk menggolongkan yang baik dan yang buruk? Bila melihat teman-teman saya, rasanya ada beragam sekali hal-hal demikian. Mungkin kita harus mempertimbangkan kepentingan-kepentingan apa yang harus diperjuangkan di dalamnya hingga kriteria itu benar-benar menjadi benar-benar milik diri dimana ketika tercapai ada rasa puas yang besar. Rasanya mustahil untuk menyeragamkan seluruh kriteria orang-orang.

Namun banyak orang yang tidak memahami hal ini. Mereka cenderung menilai orang lain berdasarkan kriteria dirinya sendiri. Bukannya tidak boleh, bahkan bisa dimaklumi karena merupakan reaksi otomatis setiap manusia. Hanya janganlah terlalu eksesif sehingga mengganggu orang lain tersebut. Saya percaya setiap orang punya kebebasan untuk menentukan dirinya. Begitu pula dalam nilai, setiap orang memiliki kemampuan dan potensi yang beragam dan oleh karenanya parameter baik dan buruknya pun berbeda.

Oleh karena itu, saya sebisa mungkin menghindari rasa kasihan pada orang lain. Meskipun tetap terbersit dalam diri saya, saya berusaha untuk tidak terlalu menunjukkannya. Kata-kata belasungkawa "wah... sayang ya..." cukup saya hindari. Saya lebih suka diam dalam saat seperti ini. Kalaupun saya harus berkata sesuatu, saya lebih memilih untuk langsung memberikan solusi. Entahlah mungkin orang lain menganggap saya dingin dan tidak peduli tetapi saya sendiri ketika mengalami hal itu dan dikasihani, saya merasa tidak nyaman karena menurut saya, rasa kasihan memberikan label inferioritas pada seseorang. Parahnya, mereka mencari kenyamanan dengan terlalu bergantung pada orang lain, dalam arti secara berlebihan. Bisa mengeluh terus-menerus sampai meminta orang lain untuk mengerjakan urusannya. Sebagai hasilnya, orang itu tidak akan berkembang.

Dua semester berlalu dengan cepat, dan sebentar lagi semester ketiga. Saya berharap kesuksesan selalu mengiringi langkah kita semua. Ciao! (mesti ngerjain tugas Stat II nih!) :)

Traumarama (Trauma Drama?)

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap orang punya masa lalu, entah baik entah buruk. Kebanyakan orang ingin menutupi masa lalunya yang gelap karena pada dasarnya manusia makhluk sosial dan tentunya untuk dapat diterima secara sosial dengan baik, manusia cenderung berusaha untuk mempresentasikan dirinya dengan baik, flawless (tanpa cacad). Cara untuk menutupinya bermacam-macam, dengan diam saja dalam arti tidak berbagi dengan orang lain atau dengan membuat cerita baru, termasuk skenario yang benar-benar rekaan atau dengan penambahan, pengurangan, atau penggantian detail sana-sini agar tampak lebih baik. Namun sebagaimanapun orang ingin melupakan masa lalunya, masa lalu tidak akan pernah hilang. Masa lalu membentuk diri manusia, termasuk trauma-trauma yang dialaminya. Freud, pendiri aliran psikoanalis, menekankan pentingnya masa kecil (childhood) dalam menentukan pembentukan pribadi seseorang. Saya sedikit banyak setuju dengan hal ini, walaupun tidak 100%. Saya masih percaya bahwa dalam diri manusia, ada kekuatan tersembunyi yang membuatnya benar-benar dapat berubah, yaitu ketika manusia berani berhadapan dengan dirinya sendiri, termasuk bagian yang kelam.

Jumat kemarin, saya dan sahabat saya berbagi mengenai bagian masa lalu yang kami rasa paling menyakitkan dan ingin kami lupakan. Setiap orang memang punya ketraumaan masing-masing dan saya termasuk orang yang selalu ingin lari dari ketraumaan itu. Saya tidak pernah mau membicarakannya dengan siapapun. Walaupun ya, saya hanya memberikan sedikit detail. Orang pertama yang saya beri tahu dengan sedikit lebih mendetail adalah orang yang baru saya kenal selama kira-kira setahun tetapi saya sudah begitu mempercayainya dan saya merasa aman di dekatnya. Pendek kata, saya menganggapnya sebagai kakak saya, dan saya percaya bahwa ia mampu melindungi saya atau setidaknya memberikan rasa aman ketika sewaktu-waktu saya harus berhadapan dengan ketraumaan itu. Orang kedua, sahabat saya, karena saya memang ingin berbagi dengannya. Jauh dalam lubuk hati saya, saya ingin orang yang saya sayangi mengenal saya apa adanya. Saya menyadari sebesar apapun keinginan saya untuk mengubur masa lalu saya itu dalam-dalam, tetap saja ada di situ dan dengan caranya sendiri, mempengaruhi diri saya, terutama dalam hubungan interpersonal. Saya merasa mungkin dengan berbagi, saya dapat meringankan sedikit beban saya. Dan ya, ternyata itu belum cukup, berbagi berbeda dengan menerima dan berhadapan langsung. Saya belum bisa menghadapi ketraumaan saya.

Tentunya saya pernah mencoba untuk menerimanya dengan hati lapang dan berusaha untuk berubah. Namun saya selalu gagal. Ketika bayang masa lalu menghantui, saya lari darinya dan saya mencari alasan-alasan lain untuk menutupi ketakutan saya. Akan tetapi sampai kapan saya harus berlari? Toh, ketika saya berlari, trauma saya masih melekat pada diri saya. Hanya karena saya kencang berlari, trauma itu tidak terlalu terasa (padahal sebenarnya memeluk saya dengan sangat erat). Entahlah, semua orang perlu waktu dan waktu memang diciptakan untuk memberi orang suatu kesempatan, untuk memilih, untuk menentukan dirinya sendiri. Namun waktu selalu ada batasnya dan ada saat dimana manusia harus segera memutuskan. Buat saya, rasanya saya masih perlu waktu walau entah kapan expired.
Referensi Film: Pelangi Di Atas Prahara

Big Yellow Taxi

Counting Crows feat. Vanessa Carlton

They paved paradise and put up a parking lot
With a pink hotel, a boutique, and a swingin' hot spot
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise and put up a parking lot

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

They took all the trees, and put em in a tree museum
And they charged the people a dollar and a half to see them
No, no, no
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise, and put up a parking lot

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

Hey farmer, farmer, put away your DDT
I don't care about spots on my apples,
Leave me the birds and the bees
Please
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise and put up a parking lot
Hey now, they paved paradise to put up a parking lot
Why not?

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

Listen, late last night, I heard the screen door slam
And a big yellow taxi took my girl away
Don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise and put up a parking lot
Well, don't it always seem to go
That you don't know what you got 'til it's gone
They paved paradise to put up a parking lot Why not?
They paved paradise and put up a parking lot
Hey hey hey
Paved paradise and put up a parking lot

Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop

I don't wanna give it
Why you wanna give it
Why you wanna giving it all away
Hey, hey, hey
Now you wanna give it
I should wanna give it
Now you wanna giving it all away

Hey, paved paradise to put up a parking lot


every woman's right Posted by Hello

personality test

http://similarminds.com

Global Personality Test Results

Extraversion 50%
Stability 33%
Orderliness 43%
Empathy 43%
Interdependence 50%
Intellectual 76%
Mystical 50%
Artistic 83%
Religious 30%
Hedonism 16%
Materialism 50%
Narcissism 50%
Adventurousness 76%
Work ethic 50%
Self absorbed 70%
Conflict seeking 56%
Need to dominate 50%

Romantic 50%
Avoidant 50%
Anti-authority 76%
Wealth 50%
Dependency 30%
Change averse 56%
Cautiousness 76%
Individuality 83%
Sexuality 36%
Peter pan complex 36%
Physical security 70%
Food indulgent 23%
Histrionic 56%
Paranoia 70%
Vanity 70%
Hypersensitivity 70%
Female cliche 76%

Stability results were moderately low which suggests you are worrying, insecure, emotional, and anxious.

Orderliness results were moderately low which suggests you are, at times, overly flexible, improvised, and fun seeking at the expense of reliability, work ethic, and long term accomplishment.

Extraversion results were medium which suggests you are moderately talkative, outgoing, sociable and interacting.


trait snapshot:

paranoid tendencies, irritable, anxious, fidgety, dependent, worrying, emotionally sensitive, prone to regret, depressed, second guesses self, somewhat fragile, dislikes change, prefers organized to unpredictable, suspicious, phobic, craves attention, not a risk taker, low self control, very sensitive to criticism, unadventurous, does not make friends easily, defensive, obsessive, low self esteem


Get high with DKNY! Posted by Hello

Rrr...

Pernah merasa emosi, marah, kesal bertubi-tubi sampai mencapai level yang hampir unbearable? Kadang ada penyebabnya tetapi bisa juga tanpa sebab (atau kita yang tidak tahu sebabnya?). Biasanya masing-masing orang punya cara yang berbeda untuk mengatasi keadaan ini walaupun hanya untuk sementara. Saya sendiri punya beberapa opsi, dari yang terdengar baik-baik saja sampai yang bikin buntung. Kadang saya mengantuk, lalu tertidur dan bangun dengan perasaan kesal juga. Setidaknya ada jeda sebentar. Versi berikutnya, belanja seperti yang baru saja saya lakukan. Menyusuri department store dan butik-butik, hunting benda-benda atribut fashion. Tidak segan menghamburkan uang. Senang, namun alhasil saya harus berhadapan dengan kemiskinan sekitar seminggu. Kondisi ini tidak terlalu membuat saya stress. Stress muncul kalau saya sedang kesal, ingin belanja, tetapi tidak ada uang. Saya juga akhir-akhir ini menambahkan opsi baru, hasil usulan teman saya, yang terdengar lebih 'terpuji'. Berdoa lalu mengambil secarik kertas dan menulis apa saja untuk mengekspresikan perasaan. Biasanya saya membuatnya dalam bentuk puisi. Entah mengapa puisi dapat menuangkan perasaan saya yang rumit sekalipun hingga kadang-kadang saya tidak mengerti dengan jelas apa yang saya maksud. Mungkin unconsciousness mengambil perannya di sini. Yah cukup melegakan daripada saya harus mengangkat telepon, menghabiskan waktu berjam-jam, membuang uang untuk sesuatu yang tidak 'real', dan menganggu teman. Sisi psikologis untuk curhat bisa dipenuhi Tuhan, keyakinan bahwa Dia ada dan selalu mendengar. Cukup ok khan? Bagaimana dengan anda?